News Ticker

Obama; Kita Semua Adalah Yahudi

باراک اوباما

31 Januari 2016,

WASHINGTON, ARRAHMAHNEWS.COM – Presiden Amerika dalam peringatan mengenang “Holocoust” mengatakan, “kita semua adalah Yahudi”.

Kantor berita Raialyoum melaporkan perkataan Obama tersebut diambil dari kalimat yang pernah diucapkan oleh seorang tentara Amerika pada perang dunia kedua.

Obama menyampaikan kalimat itu, ketika diundang kedutaan besar Israel di Washington dalam acara mengenang peristiwa Holocoust. (Baca juga: CIA Danai ISIS Untuk Jalankan Agenda Zionis)

Dia juga menyatakan akan menghadapi gelombang sentimen anti-Yahudi yang terus bekembang di belahan dunia.

Dukungan penuh Amerika terhadap rezim Zionis Israel dengan klaim melindungin orang-orang Yahudi bukanlah hal baru. Sementara pembantaian penduduk Palestina yang dilakukan oleh rezim Zionis mulai dari rezim ini didirikan hingga sekarang terus berlangsung. Maka Holocoust sebenarnya adalah bangsa Palestina bukan bangsa Yahudi.

Israel mengklaim bahwa lebih dari ENAM JUTA orang Yahudi tewas pada masa kekejaman Hitler dan pasukan Nazinya Menguasai Eropa. Orang-orang Yahudi ditangkap dan dipenjarakan dalam kamp-kamp konsentrasi Jerman. Mereka dibiarkan kelaparan, disiksa, dan dijadikan kelinci percobaan senjata kimia para ahli Jerman. Propaganda inilah yang menjadi keyakinan masyarakat dunia sejak lama. Hingga seorang Ahmadinejad (Presiden Iran) muncul dan berkata ‘Holocaust itu sebuah kebohongan besar!”.

Tidak hanya pimpinan Iran itu yang yakin bahwa Israel telah merekayasa jumlah Yahudi yang menjadi korban Nazi, tetapi Presiden Venezuela juga membantah keras klaim 6 juta orang yang selama ini dipercaya. Keduanya yakin bahwa angka tersebut hanya propaganda Israel untuk mencari simpati dunia agar melupakan kekejaman dan penjajahan Israel sendiri terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah, khususnya di Palestina. (Baca juga: ISIS Dalam Permainan Sinis Barat Untuk Lindungi Zionis)

Hal ini juga mereupakan strategi Israel agar dunia merasa berutang kepada bangsa Yahudi. Terbukti bahwa Israel merupakan Negara penerima bantuan keuangan dan tekhnologi paling banyak dari para raksasa ekonomi dan tekhnologi Internasional.

Penyelidikan Berujung Penjara

Para penentang holocaust biasanya disebut ‘revisionis’. Mereka aktif melakukan penyelidikan kebenaran peristiwa kelam holocaust, meskipun telah ada ancaman dari 10 negara Eropa bagi siapa saja yang meragukan kebenaranya. Mereka dituduh sebagai antisemit dan akan ditangkap serta dipenjarakan disejumlah negara, termasuk Perancis, Polandia, Austria, Swis, Belgia, Rumania, dan Jerman sendiri.

Presiden Palestina terpilih, DR. Mahmoud Abbas, dalam disertasinya meragukan kebenaran kamar gas yang digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi. Ia mengatakan bahwa angka korban Yahudi yang terbunuh taklebih dari 1 juta, bukan 6 juta.

Tak hanya itu, dari kalangan ilmuan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal kebenaran Holocaust, seperti Roger Garaudy (pengarang asala Prancis), Profesor Robert Maurisson (Ilmuan asal Inggris), Ernst Zundel (tokoh revisionis kelahiran Jerman), dan David Irving (ahli sejarah asal Inggris). Ironisnya, hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan ke dalam penjara. Contohnya peristiwa 15 Februari 2007 yang menimpa Ernst Zundel yang mengakibatkan dirinya di penjara selama 5 tahun.

Herbet Schaller, pengacara yang mewakilinya mengatakan bahwa semua bukti tentang adanya Holocaust hanya berdasarkan pengakuan korban-korbanya, bukan atas fakta-fakta yang ada di TKP. Kemudian, pada tahun 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan buku memoar berjudul The Drama of Europen Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini holocaust selama ini. Ia mengklaim dalam bukunya bahwa tidak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.

Sementara itu, tentang tragedi di Auschwitz, Robert Faurisson, seorang Profesor literatur dari University of Lyons mengklaim bahwa penyakit tipuslah yang membunuh para tawanan, bukanya kamar gas. Pernyataan Robert Faurisson semakin diperkuat dengan penyelidikan teknis seorang ahli konstruksi dan intalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter. Fred pergi ke Auschwitz untuk melakukan penyelidikan dan mengetes tempat itu. Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut bahwa kamar gas di Auschwitz memang ada, tapi tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang..

Di sisi lain, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas itu berisi zat zyklon-B untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri dipakaian mati. Jadi, tidak mungkin digunakan untuk mengeksekusi manusia.

Keragu-raguan revisionis bersumber dari tidak adanya dokumen Jerman yang berisi tentang rencana pemusnahan massal orang yahudi di Eropa, seperti dokumen tentang perintah, rencana, anggaran, dan rancangan senjata untuk pemusnahan Yahudi. Bahkan, seorang Winston Churchill, yang menulis 6 jilid karya monumentalnya, the second World War, tidak sekalipun menyinggung adanya program Nazi yang menggambarkan kebencian terhadap Yahudi.

Jadi, sungguh aneh, tidak ada jejak-jejak catatan tertinggal yang dapat membuktikan kebenaran. Jika memang benar angka korban genosida sebombastis itu ( 6 JUTA ORANG ), tentunya akan ada kecaman yang terdata dari Paus, organisasi Palang Merah, atau pemimpin-pemimpin dunia ketika itu. (ARN/AU/ALM)

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: