News Ticker

Fahri Hamzah “Ngotot” Tetap Aja Dicopot dari Wakil Ketua DPR

30 Janauri 2016

JAKARTA,ARRAHMAHNEWS.COM – Lengsernya Fahri Hamzah sebagai Wakil Ketua DPR memang disesalkan oleh para pendukungnya tapi harus terjadi sebagai harga yang harus dibayar akibat sikap “ngotot” Fahri dalam beroposisi terutama terkait wacana pembentukan Pansus Freeport, walo harus diakui kalo toh bukan Pansus Freeport Fahri tetap juga ditendang akibat gaya oposisi Fahry.

Bila Fahri masih “ngotot” dalam beroposisi, boleh jadi Fahri bakalan “direcall” dari kursi DPR dan diganti kader PKS yang lain, bisa saja Fahry sakit hati lalu keluar dari PKS dan gabung dengan Parpol lain. (Baca juga: #DennySiregar: Hello PKS, Bukalah Topengmu)

Itu semua cuma membuktikan kalo PKS sedang dalam “tekanan” untuk menertibkan kadernya yang dinilai “sak karepe dewe” atau ga tahu aturan. Tekanannya seperti apa?? oleh siapa?? dan imbalannya apa??? semua cuma “kira kira” saja, yang jelas PKS bukan kumpulan orang suci, ada juga yang berlepotan korupsi tapi berjasa pada Partai.

Mereka inilah (yang berlepotan korupsi) tersandera dan dijadikan posisi tawar dalam menekan Fahri dan PKS sebagai Partai yang tahu membalas budi terpaksa berkompromi demi soliditas Partai kedepan.

Bicara politik, bicara partai politik, bicara orang politik tidak lepas dari bicara duit, sebab untuk dapat dukungan politik harus keluar duit, duit dari mana??? salah satunya ya duit dari korupsi, saat ini kader PKS ada yang jadi tersangka korupsi, yang sudah divonis korupsi juga ada dan yang terancam jadi tersangka korupsi juga ada. PKS dalam dilema, mengamankan kadernya ataukah mengamankan Fahri, Fahri ibarat kerikil dalam sepatu, bikin tidak nyaman ketika harus jalan, pilihannya ya kerikil tersebut harus dibuang.

Bisa jadi lengsernya Fahri dari wakil ketua DPR cuma isyarat awal, artinya bila Fahri masih “vokal” ya bakalan “direcall”. (Baca juga: Siasat Baru Arab Saudi, ISIS dan PKS)

Fenomena Fahri cuma membuktikan bahwa ” korupsi ” sudah dalam posisi yang sulit dihindari, siapapun juga yang duduk dalam jabatan publik “terpaksa” harus korupsi.

Saat ini jabatan publik didapat dengan keluar duit, bahkan bukan rahasia lagi jual beli jabatan, menyuap agar diterima PNS atau bukan PNS rame terdengar, akibatnya ya harus korupsi untuk kembalikan modal.

Àpakah itu isyarat Indonesia makin terpuruk ataukah makin jaya, semua orang boleh beropini, yang jelas ” korupsi ” sebagai realitas makin “perkasa”.

Uang dari mana untuk balikin modal kalo tidak korupsi? (ARN/usmansantoso)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: