News Ticker

AS Gunakan Tentara Saudi Untuk Perang Proxy Di Suriah

6 Februari 2016

WASHINGTON, ARRAHMAHNEWS.COM – Menteri Pertahanan AS, Ashton Carter memuji kesediaan Arab Saudi yang ingin melakukan penyebaran pasukan di Suriah, dengan klaim “memerangi” teroris ISIS.

Carter menyambut tawaran Saudi untuk berpartisipasi dalam operasi darat di Suriah, yang diluncurkan oleh koalisi pimpinan AS di sana.

Dia mengatakan peningkatan aktivitas oleh negara-negara lain akan memudahkan dan mempercepat Amerika Serikat memerangi ISIS.

“Welcome, berita yang sangat baik”, katanya kepada wartawan saat kunjungan ke Pangkalan Angkatan Udara Nellis di Nevada.

Koalisi pimpinan AS melawan ISIS telah meluncurkan serangan udara di Irak dan Suriah sejak 2014, tapi sejumlah negara menganggap As tidak serius dalam kampanyenya. Terlebih setelah Rusia meluncurkan serangan udara pada akhir September lalu, yang membawa kemajuan signifikan dan menyebabkan ISIS dan teroris lainnya banyak kehilangan daerah-daerah yang dikuasainya.

Damaskus menuduh Arab Saudi, Turki dan Qatar telah mendanai dan mempersenjatai kelompok-kelompok teroris anti-Suriah, termasuk ISIS. Lalu, bagaimana mereka menyebut ingin memerangi teroris yang mereka ciptakan? Sebenarnya tujuan mereka adalah menginvansi Suriah bukan memerangi ISIS atau teroris lainnya.

Kepala Pentagon mengatakan akan membahas lebih lanjut tawaran itu dengan Menteri Pertahanan Arab Saudi di Belgia pekan depan.

Carter mengatakan ia berencana menggunakan pertemuan pekan depan di Brussels, untuk mendorong dukungan lebih dan berbasis luas untuk melawan ISIS.

Keith Preston, pemimpin redaksi dan direktur AttacktheSystem.com, menyatakan koalisi baru seperti “menggelikan”, dan mengatakan kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Suriah, kebanyakan berkebangsaan Arab Saudi, yang berideologi wahabi dan radikal.

“Amerika jelas akan menyambut ini, karena mereka ingin menggunakan tentara Saudi sebagai tentara proxy dalam proses ini”, Preston mengatakan kepada Press TV pada hari Jumat .

“Akan tetapi, Amerika berusaha menghilangkan rezim yang non-blok dengan kebijakan AS”, analis menambahkan.

Sementara itu, Kepala Pentagon mengatakan Amerika Serikat menyaksikan krisis Libya dengan sangat hati-hati, tapi tidak membuat keputusan untuk memperluas perannya di sana setelah kejatuhan Khadafi. [ARN/AU/Ptv]

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: