News Ticker

Kesaksian Dari Aleppo: Militan Bersenjata Hancurkan Kami

22 Januari 2016

LATAKIA, ARRAHMAHNEWS.COM – Sebelum 2011, populasi Latakia terdiri di 1,3 juta jiwa, namun ada lebih dari 1,6 juta orang melarikan diri ke kota tersebut semenjak perang Suriah dimulai. Warga dari banyak kota di Suriah, termasuk Hama, Homs, Idlib dan Raqqa, melarikan diri ke Latakia, yang paling besar, hampir 700.000 orang pengungsi Lattakia, berasal dari Aleppo.

Sputnik yang mewawancarai para pengungsi itu melaporkan bahwa banyak kisah yang telah diceritakan para pengungsi tersebut mengenai kondisi mereka. Hampir kesemua cerita menceritakan hal yang serupa.Ada yang berhasil mendirikan usaha sendiri di tempat baru, atau jika tidak, beberapa berhasil tetap hidup dengan mengandalkan bantuan kemanusiaan karena mereka tidak memiliki anggota keluarga yang mampu untuk bekerja. (Baca juga: Wajah Bahagia Pengungsi Suriah Pulang Kampung, Terima Kasih Assad :Video)

“Kami datang ke sini di tahun 2012. Kelompok-kelompok bersenjata telah menyerang toko tempat saya bekerja dan mencuri semua uang. Saya tidak ada di rumah ketika mereka datang ke rumah dan menculik tiga anak saya. Kami membayar uang tebusan dan mampu menyelamatkan mereka, terima kasih Allah , mereka berada di sini di samping saya sekarang. Saya tidak tahu apa yang terjadi terhadap rumah saya, ” ungkap Abdulkadir dari Aleppo kepada Sputnik. Ia menambahkan bahwa ia selalu berdoa agar bisa kembali pulang ke kampung halamannya.

Muhammed Faruk meninggalkan rumahnya di lingkungan Kelassa kota Aleppo di tahun 2012. “Kami meninggalkan segalanya. Rumah kami, milik kami, pekerjaan kami. Ada bentrok kekerasan di Kelassa, kami mengerti bahwa kami harus lari. Salah satu anak saya menyelamatkan saudara-saudaranya, pada malam hari kami berangkat dan menetap di sini Dua rumah saya hancur, saya tidak tahu apa yang terjadi pada rumah itu. Yang paling penting adalah bahwa lima anak-anak saya ada bersama saya,” kata Faruk.

Mahmud Denes terluka serius oleh pecahan peluru dan menjadi lumpuh. Ia membutuhkan perawatan, dan telah tinggal di Latakia selama empat tahun tanpa pekerjaan. Denes memiliki tiga anak. (Baca juga: Pengungsi Suriah Kembali Pulang Ke Selatan Aleppo Setelah Terusirnya Para Teroris)

“Kelompok-kelompok bersenjata memasuki hidup kami dan memporak prandakannya, menghancurkan rumah-rumah. Empat setengah tahun yang lalu kami datang ke sini dengan 5 anggota keluarga saya. Setiap bulan saya menghabiskan 15 hari di sini dan 15 hari di Aleppo. Saya tahu itu sangat berbahaya pada saat ini tetapi tidak ada listrik di Aleppo dan saya seorang pelayan masyarakat, orang-orang membutuhkan bantuan kami,” ungkap Selahaddin Ziyad, seorang pekerja listrik.

Seorang wanita yang berasal dari pinggiran Aleppo yang berbatasan dengan Latakia mengatakan bahwa tak seorang pun di keluarganya bisa menghasilkan uang, suaminya sakit parah. Setelah rumah mereka dibakar, tidak tersisa apa-apa untuk mereka, dan suaminya menderita serangan jantung, membuatnya tidak bisa bekerja. Menurutnya, organisasi kemanusiaan mengirim bantuan setiap dua atau tiga bulan. (Baca juga: Rusia Pukul ISIS Bisa Kembalikan 800.000 Pengungsi Suriah Pulang Kampung)

“Orang-orang bersenjata datang ke rumah kami ketika mereka tahu bahwa anak-anak saya adalah tentara, dan mulai mengancam kami. Kami tidak bisa lagi tetap tinggal disana. Kami kemudian diberitahu bahwa rumah kami sudah dihancurkan,” kata pengungsi lain.

Seorang gadis kecil mengatakan ia berada di kelas tiga di sekolah lokal. Ia mengatakan bahwa ia memiliki teman-teman baru, tapi ia masih berharap untuk kembali ke rumah.

Orang-orang mulai meninggalkan rumah mereka di Aleppo pada pertengahan 2012, sedangkan puncak migrasi berlangsung pada 2013-2014. Sebagaimana yang pengungsi lain lakukan, mantan para penduduk Aleppo itu jika tidak mencari kerja dan menyewa rumah maka mereka tinggal di sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit dengan dana yang disediakan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan.

Sekitar 20.000 pengungsi dari Aleppo tinggal di sebuah kota kecil Ras al Basit, yang terletak antara kota Latakia dan Kesab. Beberapa dari mereka tinggal di rumah-rumah dan barak milik serikat pekerja lokal.

Suriah telah terperosok dalam perang sejak 2011, dengan pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar Assad melawan kelompok-kelompok ekstremis seperti Daesh (ISIS), dan kelompok teror dukungan asing lainnya.

Perang yang sedang berlangsung menurut perkiraan PBB telah memaksa lebih dari empat juta warga Suriah meninggalkan negara mereka dan lebih 7,6 juta menjadi pengungsi di dalam negeri sendiri. (ARN)

About ArrahmahNews (12494 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: