HRW: Barat Harus Berhenti “Diam” Atas Pelanggaran HAM Saudi

07 Februari 2016,

BERLIN, ARRAHMAHNEWS.COM – Ketika membahas Arab Saudi, negara-negara Barat dengan sengaja mengabaikan catatan yang telah begitu dipahami semua pihak menyoal pelanggaran HAM Riyadh, karena takut menyinggung pemerintah Saudi. Hal ini diungkap peneliti Human Rights Watch, Adam Coogle, kepada Deutsche Welle (DW) dalam sebuah wawancara eksklusif.

“Negara-negara Barat sangat terbiasa selalu diam atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Saudi. Barat selalu takut menyinggung Saudi,.” demikian ungkap Advokat hak asasi manusia Amerika Serikat itu kepada DW, sebagaimana dilaporkan Sputnik News, Sabtu (06/02) kemarin. (Baca juga: Langgar HAM Lagi, Saudi Tangkap Saudari Raif Badawi)

“Tapi seharusnya Barat bukan hanya berhenti mengabaikan pelanggaran mengerikan hak asasi manusia di Arab Saudi saja, negara-negara Barat itu juga harus mengambil sikap tegas terhadap praktik Saudi dan membiarkan Riyadh tahu bahwa hak asasi manusia akan menjadi bagian integral dari cara Barat mendekati Arab Saudi,” tambah Coogle.

“Jadi, misalnya, jika Jerman mengatakan: kami tidak akan menjual tank lagi sampai Anda membersihkan berbagai pelanggaran hak asasi manusia,” ungkap Coogle, memberikan contoh bagaimana negara-negara Barat bisa melakukan sesuatu untuk mengubah dan memperbaiki catatan hak asasi manusia di kerajaan Teluk tersebut. (Baca juga: Bela Hak Rakyat Saudi, Aktifis HAM Sekali Lagi Demo Kedubes Saudi di London)

Sejak kebangkitan Musim Semi Arab tahun 2011, pemerintah Saudi telah memulai tindakan keras pada semua perbedaan pendapat. Menurut Coogle, pemerintah Saudi telah memenjarakan “secara praktis, seluruh komunitas hak asasi manusia mereka.”

“Situasi ini benar-benar suram. Hampir semua aktivis independen Arab Saudi berada di penjara untuk menjalani hukuman panjang,” kata Coogle kepada DW.

Bagian dari alasan mengapa Arab Saudi memiliki catatan hak asasi manusia terburuk adalah bahwa tidak ada hukum pidana tertulis. Sistem peradilan Saudi didasarkan pada keputusan sewenang-wenang hakim, karena tidak ada dokumen hukum yang memberitahu apa hukuman yang harus diterima untuk kejahatan tertentu. Terserah penafsiran individu sang hakim untuk menilai. (Baca juga: Pangeran Saudi: Muhammad bin Salman Penyebab Runtuhnya Saudi)

Praktek memenggal kepala seseorang yang dihukum dengaan hukuman mati di depan publik telah menjadi salah satu kritik utama terhadap pemerintah Saudi yang dilancarkan organisasi hak asasi manusia tersebut. Tahun lalu, jumlah itu mengejutkan, pemerintah Saudi memenggal 153 orang. (ARN)

About ArrahmahNews (12465 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: