News Ticker

#DennySiregar: Pakde ‘Jokowi” Kembalikan Nasionalisme Bangsa yang Telah Luntur

10 Februari 2016,

JAKARTA, SUARA RAKYAT, ARRAHMAHNEWS.COM – Menurut Jack Snyder, Ada empat macam bentuk Nasionalisme, yang pertama nasionalisme kenegaraan, nasionalisme etnik, nasionalisme revolusioner dan nasionalisme kontra-revolusioner. (Baca juga: Habib Luthfi: Energi Nasionalisme Melebihi Nuklir)

Nasionalisme Harga MatiNasionalisme kewarganegaraan terjadi kalau elit politik yang ada tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi yang terjadi, serta kelembagaan negara ada cukup kuat untuk menampung proses ini. Nasionalisme kewarganegaraan didasarkan pada usaha mempertahankan proses demokratisasi karena di anggap bisa memberikan keadilan. Disni orang di persatukan atas dasar kewarganegaraan untuk mempertahankan demokrasi bangsa. Penduduk dalam suatu negara dianggap sama sebagai warga negara, tanpa memandang suku, warna kulit, agama dan keturunannya. (Baca juga: BNPT: Tujuan Radikalisme-Terorisme Ingin Ganti Pancasila dan Dirikan Khilafah

)

Nasionalisme etnik adalah solidaritas yang di bangkitkan berdasarkan persamaan budaya, bahasa, agama, sejarah dan sejenisnya.

Nasionalisme revolusioner merupakan usaha untuk mempertahankan sebuah perubahan politik yang melahirkan sebuah rezim baru yang dianggap lebih baik dari pada rezim sebelumnya.

Dan yang terakhir adalah Nasionalisme kontra- revolusioner, merupakan upaya membangun solidaritas untuk mempertahankan kelembagaan negara yang ada terhadap perubahan- perubahan yang mau diadakan. Ini penjelasan tentang Nasionalisme. (Baca juga: Kyai Said: TNI dan Santri Harus Menyatu Lawan Radikalisme Dalam Bela Negara)

Dan tidak kalah menariknya adalah tulisan sang pawang Dumay Denny Siregar yang memberikan analisa menariknya tentang Nasionalisme yang mulai redup saat ini, padahal pada jaman Orba rasa Nasionalisme Indonesia sangat kuat, berikut tulisan sang pawang dumay:

Era Soeharto meski meninggalkan jejak berdarah, juga meninggalkan jejak yang baik. Begitu kuatnya nasionalisme ditanamkan sejak dini. Upacara bendera di sekolah-sekolah, lagu-lagu kebangsaan, pemasangan bendera saat hari perjuangan benar-benar dipaksakan. Tidak ada yang berani melanggar, karena akan dituding PKI dan kata PKI adalah momok yang menakutkan.

khilafahLepas era Soeharto, perlahan-lahan terkikis juga nasionalisme. Semua bicara reformasi tanpa perduli bahwa reformasi harus ada dasar, tanpa itu reformasi seperti terop kawin yang terbang kena badai.

Saat itu pelan-pelan masuklah kembali paham Negara Islam, paham lama yang dimodifikasi dan diusung pihak yang beragam. Hormat bendera menjadi haram, pancasila di musrik-kan dan tumbuhlah organisasi-organisasi radikal yang ke-arab-araban meng-klaim bahwa Islam harus seperti mereka.

Lihatlah buku-buku pelajaran di sekolah. Islam digambarkan berjenggot dan celana cingkrang, seolah-olah begitulah seharusnya seorang muslim. Sibuk di aksesoris dan ritual dengan meninggalkan konsep “paham”. Pengajian-pengajian dibangun dimana-mana untuk merekrut kader-kader, bukan lagi sebagai tempat pengisian jiwa. Masjid-masjid dibangun sebagai tempat berkumpul ideologi bukan lagi sebagai “rumah” Tuhan. (Baca juga: WASPADALAH.. Pengajian ‘Setan’ Kelompok Khilafah HTI dan Wahabi)

Belasan tahun mereka membangun itu sejak jatuhnya rezim Soeharto dan hasilnya mulai terlihat sekarang.

Seorang bupati dikejar-kejar ormas tanpa perlindungan aparat. Seorang Walikota melindungi ormas yang menentang Pancasila bahkan meresmikan kantornya (Baca juga: INDONESIA DARURAT .. Bendera Negara Khilafah Dipajang dalam Peresmian Kantor HTI yang Dihadiri Walikota Bogor Bima Arya). Seorang Gubernur duduk bersila dibawah kaki negara Saudi, mengemis minta dana dengan mem-fitnah. Seorang Gubernur bagus diserang karena “kafir” dan tidak boleh memimpin “muslim”. (Baca juga: Saiful Huda: Aher Adu Domba Sunni-Syiah Untuk Mengemis Pada Arab Saudi)

Nasionalisme yang dibangun kuat oleh Soeharto luntur, seperti bedak terkena hujan. Kikisan-kikisannya menggoyahkan pondasi kenegaraan. Mereka sudah sangat terbuka, terang-terangan menuding dasar negara dan menuntut di bentuknya negara khilafah. (Baca juga: Media Radikal dan Khilafah “Arrahmah”)

Sudah saatnya Pakde melibatkan penuh NU dan Muhammadiyah dalam meramu konsep pelajaran Islam di sekolah-sekolah. Sertifikasi guru-guru agama di sekolah, juga ustad-ustad dan pelaksanaannya di berikan kepada dua organisasi itu, bukan MUI, sehingga mereka punya koridor Nusantara dalam mengajar, bukan koridor timur tengah. (Baca juga: Gus Mus dan Wejangan Cerdiknya Tentang Beragama dan Toleransi)

Galakkan kembali hormat bendera dan gaung Pancasila. Jika perlu, paksa sebagai sebuah kewajiban. Sekolah negeri yang tidak melaksankan, beri sanksi. Pakde sudah bagus menyuruh media TV memutar lagu-lagu nasional, tetapi itu jangan dijadikan konsep “jika media TV berkenan”, tetapi harus jadi kewajiban, seperti hal-nya masa Soeharto dulu mewajibkan setiap jam ada berita nasional di semua radio-radio. Ancam cabut ijinnya jika menentang. (Baca juga: Islam Nusantara, Hari Santri, Bela Negara: 3 Jurus NKRI Perangi Kelompok Khilafah dan Radikal)

Pakde, nasionalisme kita sedang dirongrong, banyak pejabat yang main serong, jangan pakai tendangan memutar lagi untuk ini tapi sudah harus gunakan kungfu peremuk tulang.

Nasionalisme harus dipaksakan sejak kecil, supaya besar nanti anak-anak kami tidak mudah dikadalin radikalis berdagu sarang lebah dan bersorban. Pakde, nasionalisme anak-anak kami terancam. 

Pakde, tolong kami…. Masak harus Batman yang turun tangan? Batman hanya bisa bergerak di kegelapan, dan itupun kudu ada kopi dan tahu isi sebagai suguhan.

Nb : Kucing kurus mandi di papan. Pakde kurus tapi orangnya tampan.* *agak menjilat supaya nanti diundang makan-makan*

About ArrahmahNews (12501 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. WOW! Puisi Haru oleh Santri Tremas Pacitan Jokowi Khalifah Kami – ArrahmahNews

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: