News Ticker

John Kerry; Apa Kau Ingin Aku Berperang Dengan Rusia?

08 Februari 2016,

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – “Pasukan Rusia dan Suriah mengintensifkan kampanye mereka di Aleppo yang masih menjadi rumah bagi sekitar 350.000 orang dan pekerja bantuan – kota terbesar sebelum perang – bisa segara jatuh”. (Baca juga: Analis; Membuka Tabir Wajah Asli Amerika)

Dapatkah Anda melihat apa yang salah dengan kutipan itu, yang diambil dari berita Reuters hari ini? Inilah masalahnya bahwa kalimat bisa segera jatuh “could soon fall” menyiratkan bahwa Aleppo di ambang menyerah kepada pasukan musuh (teroris). Benarkah demikian? Tidak, Aleppo sudah berada di tangan musuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Apa Reuters seharusnya mengatakan hal ini: “… bisa segera dibebaskan.”

Dengan demikian kita akan menjadi yang pertama mengakui bahwa Bashar al-Assad tidak termasuk pemimpin yang paling baik hati dalam sejarah kenegaraan. Anda bisa bertaruh bahwa Suriah berharap perang ini tidak pernah dimulai dan jika Anda bertanya kenapa mereka terdampar di Aleppo? apa kualitas hidup mereka sebelumnya konflik seperti sekarang? kami cukup yakin Anda akan menemukan bahwa warga tidak terlalu terpikat dengan kehidupan di bawah gerombolan pemberontak yang kini menguasai Aleppo. (Baca juga: Rusia Telanjangi Amerika di Suriah)

Dalam hal apapun, Rusia dan Iran telah mengepung Aleppo dan setelah itu “jatuh” (mengutip Reuters) dari oposisi “moderat”. Dan Saudi dan Turki tahu itu.

Begitu juga John Kerry, yang putus asa untuk memulai kembali perundingan perdamaian yang terhenti di Jenewa. Masalah bagi AS dan sekutu regionalnya sederhana. Jika Rusia dan Iran menghapus oposisi di medan perang, maka tidak dibutuhkan lagi pembicaraan damai. Pemerintah Assad akan segera pulih dan kembali memerintah. Sementara saat ini, ISIS masih beroperasi di timur Aleppo, tapi itu masalah Moskow dan Teheran yang akan memecahkannya dalam waktu singkat setelah pusat-pusat perkotaan utama yang telah direbut dapat dijamin bersih dari teroris.

Seperti kita ketahui pada hari Sabtu (6/02), Riyadh dan Ankara sangat prihatin bahwa upaya lima tahun untuk menggulingkan Assad akan runtuh dan memang benar. Sementara, Rusia dan Iran telah menunjukkan kesediaan mereka untuk membahas gencatan senjata tetapi menurut John Kerry sendiri sekarang oposisi mau datang ke meja perundingan. (Baca juga: Surat Heboh dari Senator Virginia untuk Assad: AS, Saudi, Turki, Qatar Kompak Hancurkan Suriah)

“Jangan salahkan saya – pergi dan menyalahkan oposisi Anda”, kata Kerry yang jengkel kepada pekerja bantuan di sela-sela konferensi donor Suriah di London pekan ini.

Diplomat top Amerika juga mengatakan bahwa mereka harus menunggu tiga bulan pemboman yang akan “memusnahkan” oposisi, menurut Middel East Eye yang juga melaporkan bahwa Kerry meninggalkan pekerja bantuan dengan “kesan berbeda” bahwa AS meninggalkan upaya untuk mendukung pemberontak. (Baca juga: Diplomasi Dungu Saudi dan Amerika di Suriah)

Dengan kata lain, Washington telah datang untuk berdamai dengan kenyataan bahwa hanya ada satu jalan keluar dari masalah ini. Baik pergi berperang dengan Rusia dan Iran atau mengakui bahwa upaya untuk membawa perubahan rezim di Middel East benar-benar tidak bisa direalisasikan.

“Dia mengatakan bahwa pada dasarnya adalah oposisi yang tidak ingin bernegosiasi dan tidak ingin gencatan senjata, dan mereka yang meninggalkan”, kata seorang pekerja bantuan.

“‘Apa yang ingin saya lakukan? Pergi berperang dengan Rusia? Apakah itu yang Anda inginkan?”, pekerja bantuan mengutip perkataan Kerry.

Putin_e9j67_84I1l95kj

Pekerja Bantuan (MEE) juga mengatakan bahwa AS telah sepenuhnya menghapus gagasan bahwa Assad harus mundur. Sekarang, tampaknya Washington hanya ingin Assad berhenti menggunakan bom barel sehingga AS bisa “menjual cerita ke publik”. Selain itu, “Sebuah sumber ketiga yang mengklaim telah menjabat sebagai penghubung antara pemerintah Suriah dan Amerika selama enam bulan terakhir, kata Kerry telah menyampaikan pesan ke Presiden Suriah Bashar al-Assad pada bulan Oktober, bahwa AS tidak ingin menghapusnya”, kata MEE.

Tentu saja Kerry tidak akan dapat “menjual” kisah itu ke Saudi dan Turki, atau ke Qatar. “Pesan Kerry setelah runtuhnya proses perundingan di Jenewa, telah menempatkan lebih banyak tekanan pada Turki dan Arab Saudi,” kutip MEE, dan menambahkan “Keduanya kuatir akan potensi runtuhnya oposisi bentukan AS yang dikenal sebagai Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army; FSA)”. (Baca juga: Pemimpin Al-Nusra; Erdogan Memperkuat ISIS Untuk Ciptakan “Zona Aman”

)

Dan seperti yang kita lihat awal pekan ini, apa yang mereka nyatakan tentang pengerahan pasukan darat baik Arab Saudi, Ankara, Bahrain dan Uni Emirat Arab. Entah perang proxy berubah menjadi perang dunia dalam dua minggu ke depan, atau Aleppo “jatuh” ke pangkuan Suriah yang akan menandai kekalahan yang benar-benar memalukan bagi kebijakan luar negeri AS, atau yang tak kalah penting membenamkan tujuan Saudi yang ingin membangun hegemoni Wahabi di Semenanjung Arab.

Satu-satunya pilihan adalah AS menghadapi Rusia dalam pertempuran. Seperti yang terlihat dari sumber-sumber yang dikutip di atas, Washington jelas tidak memiliki keberanian untuk itu. (ARN)

About ArrahmahNews (12501 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: