News Ticker

Saudi-Turki Bersekongkol Menginvansi Suriah Dengan Dalih Memerangi ISIS

07 Februari 2016,

RIYADH, ARRAHMAHNEWS.COM – Arab Saudi dan Turki akan memberikan dukungan kepada kelompok bersenjata melawan pasukan pemerintah Suriah, dengan dalih kedua negara ini meluncurkan operasi darat terhadap organisasi teroris Negara Islam di wilayah Suriah, TASS, Jumat (5/02) melaporkan. [Baca juga; Rusia; Intervensi Militer Saudi di Suriah Deklarasi Perang]

Pada hari Kamis, sehari setelah pembicaraan krisis Suriah dihentikan, Menteri Pertahanan Saudi, Jenderal Ahmed Asiri mengatakan bahwa angkatan bersenjata Arab Saudi siap untuk melakukan operasi darat di Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional yang dipimpin AS. Pernyataan ini disambut baik oleh Kepala Pentagon Ashton Carter. Sumber Saudi mengatakan kepada The Guardian bahwa ribuan pasukan khusus dapat dipindahkan ke Suriah, dengan berkoordinasi dengan Turki. [Baca juga; Barat Kehilangan Tentara Bayaran, Rusia Bantu Tentara Suriah Hadapi Invansi Turki]

Namun, inisiatif Saudi seperti ingin penutup propaganda atas kegiatan militer Turki di perbatasan Suriah, Peneliti Senior dari Institut Studi Oriental di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia Vladimir Akhmetov mengatakan.

Para ahli menyebutkan bahwa pernyataan juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Kamis (4/02) bahwa kementerian memiliki dasar yang serius untuk mencurigai Turki yang membuat persiapan intensif untuk melakukan invasi militer ke dalam wilayah Suriah. [Baca juga; Turki Tempatkan Sejumlah Komandan Militer di Perbatasan]

“Meskipun Riyadh menyatakan tentang niat untuk melawan organisasi teroris ISIS, ada keraguan besar tentang itu. Kemungkinan Saudi berniat untuk memberikan dukungan kepada mereka dengan formasi bersenjata, yang berperang melawan pasukan pemerintah Suriah. Intinya adalah bahwa baik Arab Saudi maupun Turki mencari cara untuk menghapus Bashar Assad dari kekuasaannya. Mereka ingin mengambil moment pada saat pasukan Assad mulai aktif mengubah keseimbangan kekuatan di perbatasan dengan Turki dengan dukungan dari serangan udara Rusia. Jadi, niat Riyadh adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas lain dengan kedok berjuang melawan teroris ISIS”, kata Akhmetov pada TASS. [Baca juga; Waled Muallem Beri Peringatan Keras Rencana Invansi Militer Asing di Suriah]

Arab Saudi dan Turki tidak bisa membiarkan tentara Assad melumat militan di Provinsi Latakia. Ini berarti kekalahan serius bagi Riyadh dan Ankara, yang tidak bisa diterima. Dan pembicaraan juga menyangkut pembebasan Aleppo, kota tertua dengan penduduk 5 juta, katanya.

Arab Saudi dapat membantu Turki dengan logistik, keuangan dan senjata, kata para ahli. Hal ini tidak mengesampingkan bahwa Riyadh dapat mengirimkan beberapa ribu pasukan ke Suriah dari Garda Nasional Kerajaan Saudi. Riyadh juga menunjukkan minat pada bantalan minyak Suriah, di mana Arab Saudi ingin membangun kontrol atas kilang-kilang minyak itu. Tapi bahaya yang jauh lebih besar bagi pasukan pemerintah Suriah berasal dari Turki. [Baca juga; AS Gunakan Tentara Saudi Untuk Perang Proxy Di Suriah]

Adapun pembicaraan tentang penyelesaian Suriah yang ditangguhkan di Jenewa lebih karena ultimatum dari delegasi oposisi Suriah yang dibentuk di Riyadh (HNC), perwakilannya tampaknya telah memutuskan untuk mencapai keberhasilan militer untuk melanjutkan pembicaraan dengan delegasi resmi dari Damaskus, analis mengatakan.

Presiden Institut Agama dan Politik Alexander Ignatenko percaya bahwa Arab Saudi dan Turki terikat kegagalan pembicaraan di Jenawa, bahkan sebelum dimulainya proses negosiasi Jenewa-3 untuk membuat komando militer tunggal dalam operasi darat di Suriah. Pada kenyataannya, tentara Turki berdiri di belakang perintah tunggal ini. Riyadh tidak menetapkan tujuan mencapai solusi diplomatik, politik dan damai terhadap krisis Suriah. Itu sebabnya, delegasi pro-Arab dari oposisi Suriah melakukan segala kemungkinan untuk mengganggu perundingan. [Baca juga; Konspirasi Saudi-Barat Gagalkan Pembebasan Nubl dan al-Zahra Berkedok Perundingan Jenewa]

Menurut analis, sesaat sebelum pembicaraan Jenewa-3, menteri luar negeri Turki mengunjungi Arab Saudi. Setelah bertemu rekannya dari Turki. Menteri Luar Negeri Saudi mengatakan bahwa Arab Saudi akan membuat dukungan militer kepada oposisi Suriah sementara Turki memiliki hak untuk membela keamanan dengan metode yang dianggap perlu. [Baca juga; Operasi Rahasia AS, Inggris, Perancis di Suriah]

“Arab Saudi tidak akan memboyong pasukannya ke Suriah karena Riyadh terlibat dalam perang di Yaman. Kemungkinan besar, pasukan Turki akan memasuki Suriah di bawah bendera palsu aliansi internasional melawan ISIS. Ankara bermaksud melaksanakan kepentingan geopolitiknya di Suriah – untuk menganeksasi sepotong wilayah di utara dan barat laut Suriah”, Ignatenko kepada TASS. (ARN)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: