News Ticker

Retorika Berbahaya Erdogan Dengan Mengultimatum AS

10 Februari 2016

ANKARA, ARRAHMAHNEWS.COM – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terlibat retorika berbahaya dengan AS; mendukung Turki atau Kurdi Suriah. Aktivis Elif Sarican dan jurnalis Eric Draitser membahas makna di balik komentar Erdogan, pada Radio Sputnik Loud & Clear. [Baca juga; Erdogan Marah atas Pertemuan Utusan AS Dengan Kurdi di Ayn Al-Arab]

Pejuang Kurdi telah terbukti menjadi salah satu kekuatan yang paling efektif dalam memerangi kelompok teroris ISIS di Suriah. Namun, pemerintah Turki terus menyebut kelompok Partai Demokrat Rakyat Kurdi (PYD) sebagai teroris. Sementara Rusia telah berusaha memasukkan kelompok Kurdi dalam pembicaraan damai Suriah, namun Ankara menolak, dan sekarang meminta Washington untuk memilih antara Turki atau Kurdi.

“Apakah [Erdogan] benar-benar mengatakan Amerika Serikat harus mengambil sikap terkait perang Turki dengan Kurdi dalam konteks regional yang lebih luas. Erdogan telah memisahkan diri dari Rusia dan dia menuntut Amerika Serikat berada dipihaknya”, wartawan dan analis Eric Draitser mengatakan dalam acara Loud & Clear yang dipandu oleh Brian Becker.

“Sayangnya Erdogan melukiskan dirinya tersudut. Dia memiliki sangat sedikit pilihan yang tersisa baginya, dan itulah mengapa Anda melihat retorika berbahaya dan berani seperti itu.”

Jerman tampaknya telah memihak Turki. Dimana, pada hari Senin (8/02) Kanselir Angela Merkel mengkritik serangan udara Rusia, tapi gagal menangani operasi militer Turki terhadap Kurdi. [Baca juga; Kontroversial: Angela Merkel Ingin Kerahkan Pasukan NATO ke Pantai Turki]

“Ini adalah permainan kekuasaan,” kata Elif Sarican, dan menambahkan bahwa “Rusia telah jauh lebih efektif dalam operasi anti-teroris dengan waktu yang sangat singkat dari pada AS yang telah mengkampanyekan anti-teroris dalam beberapa tahun terakhir.

“Jika Turki kehilangan kekuatan di perbatasan, maka… Jerman, NATO, dan Amerika Serikat  serta mereka yang terlibat pengerahan kekuatan akan kehilangan pengaruh mereka, dan akan menghapur mimpi mereka yang ingin menguasai Suriah”, cetusnya.

Sementara Amerika Serikat di sisi lain sedang berjuang mencari tahu tujuan akhir di Suriah.

“Apa yang paling penting bagi AS di Suriah, jika mereka tidak mampu mencapai perubahan rezim, atau apa yang diinginkan Amerika Serikat di Suriah? Mereka ingin melakukan perubahan rezim, menyingkirkan Bahsar Assad dan akan menyerahkan kekuasaan itu kepada mereka yang pro-Barat … “, kata Draitser. Namun, “Proyek itu telah gagal”, sambungnya.

Akantetapi Barat berusaha menyelamatkan reputasi mereka di kawasan dengan mendengar suara orang-orang Kurdi yang berjuang melawan teroris ISIS.

“Kurdi yang berada di Ain Al-Arab masih ingin bersatu dengan pemerintah Suriah,” kata Sarin. “Mereka hanya menginginkan otonomi dalam arti mereka ingin hidup dengan cara mereka hidup sekarang … Mereka ingin dapat memerintah diri mereka sendiri, tapi ini tidak berarti benar-benar independen atau lepas dari Suriah.

Namun, hal ini berbahaya bagi Turki karena bagaimana pun hal itu akan menjadikan Kurdi kuat dan dapat mempengaruhi kelompok-kelompok Kurdi yang berada di Turki. Oleh karena itu, bagaimanapun pengakuan Amerika atas Kurdi Suriah tidak dalam kepentingan terbaik Turki.

“Turki telah kehilangan akses di Suriah karena apa yang telah dilakukan Rusia,” kata Draitser, dan menambahkan “Turki ingin kembali memiliki akses itu, dengan menggunakan krisis pengungsi dan Aleppo untuk mencapai hal itu.” [ARN]

About ArrahmahNews (12485 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: