News Ticker

UNIK? Uni Emirat Tunjuk Seorang Wanita Jadi “Menteri Kebahagiaan”

11 Februari 2016,

DUBAI, ARRAHMAHNEWS.COM – Ada yang unik dari pengumuman perombakan kabinet di Uni Emirat Arab yang diumumkan pada Rabu (10/02) kemarin. Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum menyebut bahwa sebuah posisi menteri negara baru akan jadi bagian dari Kabinet kali ini.

Perdana Menteri UEA, Wakil Presiden UEA dan Emir Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum itu mengumumkan di Twitternya bahwa ia menunjuk seorang “menteri negara untuk kebahagiaan”.

Capture
Ohood Al Roumi, adalah wanita yang terpilih untuk melaksanakan tugas itu, merangkap tugas lamanya sebagai direktur umum kantor perdana menteri. Al Roumi adalah salah satu dari tujuh wanita yang diangkat dalam kabinet baru tersebut, bersama dengan 22 orang lainnya. (Baca juga: Pasukan Saudi dan Uni Emirat Melarikan Diri dari Medan Tempur di Ma’rib Yaman :Video

)

Sheikh Mohammed mentweet bahwa kebahagiaan adalah lebih dari sekedar keinginan. Ia menambahkan bahwa posisi tersebut akan memandu “rencana, proyek, program (dan) indeks (mencapai kebahagiaan).”

“Kabinet baru nantinya akan berfokus pada masa depan, pemuda, kebahagiaan, pembangungan pendidikan dan memerangi perubahan iklim,” tweet Sheikh Mohammed. (Baca juga: Oman Surati Uni Emirat Protes Serangan Saudi Atas Kedubesnya Di Yaman)

Oktober lalu, Al Roumi dipilih untuk keanggotaan di Dewan Pengusaha Global (GEC) di PBB sebagai anggota Arab pertama di badan PBB tersebut.

Selain Menteri Negara bidang Kebahagiaan, Kabinet baru Uni Emirat ini juga diwarnai dengan posisi unik lainnya yaitu Menteri Negara untuk Toleransi. Mantan menteri perdagangan luar negeri, Sheikha Lubna Khalid Al Qasimi, menjadi orang yang dipercaya Sheikh Mohammed menduduki pos baru tersebut.

Perdana menteri juga mengungkapkan harapannya bahwa Dubai akan terus menjadi kota yang ramah-bisnis dan akan menjadi tuan rumah World Expo pada tahun 2020. Kabinet tersebut diumumkan 48 jam setelah Sheikh Mohammed menyatakan rencananya untuk memprivatisasi beberapa layanan publik dan menyatukan beberapa Departemen dalam pemerintahannya.

Bagaimanapun juga, kebijakan tersebut mengundang kritik dari aktivis hak asasi manusia (HAM). Nicholas McGeehan, peneliti di pemantau HAM, menganggap Menteri Kebahagiaan hanya khayalan semata di sebuah negara yang didominasi raja-raja bukan pilihan rakyat. “Kamu bisa bahagia selama kamu tutup mulut,” sindir McGeehan. (ARN)

About ArrahmahNews (12475 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: