News Ticker

PILKADA DKI 2017 Jadi Box Office Gara-Gara Jokowi-Ahok

08 Februari 2016,

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Setelah empat hari berturut menulis tentang Ahok, saya stop dulu, walau kalau ditulis lagi tentang Ahok, ya tetap saja banyak yang baca, mengapa? Karena Ahok adalah gubernur yang unik. Saya menyebutnya “ anak macan” yang berani mengaum sekeras-keras, dan “memakan induknya”. Lihat saja dengan keluarnya Ahok dari Gerindra, partai yang mengajukannya menjadi cawagub pada Pilkada 2012 yang, bersama dengan Jokowi yang sekarang menjadi presiden. Ahok tak peduli dengan partai pengusungnya, jika memang berlawanan dengan nuraninya, disikat habis!

Pilkada-DKI-Jadi-Box-Office-2017

Itulah Ahok, dibilang tak tahu adat, tak tahu berterima kasih, “kacang yang lupa akan kulitnya”, “kutu loncat”, pemberang, emosional, pemarah, mau menang sendiri, tak punya etika sebagai pemimpin, dan sederet julukan buruk lainnya, Ahok tak peduli. Sikat habis, siapapun yang mencoba menghalanginya. Kalau atasannya saja Ahok “sikat”, apa lagi bawahannya, hanya tinggal dipecat! Dan pemecatan Ahok bukan hanya “gertak sambel”, tapi betul-betul dilaksakannya! Bahkan Ahok punya rencana “gila”, jika perlu 50 % pegawainya yang culas, akan disikat habis, diganti dengan pegawai yang benar-benar bekerja untuk rakyat.

Dan hebatnya, di tangan Ahok kesejahteraan pegawai meningkat, terutama golongan menengah ke bawah, sedangkan menengah ke atas menurun, jika dibandingkan dengan hasil korupnya, yang di masa sebelum Ahok, mereka pestapora, tanpa takut dipecat! Dan sekarang para pejabat korup tersebut, sudah banyak yang mengundurkan diri, sebelum dipecat oleh Ahok. Ahok benar-benar “ macan”, bukan lagi “anak macan”. Karena Ahok berani keluar dari partai, sedangkan tokoh lain, justru banyak yang tergantung pada partai, bahkan maaf, setingkat Jokowi pun, yang kini seorang presiden, tak berani keluar dari partai!

Padahal Jokowi, di dalam PDIP, dijuluki sebagai “petugas partai” yang sudah menjadi kontroversi yang panjang, dibahas di mana-mana, ada yang pro dan ada yang kontra. Yang pro mengatakan, Jokowi memang petugas partai di dalam PDIP, karena Jokowi adalah anggota partai, bukan ketua partai. Yang kontra bilang, Jokowi bukan petugas partai, karena ketika Jokowi disumpah menjadi presiden, lepaslah dari partainya. Nah dalam kasus semacam itu, Jokowi tak seberani Ahok, yang mungkin punya pertimbangan lain atau Jokowi tetap membutuhkan partai, dalam hal ini PDIP, padahal PDIP yang telah mencalonkannya menjadi capres pada 2014 yang lalu adalah partai yang paling kencang bersuara agar Jokowi dilengserkan, terutama saat kasus Budi Gunawan dicalonkan menjadi kapolri, yang akhirnya dibatalkan oleh Jokowi, sehingga perpolitikan di Indonesia begitu gaduh, karena pro kontra antara Polri dengan KPK.

Nah Jokowi, dalam konteks yang satu ini, tak seberani Ahok. Jokowi tak berani keluar dari PDIP, karena dikatakan sebagai petugas partai, yang menurut Fadli Zon, merendahkan presiden, padahal presiden adalah puncaknya kepemimpinan eksekutif, sebuah lembaga negara yang diincar oleh setiap tokoh politik dari partai manapun. Hal tersebut terlihat ketika para tokoh nasional “turun gunung” ingin menjadi gubernur DKI Jakarta, padahal para tokoh yang mau menjadi Gubernur adalah sudah menjadi tokoh nasional, seorang menteri, seperti Adiyaksa Daud mantan Menpora, Yusril mantan Menkumham, bahkan sampai ke lembaga MPR, seperti mantan ketua MPR seperti Hidayat Nur Wahid. Mereka rela “turun gunung” bukan arti khiasan, benar-benar mengejar jabatan yang kalau dilihat dari struktur kenegaraan jauh di bawah yang mereka telah capai.

Jabatan Gubernur itu jauh di bawah menteri, karena Gubernur memang hanya mengepalai sebuah daerah setingkat provinsi. Sedangkan untuk menteri itu, bila memimpin sebuah depertemen, berarti menguasai depertemen tersebut untuk seluruh Indonesia, dengan demikian jelas menteri berada di atas Gubernur. Menteri bisa memerintah Gubernur sebagai kepanjangan tangan Presiden, karena menteri adalah pembantu presiden, sedangkan Gubernur tak bisa memerintah menteri!

Apa lagi untuk mantan ketua MPR, lembaga MPR itu setingkat dengan presiden, sebagai lembaga tinggi negara, artinya berada jauh di atas seorang Gubernur, tapi mengapa Hidayat Nur Wahid sampai mau turun memperjuangkan jabatan yang jauh di bawah yang sudah dicapainya selama ini? Ini benar-benar menarik untuk diamati. Ternyata jabatan Gubernur itu seksi, terutama menjadi Gubernur di DKI Jakarta, ini semua gara-gara Jokowi.

Mungkin anggapan para tokoh nasional itu, kalau Jokowi bisa menjadi Presiden, mengapa saya tidak bisa? Itu mungkin dorongan semangat mereka, mereka terinspirasi oleh Jokowi. Jokowi yang dilecehkan, direndahkan, dihinakan, sering dibully media, sering dikatakan”tukang meubel” oleh lawan politiknya pada pilpres 2014 yang lalu, kini benar-benar menjadi presiden Ri ke 7, benar-benar di luar logika mereka. Sudah diserang habis-habisan, dengan katakatan: wajah kapungan, ngedeso, kerempeng, hanya seorang mantan wali kota Solo, kota kecil di Jawa Tengah itu, ternyata dipilih rakyat untuk menjadi presiden mereka, luar biasa. Semuanya tiba-tiba terhenyak, kok bisa ya Jokowi menjadi presiden dan dipilih menjadi presiden, padahal bukan wajah seorang presiden!

Nah, dengan naiknya Jokowi menjadi presiden, otomatis Ahok, yang menjadi wakilnya di DKI Jakarta, menggantikan Jokowi menjadi Gubernur. Inilah yang menjadi malapetaka politik! Kecelakan sejarah, persis seperti naiknya Gus Dur menjadi presiden RI ke 4! Sampai-sampai Gus Dur membuat anekdot tentang presiden, itu artinya untuk dirinya sendiri, Gus Dur dengan enteng mentertawakan lembaga kepresiden yang didudukinya. Begini bunyi anekdotnya:

“presiden pertama gila wanita, presiden kedua gila harta, presiden ketiga gila teknologi, dan presiden ke empat pemilihnya yang gila!” Sambil Gus Dur tertawa terkekeh-kekeh. Coba lihat, tiga persiden sebelumnya Gus Dur bilang” gila”, sedangkan untuk presiden yang ke empat, yaitu Gus Dur sendiri, yang dibilang gila, bukan presidennya, tapi pemilihnya, cerdasnya bukan main. Di dalam anekdotnya pun Gus Dur terlihat cerdasnya. Dan jangan lupa, Gus Dur pun telah menyinggung Ahok, pada suatu kesempatan, yang dikatakannya bisa menjadi Gubernur, sebelum Ahok maju menjadi cawagub, masih menjadi Bupati Belitung, bahkan bisa menjadi presiden!

Kembali ke Ahok, nah rupanya “ramalan” Gus Dur, memberika motivasi yang kuat buat Ahok, Ahok yang semula tak percaya diri, kini benar-benar berani tampil beda. Apa lagi setelah benar-benar” ramalan” Gus Dur terbukti, Ahok terbukti menjadi Gubernur! Jadi satu langkah lagi Ahok akan mewujudkan ramalan Gus Dur yang kedua, yaitu Ahok bisa menjadi Presiden. Jangan lupa, ramalan Gus Dur hanya mengatakan Ahok bisa menjadi Presiden, dan ternyata Presiden itu bukan satu, bisa saja menjadi Presiden partai, seperti di PKS, menjadi presiden Taxi atau menjadi Presiden di rumah tangga.

Namun kalau dianalisa dari kasat mata, tak mungkinlah Gus Dur meramalkan Ahok menjadi Presidenya PKS, wah itu bisa seperti bumi dan langit! Atau tak mungkinlah Gus Dur meramal Ahok hanya menjadi pengusaha presiden taxi, untuk apa? Atau hanya untuk menjadi presiden di rumah tangga, ini tak mungkin, karena Ahok memang sudah berkeluarga pada saat hal tersebut dikatakan. Jadi otomatis yang dimaksud Gus Dur, yang sudah almarhum, tentu Ahok bisa menjadi presiden RI, kapan? Ini dia masalahnya.

Jadi Ahok bisa menjadi Presiden RI, entah itu menjadi presiden ke 8, 9 atau ke 10. Jadi Ahok bisa menjadi Presiden ditahun 2019, 2024 atau 2029. Kalau dilihat target yang paling rasional tentu di tahun 2024, karena ditahun 2019 masih milik Jokowi dan “pasukan” jago-jago tua, yang masih berusaha merebut kursi presiden dari tangan Jokowi, yang mereka rendahkan , yang mereka anggap remeh sebelumnya.

Jadi Prabowo, Wiranto, Yusril, Hidayat, ARB, dan lain sebagainya akan maju di pilpres 2019, nah batu loncatan yang mau mereka pakai adalah di Pilkada 2017 di DKI, kalau mereka berhasil pada Pilkada 2017, maka mereka akan maju mencalonkan diri, tanpa malu-malu lagi, menjadi capres pada Pilpres 2019. Jadi jabatan Gubernur mereka pegang hanya dua tahun saja, itu kalau mereka menang, persis yang dilakukan Jokowi. Dan itu tak perlu minta maaf pada rakyat DKI Jakarta yang telah memilih mereka. Jadi semuanya memang gara-gara Jokowi, dan juga Ahok! [ARN/Kompasiana/SZ]

About ArrahmahNews (12494 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on PILKADA DKI 2017 Jadi Box Office Gara-Gara Jokowi-Ahok

  1. Ronald Renwarin // Apr 14, 2016 at 12:04 am // Balas

    Bang….. enak banget baca tulisan abang. Sederhana, seperti cerita, mudah dipahami dan nyentuh semua usia.

    Boleh lah bang… bagi2 ilmu menulisnya. Hehehehe..

    Saya Ronald, Bang!
    Dari Bumi Cendrawasig-Papua, Timika.
    Salam dari ufuk timur

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: