News Ticker

Koalisi AS-Rusia Perebutkan Benteng Terakhir ISIS di Raqqa

12 Februari 2016,

DAMASKUS, ARRAHMAHNEWS.COM – Perlombaan menaklukkan Raqqa antara koalisi Rusia dengan koalisi pimpinan AS di Timur Suriah dari cengkeraman ISIS semakin memanas.

Raqqa di Timur Suriah dikendalikan oleh teroris ISIS begitu juga kota-kota lain di sepanjang Efrat, Irak. Untuk mengalahkan teroris ISIS di Raqqa, maka Deir Ezzor dan kota-kota lain di Timur Suriah harus dibebaskan terlebih dahulu. (Baca juga: Erdogan; AS Ciptakan “Kolam Darah” di Wilayah Kurdi Suriah)

Jika AS dan sekutunya bisa mengambil alih Raqqa atau Deir Ezzor dan kota-kota yang terletak di bagian Timur Suriah, maka hal itu dapat digunakan sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan kekuatan negosiasi dengan Suriah dan sekutunya atas masa depan Suriah. jika tidak, maka AS bisa menciptakan negara baru yang membentang dari timur-Suriah hingga barat-Irak. Mosul akan menjadi bagian dari negara Sunni dan mungkin akan berada dalam kendali Turki.

Sementara Rusia dan sekutunya, mempertahankan kesatuan Suriah adalah tujuan utama. Karena membiarkan Raqqa dan membiarkan ladang minyak Timur dikuasai AS akan menjadi kerugian yang menghancurkan bagi Suriah. Oleh karena itu Suriah dan sekutunya harus mengalahkan AS dan sekutunya dalam perlombaan merebut Raqqa dan seluruh Timur Suriah. (Baca juga: Rusia; Intervensi Militer Saudi di Suriah Deklarasi Perang)

Menurut Southfront, Suriah hanya perlu membuat langkah besar pertama, yakni Brigade Angkatan Darat Arab Suriah harus menyerang posisi teroris ISIS di sepanjang Ithriyah hingga jalan menuju Raqqa. Kota Tal Abu Zayhn telah diambil alih dalam operasi pertama untuk merebut bandara militer Tabaqah. Pasukan pendukung dari koalisi Rusia-Suriah juga harus mengaktifkan serangan di Ithriyah.

Sementara AS masih dalam persiapan menuju Timur Suriah. Rencana pertama AS adalah menggunakan kekuatan YPG Kurdi Suriah dari timur laut Suriah. Kekuatan ini akan menyerang Raqqa dari utara, tapi Kurdi tidak ingin menginvasi mereka. Karena tujuan mereka adalah untuk menghubungkan kantong-kantong Kurdi di Suriah ke barat daya sepanjang perbatasan Turki.

AS akan datang dengan sebuah rencana baru. Sejauh ini hanya ada sketsa dan berikut ini hanya sebuah informasi spekulasi. AS juga telah memperpanjang landasan pacu dari pertanian Rumeilan atau lapangan udara Abu Hajar di daerah yang dikendalikan Kurdi di timur laut Suriah,  untuk dapat melakukan operasi yang lebih besar di area yang lebih luas:

Lokasi ini telah dipilih karena hanya 100 mil (160 kilometer) dari posisi garis depan ISIS dan beberapa ladang minyak yang menguntungkan, tapi berada dalam wilayah yang dikuasai pejuang Kurdi yang dikenal sebagai YPG. Landasan pacu hampir dua kali lipat panjang dari sekitar 2.300 kaki ke 4.330 kaki (700 untuk 1.320 meter) untuk melayani pesawat transport C130 dan pesawat kesil seperti  apron juga sedang diaspal. (Baca juga: Pasukan Khusus AS Ambil Alih Sebuah Bandara di Suriah)

Beberapa pasukan khusus AS dilaporkan sudah beroperasi dan melakukan misi pengintaian. Salah satu Divisi 101st Airborne mengungkapkan akan pergi ke Irak untuk melatih, memberikan nasihat dan membantu pasukan Irak untuk menyerang Mosul.

“1.800 tentara dari Markas 101 dan Combat Team 2 akan segera di rotasi rutin ke Baghdad dan Irbil untuk melatih dan menasehati tentara Irak serta pasukan Peshmerga Kurdi yang diharapkan dalam beberapa bulan mendatang dapat bergerak menuju Mosul, untuk membebaskan kota tersebut”.

Tapi Kolonel Pat Lang diberitahu bahwa dua brigade dari 101 akan dikerahkan. Saya diberitahu hari ini bahwa dua brigade dari Divisi Lintas Udara 101 akan ke Irak, bukan hanya satu. Ini mungkin berhubungan dengan Saudi.

Saudi “juggernaut” adalah pengumuman baru bahwa Saudi akan bersedia untuk mengirim pasukan ke Suriah. Saudi hari ini kembali menegaskan niat mereka, bahwa keputusan untuk mengirim pasukan ke Suriah dalam upaya untuk meningkatkan dan menguatkan upaya melawan militan adalah ” keputusan akhir” dan “tidak dapat diubah,” kata juru bicara militer Saudi yang mengumumkan pada hari Kamis (11/02). Jenderal Ahmed Al-Assiri, mengatakan bahwa Riyadh “siap” dan akan bertarung bersama sekutu koalisinya yang dipimpin AS untuk mengalahkan militan ISIS di Suriah. Bagaimanapun, dia mengatakan Washington lebih cocok untuk menjawab pertanyaan tentang rincian lebih lanjut mengenai operasi darat di masa depan… Pernyataan itu datang dari Pangeran dan Menteri Pertahanan Saudi Mohammed bin Salman mengunjungi markas NATO di Brussels untuk membahas perang saudara di Suriah.

Saudi akan berjuang di bawah kendali brigade dari 101 yang tidak diumumkan untuk pergi ke Mosul. Kemungkian Saudi akan menyebarkan pasukannya melalui lapangan terbang dikendalikan AS di Barat Irak menuju Suriah. Sementara brigade dari 101 mungkin akan bergerak dari daerah Kurdi di utara Irak melalui daerah Kurdi di timur laut Suriah menuju Raqqa. Maka Raqqa akan diserang dari timur laut dan tenggara. Bandara Rumeilan atau Abu Hajar akan menjadi salah satu basis utama. (Baca juga: Intervensi Saudi Merubah Peta Perang di Suriah)

Langkah seperti itu akan cukup besar dan jarak yang relatif lama. Tapi sebagian besar daerah gurun dan peralatan militer bermotor yang modern bisa dengan mudah menutupi jarak mereka dalam satu atau dua hari. Ini akan menempatkan pasukan Saudi ke Suriah. Jika mereka mengambil Raqqa atau Deir Ezzor dan ladang minyak di Timur Suriah, maka Saudi tidak pernah akan melepaskannya kecuali Suriah mau bertekuk lutut memenuhi permintaan Saudi.

Rencananya dapat dilaksanakan tetapi juga akan memicu mobilisasi besar pasukan koalisi Rusia dan bisa menimbulkan konflik yang lebih besar. Perdana Menteri Medvedev pun telah memperingatkan hari ini bahwa jika pasukan Arab Saudi mengintervensi perang Suriah, maka hal itu bisa memicu perang yang lebih luas di kawasan. (Baca juga: Rusia Sebut Saudi Picu “Perang Dunia Baru” )

Operasi Saudi rencananya akan dimulai dalam waktu dua bulan ke depan. Pasukan pemerintah Suriah dan sekutu mereka harus buru-buru ke timur untuk melindungi kedaulatannya. Dalam hal ini, AS mungkin akan menghambat pergerakan pasukan Suriah untuk sampai ke timur dengan cara apapun yang ia memiliki, termasuk dengan dalih “salah” target atau “keliru”. (ARN)

About ArrahmahNews (12499 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

2 Comments on Koalisi AS-Rusia Perebutkan Benteng Terakhir ISIS di Raqqa

  1. GrandiosoHameed // Feb 12, 2016 at 5:15 pm // Balas

    us as the captain of terrorist groups consisting of israel, saudi arabia, turkey, and gulf states will meet in the syrian battle field against freedom forces consisting of russia, syria, iran, irak, and hezbollah. The war will be decisive for the future shape of the world if one side comes as the winner, and the question is still open to answer whether there will be peace or the end of the entire world, only Allah swt, the almighty, knows….

  2. syaiful ab // Mar 21, 2016 at 9:45 am // Balas

    Arab saudi wahabi adalah pelayan amerika dan ziones.tangan 2 yg berkumuran darah kaum muslimin itu apakah masih layak menjadi pelayan kesucian mekah dan madinah. Diam negara2 islam terhadap kejahatan saudi berarti dukungan diam2 kpd kejahatan kemanusiaan yg terjadi skrang ini.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: