News Ticker

“Rusia” Mimpi Buruk Recep Tayyip Erdoğan

27 Januari 2016

ANKARA, ARRAHMAHNEWS.COM – Sekarang menjadi jelas, siapa memihak siapa dalam krisis Suriah. Kelompok-kelompok teroris bersenjata semakin terpojok di berbagai daerah dan desa, baik yang didukung Turki maupun yang didukung Saudi di barat laut Suriah. Tentara Suriah dan sekutunya yang didukung oleh serangan udara Rusia membuat militan kocar-kacir, dan menaklukan kota-kota dan desa-desa dari cengkeraman ISIS atau kelompok teroris lainnya. [Baca juga; Diburu Tentara Suriah, Ratusan Teroris Lari Ke Turki]

Sejak sukses di Lattakia, teroris kembali ofensif pada bulan November 2015, Ankara dan sekutunya berusaha untuk melemahkan kampanye udara Rusia. Tidak hanya itu, Washington dan propaganda media barat berulang kali menuduh Rusia hanya membom “Pemberontak Moderat” dan membiarkan ISIS.

Tentu saja, mereka tidak pernah bisa memberikan bukti apapun atas klaim murahannya itu, dan tidak pula mereka bisa membuktikan apakah “pemberontak moderat” benar-benar ada. Washington dan beberapa media mencoba untuk menunjukkan peta yang berbeda di mana serangan udara Rusia berlangsung, untuk memperkuat klaim bahwa Rusia tidak menargetkan ISIS. [Baca juga; Media Barat Palsukan Keterangan Pers Kementerian Luar Negeri Rusia]

Kurang informasi dengan mudah akan termakan propaganda busuk ini, karena sebagian besar orang melihat konflik Suriah sangat membingungkan dan kompleks. Tapi bagi orang yang mengikuti perang ini, nampak jelas bahwa peta yang ditunjukkan Washington berada di daerah yang dikendalikan oleh Al-Qaeda. Di sisi lain, Erdogan terus mendorong invasi Suriah dengan beberapa dalih seperti; “menciptakan zona penyangga di Suriah utara” dan “membela minoritas Turkmen.”

Pada akhir November, jet Turki menembak jatuh sebuah jet Rusia yang terbang di atas wilayah Suriah. Peristiwa ini, kemudian berubah menjadi krisis diplomatik antara Ankara dan Moskow. Satu-satunya masalah adalah bahwa pesawat Rusia masih di wilayah udara Suriah. Tapi tentu saja, dalam pandangan Presiden Turki Erdogan, Suriah utara sekarang wilayah udara Turki. Benar jika Vladimir Putin mangatakan “Apa yang terjadi hari ini adalah kami ditusuk dari belakang oleh kaki tangan teroris (Turki). Saya tidak dapat mendeskripsikannya dengan kata-kata lain,” dikutip dari laman Reuters, Selasa (24/11/2015). [Baca juga; Analis; Turki Sengaja Lakukan Penyergapan Bomber Rusia Su-24M]

Tanggapan Turki tidak rasional, agresif dan bermusuhan. Alih-alih segera memanggil rekan-rekannya di Rusia dan mencoba untuk menyelesaikan insiden secara diplomatis, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu justru menyerukan pertemuan mendesak NATO. Apakah dia mengharapkan konfrontasi lebih lanjut? Ini bersama dengan penolakan Turki untuk meminta maaf atas insiden itu. Hal ini semakin memperjelas siapa Turki sebenarnya dan berpihak kepada siapa?

Sejak insiden pada 24 November, Rusia merespon dengan mengekspos keterlibatan Ankara dengan terorisme, terutama ISIS. Rusia bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan insiden itu terulang kembali dengan memperkuat posisi mereka dengan beberapa peralatan pertahanan berat untuk melawan ancaman Turki, seperti penempatan S-400.

Jelas, rencana Erdogan membenturkan Rusia dengan NATO gagal total, karena sebagai sekutu NATO Ankara belum tertarik berkonfrontasi langsung dengan Rusia. [Baca juga; Langkah NATO Dukung Turki Tunjukkan AS Tak Mampu Kendalikan Aliansinya]

Baru-baru ini serangan teroris kembali gencar ke Latakia, setelah sebelumnya terputus dari beberapa bala bantuan yang sangat dibutuhkan. Pertanyaannya, dari mana mereka datang? Bukankah Latakia berbatasan langsung dengan Turki?

Erdogan memutuskan untuk melakukan apa pun, untuk menghentikan upaya konstan Suriah dan Rusia dalam memerangi teroris dukungannya. Ini berarti kita dapat mengharapkan upaya Ankara dalam menyabotase kemajuan Suriah dan Rusia dalam melawan terorisme.

Pekan lalu, Maria Zakharova Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, menyatakan bahwa para teroris masih mengalir dari Turki ke Suriah, tentu untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan menjelang pembicaraan damai Suriah pekan ini. [Baca juga; Kemenlu Rusia: Teroris Suriah Dapatkan Bala Bantuan Serius dari Turki]

Akhir pekan ini, Ankara menuduh Rusia membuat pangkalan udara di kota timur laut Suriah, Qamishli. Erdogan mengancam Rusia lagi dengan mengatakan “Kami tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi di Suriah utara”. [Baca juga; Rusia Bantah Tuduhan Turki Atas Pangkalan Udara di Al-Qamishli]

Ini masih harus dianalisa lagi, apa langkah selanjutnya yang akan diambil Erdogan, karena ia dikenal sebagai seorang Presiden yang tidak menentu dan sembrono.

Apapun pilihannya, konfrontasi antara Rusia dan Turki tampaknya tak terelakkan. Dengan pembebasan kota Salma dan Al-Rabia di Barat Laut Suriah, Provinsi Latakia, dari militan Front Al Nusra dan Harakat Ahrar al Sham. Kami yakin bahwa Erdogan dan NATO tidak akan mundur dan membiarkan hal itu terjadi. [Baca juga; Turki Cemas…! Ratusan Tentara Rusia Menetap di Pangkalan Militer Suriah]

Serangan Suriah-Rusia jelas bahwa mereka akan terus maju dan membebaskan daerah-daerah yang lebih banyak lagi dari teroris ISIS, Al-Nusra, Ahrar Al-Sham, Jaish Al-Islam dan lainnya.

Bola panas ada dalam genggaman Ankara, yang akan membuat mimpi buruk Recep Tayyip Erdoğan menjadi kenyataan, waktu terus Mr. Erdogan. (ARN/AU/Almasdar)

About ArrahmahNews (12475 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: