News Ticker

Barat Kehilangan Tentara Bayaran, Rusia Bantu Tentara Suriah Hadapi Invansi Turki

07 Februari 2016,

DAMASKUS, ARRAHMAHNEWS.COM – Abdullah Al-Muhaysini menjalankan sistem pemerintahan di Aleppo, sehingga bagaimana mungkin Kerry membiarkan penaklukan kota oleh tentara Suriah dan Rusia?

“Kami menyerukan kepada pemerintah Suriah dan pendukungnya untuk menghentikan pemboman mereka terhadap oposisi, terutama di Aleppo, dan menghentikan pengepungan mereka terhadap “warga sipil” sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2165, 2254 dan 2258 ….” pernyataan Menteri Luar Negeri AS John Kerry setelah kegagalan konferensi Jenewa, dimana Komite Negosiasi Tinggi (HNC) menarik diri dari perundingan, dan operasi sukses SAA dalam mengakhiri pengepungan atas kota Nubl dan Al-Zahraa, Utara Aleppo. [Baca juga; Konspirasi Saudi-Barat Gagalkan Pembebasan Nubl dan al-Zahra Berkedok Perundingan Jenewa]

Sebuah sumber yang dekat dengan Presiden Suriah Bashar Assad mengatakan kepada kantor berita Al-Rai, “Amerika terperangkap “pulas” dengan kemajuan cepat di Aleppo dengan dukungan serangan udara Rusia. Ternyata Amerika bertentangan dengan resolusi 2254 dan resolusi 2249 tahun (2015), bahwa semua negara anggota harus melawan ISIS dan Al-Nusra serta kelompok-kelompok lain yang mendukung mereka. Dan gencatan senjata tidak akan berlaku dengan kelompok-kelompok ini dan mereka yang memang harus diberantas “.

Sumber itu menguraikan, “Sekretaris Kerry tidak hanya akan melawan resolusi PBB yang ia sendiri mengutipnya, tapi lebih buruk lagi ia membela Al-Qaeda dan kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan mereka yang dijalankan oleh seorang mantan tahanan Guantanamo. Pada dasarnya menghentikan operasi militer penaklukan Aleppo, tidak bertujuan membantu warga Nubl dan Al-Zahra. Tujuan utama dari seruan tersebut adalah untuk mencegah SAA memberantas Al-Qaeda dan kelompok-kelompok teroris lainnya dari dua kota tersebut, karena daerah ini terkait dengan Idlib dan perbatasan Turki. “

Sumber itu melanjutkan, “Tentara Suriah mengontrol Aleppo yang sebelumnya dikelola oleh Abdullah Al-Muhaysini yang merupakan warga negara Saudi yang memiliki link pada teroris Al-Qaeda. Kami percaya pada data yang dimiliki AS bahwa tentara mereka terdiri dari Al-Nusra, Ahrar Al-Sham, Brigade Al-Aqsa brigade, Tentara Muhajirin & Ansar, berada di sekitar Aleppo.

Al-Nusra memiliki kekuasaan di Haritan dan Idlib serta memiliki kontrol atas lumbung dekat kota Al-Bab dan conclaves kapas, pabrik traktor serta sumber pasokan lainnya. Dan Kerry ingin mereka tetap di bawah kontrol Al-Qaeda.

Adapun Tentara Muhajirin & Ansar, mayoritas pejuang mereka dari Chechnya, Dagestan , Ingushetia, Ossetia Utara, dan Uzbekistan. AS tidak khawatir terhadap mereka karena mereka bermusuhan dengan Rusia Kerry membela mereka meskipun mereka masuk dalam daftar teroris pada tahun 2014. Kelompok ini berpusat di Kafr Hamza, Ma’arrat al-Atiq, sekitar Nubl dan Al-Zahraa, dan hatharat Jabhat, serta kabupaten Jamiyat Al-Zahraa di Aleppo”.

Sumber itu melanjutkan “Ahrar Al-Sham didirikan oleh Sheikh Abu-Jabir, dan diangkat sebagai Amir di Aleppo setelah kematian Abu Khalid Syuri, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling berbahaya di Al-Qaeda. Ia juga utusan khusus pemimpin Al-Qaeda Ayman Al-Zawahiri. Ahrar Al-Sham adalah sekutu kunci Al-Qaeda di Aleppo”.

Menurut sumber yang sama Kerry juga membela “Harakat Sham al-Islam” yang didirikan oleh mantan tahanan di kamp tahanan Guantanamo. Ibrahim bin Shakran, (Abu-Ahmad Al-Muhajir) seorang yang berkebangsaan Maroko yang tewas pada april 2014. Kemudian digantikan oleh Mohammad Mizouz (Abu-Iz Al-Muhajir), yang ditangkap oleh personil militer AS di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dia dulu dijebloskan ke penjara di kamp tahanan Guantanamo, dan sekarang berjuang bersama Al-Qaeda di Suriah.

Sementara gerakan lain yang disponsori oleh Turki seperti Brigade Turkmen Suriah, Brigade Sultan Murad, Batalion Sultan Muhammad Fatih, dan Harakat Nur Al-Din Zinki. Semua kelompok-kelompok ini bekerja sama dengan Al-Qaeda meskipun resolusi PBB menyatakan bahwa mereka termasuk yang harus dibasmi, dan perjanjian gencatan senjata dengan mereka tidak berlaku.

Tapi yang lebih berbahaya adalah pernyataan Moskow bahwa ia memiliki “alasan kuat bahwa Turki sedang mempersiapkan serangan darat ke Suriah”.

Pengamat militer mengatakan, “Rusia memiliki garis merah yang dapat memungkinkan pencegahan penyeberangan dari Turki. Rusia sedang mempersiapkan sebuah unit militer Suriah yang kuat yang akan berguna untuk mengusir setiap serangan darat Turki. Damaskus memiliki hak untuk membela perbatasannya, dan tidak akan membiarkan pelanggaran udara Turki di wilayah Suriah, dan sedang mempersiapkan pencegahan mematikan atas serangan darat Turki dengan pengeboman udara dan serbuan darat. Rusia menyatakan setiap pesawat yang tidak dalam perjanjian koordinasi AS-Rusia adalah ancaman dan akan ditembak jatuh. Rusia juga telah mengambil tindakan pencegahan lebih lanjut dengan mengerahkan sistem rudal S-400, dan telah membawa Su-35  serta ‘MiG-29 ke Suriah, untuk memukul mundur setiap kemajuan Turki. Kremlin juga ingin mengirim pesan ke Turki bahwa setiap serangan dan invansi darat Ankara akan bertemu dengan kekuatan penuh dan menghancurkan”. (ARN)

Dikutip dari Elijah J.Magnier; translated by Sufjan Jan.

About ArrahmahNews (12476 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: