News Ticker

ISIS Dalam Permainan Sinis Barat Untuk Lindungi Zionis

24 Januari 2016

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Akar teroris Daesh (alias ISIS / ISIL / IS atau Takfiri) dapat ditelusuri sampai ke agenda American Zionist neo-cons‘, untuk mengamankan wilayah demi melindungi negara Israel.

Dalang-Teroris

Untuk memperjelas masalah ini, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah mendiagnosa dengan benar inti permasalahan itu sendiri. Ini adalah modus yang paling disukai Barat dalam melakukan operasi senyapnya di Timur Tengah, karena teroris Takfiri telah menjadi berita utama selama beberapa tahun hingga sekarang. (Baca juga; CIA Danai ISIS Untuk Jalankan Agenda Zionis

 )

Poin yang harus diingat adalah bahwa elit penguasa Barat tidak tulus dalam mengeluarkan pernyataannya. Mereka tidak pernah ingin menyelesaikan masalah teroris di Timur Tengah. Apakah mereka serius menghadapi Takfiri? Ada sebuah bukti tak terbantahkan yang telah membuktikan bahwa Barat dan khususnya badan-badan intelijen mereka memiliki hubungan erat dan terlibat dalam mendukung teroris Takfiri di Timur Tengah, bahkan saat teroris mengklaim melawan Barat.

Propaganda Barat memiliki tujuan yang sangat spesifik. Kebijakan yang dipimpin AS ini (dengan tujuan melindungi rezim Zionis) bersifat konstan, yakni mengobarkan perang tak berujung. Selain itu, untuk mem-banking industri militer, mereka harus menciptakan perang karena sangat menguntungkan. Meskipun ribuan atau jutaan orang tewas, karena kehidupan manusia tidak memiliki nilai bagi mereka, apalagi jika orang-orang itu berkulit coklat seperti sawo atau berkulit gelap seperti kopi tubruk. (Baca juga; GEMPAR! Pengakuan Jenderal Israel, MOSSAD Bekerjasama dengan ISIS )

Apa yang telah berlangsung di Suriah selama hampir lima tahun, dapat ditelusuri jejaknya 5 atau 10 tahun sebelumnya. Benar, konspirasi menggulingkan Presiden Bashar Assad dimulai sejak maret 2011 di sebuah kota kecil bernama Daraa, bukan Damaskus, Aleppo atau Lattakia. Sejarah mencatat revolusi selalu dimulai dari desa. Craig Whitlock di surat kabar Washington Post (17 April 2011) menulis demikian, “Berdasarkan dokumen Wikileaks yang dikeluarkan tahun 2010, terungkap bahwa AS telah membiayai dan mendanai kelompok-kelompok oposisi Suriah sejak tahun 2005.

Untuk memahami akar masalah ini, kita harus kembali pada kelompok neokonservatif yang ada dalam dua rezim, yakni Bush senior dan Bush Jr. Otak di balik neokonservatif ini adalah Leo Strauss dari Universitas Chicago. Strauss menyerukan penggulingan setiap pemerintah yang tidak melayani kepentingan Amerika. Operasi ini dilakukan secara senyap, tidak gaduh seperti kegaduhan yang biasa terjadi di negeri kita. Sebaliknya operasi itu dibingkai dengan demokrasi ala Amerika, yang berarti “merubah rezim adalah suatu kemajuan dalam menjalankan nilai-nilai demokrasi”. Menurut Strauss, ini merupakan metode terbaik untuk memperkuat keamanan (Amerika Serikat) dan perdamaian, serta kapan dan dimanapun dapat diterapkan”.

Sejumlah ideolog seperti Strauss terus bermunculan, diantaranya adalah Paul Wolfowitz, Richard Perle, David Wurmser, William Kristol dan Douglas Feith. mereka adalah neokonservatif Zionis yang bergabung dengan orang-orang seperti Dick Cheney, Donald Rumsfeld dan John Bolton. Beberapa dari mereka pernah bertugas di Ronald Reagan dan George Bush H rezim dan kemampuan membunuh mereka dimanfaatkan betul ketika Bush Jr menjadi presiden.

Dibalik-Teroris-ISIS

Tujuan utama Zionis adalah untuk melayani kepentingan Tel Aviv, bukan kepentingan AS. Mereka, bagaimanapun berhati-hati dalam pernyataan mereka, seolah-olah mereka berbagi minat yang sama dengan AS.

Perle, yang sering disebut sebagai ‘pangeran gelap’. Pada tahun 1996 menyiapkan dokumen kebijakan untuk Benjamin Netanyahu untuk mengambil alih posisi Perdana Menteri Israel. Perle telah menjabat sebagai wakil sekretaris di Pentagon selama rezim Reagan. Dia muncul lagi ketika Bush Jr menjadi presiden dan diangkat sebagai penasihat militer di Gedung Putih. Selama dengar pendapat dengan Senat pada 8 November 2002 menjelang peluncuran perang AS, Perle mengatakan bahwa invasi AS ke Irak tidak akan berbiaya mahal dan tidak lebih dari $ 60 miliar, dan seluruh biaya itu akan ditanggung oleh minyak Irak, namun biaya sebenarnya yang dikeluarkan mencapai $ 3 Triliun. (Baca Juga; 3 Dajjal ‘AS, Saudi, Israel’ Kecil Dunia)

Target Zionis adalah rezim Irak Saddam Husain, yang mengakhiri perangnya dengan Iran pada bulan Agustus 1988. Langkah Saddam menjadikannya memiliki persediaan besar senjata mematikan, termasuk senjata kimia dan biologi yang disuplai Barat untuk menghancurkan revolusi Islam Iran. Namun, Ia gagal dalam misi itu. Tetapi sekarang ia terlihat sebagai ancaman bagi Zionis. Saddam harus disingkirkan dan Irak harus hancur. Kemudian ia terpikat menyerang dan menduduki Kuwait pada Agustus 1990. Sementara AS memanfaatkan situasi ini sebagai dalih untuk menyerang dan menghancurkan Irak pada Januari 1991. Setelah itu rezim Irak dikenakan sanksi yang mengakibatkan kematian sekitar satu juta orang, di antara mereka yang tewas 586.000 adalah anak-anak pada bulan Mei 1996, menurut data statistik yang dikeluarkan oleh PBB.

Bahkan kekejaman yang tak terbayangkan, seperti tidak memuaskan nafsu Washington untuk terus melakukan pembunuhan, pembantaian dan penganiayaan. Setelah serangan WTC 9/11 AS melalui Bush Jr segera bergerak dan mengabaikan data intelijen yang menyebutkan bahwa 11 dari 19 pembajak adalah warganegara Saudi. AS terus mencari dalih untuk menyerang Irak. Rencana Zionis untuk menghancurkan Irak berada di jalur. Orang-orang seperti Perle dan Wolfowitz serta Cheney dan Rumsfeld berada di garis depan mendorong untuk menyerang Irak dengan membuat tuduhan palsu bahwa Saddam terkait dengan al-Qaeda dan Osama bin Ladin, serta kepemilikan senjata kimia dan biologi.

Mari kita perjelas; Saddam adalah orang jahat dan seorang diktator brutal, tapi cara AS dan koalisi yang membenarkan serangan mereka di Irak adalah skandal. Panglima perang di Pentagon dan Gedung Putih terus membuat propaganda yang menghubungkan Saddam dengan al-Qaeda. Ketika rencana ini tidak berhasil, momok senjata kimia dan biologi dibesarkan. Tujuannya adalah untuk tidak menemukan kebenaran, tapi untuk membenarkan setiap dalih yang akan memungkinkan AS memiliki alasan untuk menyerang dan menghancurkan Irak.

Analisa ini menjadi jelas ketika Jenderal Wesley Clark mengunjungi Pentagon setelah serangan 9/11. Dalam sebuah wawancara dengan Democracy pada tanggal 7 Maret 2007, ia mengungkapkan bahwa seorang jenderal di Pentagon mengatakan kepadanya AS telah memutuskan untuk perang dengan Irak. Kemudian Pentagon menunjukkan Clark daftar tujuh negara yang akan menajdi target AS selanjutnya, diantaranya; Suriah, Lebanon, Libya, Sudan, Somalia, dan Iran. Tujuan utama adalah penghancuran Republik Islam Iran untuk mengamankan Zionis Israel.

Sudan, Somalia dan Libya telah hancur. Zionis menyerbu Lebanon pada Juli-Agustus 2006 menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerugian senilai $ 11000000000 dari kehancuran infrastruktur, tapi plot untuk menghancurkan Hizbullah sekutu penting Iran di Timur Tengah gagal.

Apa yang saat ini sedang berlangsung di Suriah adalah bagian dari rencana yang sama, di mana dokumen 1996 mengurai rencana tersebut dengan rinci. Bagian pertama dari rencana itu adalah mengusir pasukan Suriah dari Lebanon. Untuk memuluskan rencana ini, maka Rafik Hariri harus dikorbankan (dibunuh) pada 14 Februari 2005. Kemudian Saad Hariri anak Rafik Hariri diorbitkan, dan menuduh Suriah dan Hizbullah bertanggung jawab atas pembunuhan ayahnya. Situasi pun semakin memanas hingga berakhir dengan penarikan tentara Suriah dari Lebanon.

Sangat menarik untuk dicatat bahwa ketika kelompok oposisi Suriah secara resmi terkooptasi ke dalam rencana AS untuk mengacaukan Suriah. Sekali lagi, kelompok oposisi Suriah berkoordinasi dengan Richard Perle, Yordania dan dan Turki untuk jalankan plot jahat ini. Kemudian tidak mengejutkan jika akhirnya Arab Saudi, Qatar dan UEA berada di garis depan mendukung teroris Takfiri, karena mereka memang doyan dengan kekerasan dan sektarianisme. (Baca juga; Sejumlah Besar Paket Bantuan Saudi Ditemukan Di Markas-markas Teroris Suriah )

Dokumen tersebut juga menyebutkan dengan jelas apa yang saat ini sedang berlangsung di Suriah. Dokumen itu menyebutkan, “Yang paling penting Israel memiliki kepentingan di Suriah. Turki dan Yordania mengamankan aliasnsi suku dengan suku-suku Arab yang menyeberang ke wilayah Suriah, dan bermusuhan dengan elit penguasa Suriah. Yordania menjadi negara pertama (yang berbatasan langsung dengan Suriah) memasukkan para teroris ke Suriah. Lalu dikuti Turki yang membiarkan perbatasannya menjadi pintu surga bagi teroris yang ingin menyeberang ke Suriah, dan mendukung teroris Takfiri dengan dalih “melindungi” Turkmen Suriah. Kemudian Arab Saudi, Qatar dan UEA bagai biduan langsung tancap gas memberikan dukungan logistik dan persenjataan kepada para teroris. (Baca juga; Dokumen Rahasia Ungkap Turki Beri Layanan Informasi Intellijen Pada ISIS )

erdogan-isis

Dalam dokumen mereka tahun 1996, neokonservatif telah mengusulkan strategi berikut, “Israel dapat membentuk lingkungan strategis, bekerja sama dengan Turki dan Yordania, dengan melemahkan atau bahkan menghancurkan Suriah. Upaya ini bisa fokus setelah menghapus Saddam Hussein dari kekuasaan di Irak. Mereka bahkan berbicara tentang menciptakan kekacauan dan mengendalikannya untuk keuntungan Israel.

Panglima perang Washington menyadari semua ini atau mereka percaya orang lain terlalu bodoh untuk tahu ini? Ketika Presiden Barack Obama dan para pejabat Amerika lainnya berbicara tentang memerangi teroris Takfiri, mereka berbohong terang-terangan. Sesungguhnya Takfiri adalah ciptaan mereka dengan melakukan pekerjaan kotor mereka. (ARN/AU/Yusuf Dhia-Allah/Crescent)

About ArrahmahNews (12505 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: