News Ticker

Bencana Berdarah Akan Mengguyur Timur Tengah, Jika Turki dan Saudi Menginvasi Suriah

18 Februari 2016,

DAMASKUS, ARRAHMAHNEWS.COM – Setelah keterlibatan tentara militer Rusia yang semakin berani dalam menggempur kelompok-kelompok teroris di Suriah, dalam rangka mendukung Presiden Bashar Assad. Sementara Turki dan sekutunya, Arab Saudi merasa gugup dan tidak mampu mempengaruhi perang saudara dari banyak kelompok-kelompok teroris yang memerangi pasukan Assad. (Baca juga: PUTIN MARAH.. Jika Qatar dan Saudi Tetap Dukung Teroris, Rusia Tak Segan Perangi Mereka)

Baru-baru ini, Turki dan Saudi setelah berminggu-minggu bernegosiasi, memutuskan untuk melenturkan otot-otot mereka dengan bergabung dan terlibat langsung dalam perang melawan pasukan Bashar Assad. Ini berbahaya bagi Barat. Ini beresiko dapat memprovokasi keterlibatan lebih lanjut Rusia dan Iran di Suriah, dan memicu konfrontasi NATO-Rusia.

Setelah Turki menuduh Rusia melakukan pelanggaran wilayah udara, menembak jatuh Su-24 Rusia pada 24 November lalu, Rusia telah menggunakan insiden itu sebagai dalih untuk memperkuat penyebaran militer di Suriah dan menarget posisi oposisi moderat. Mereka adalah kelompok teroris “miitan moderat” yang memerangi pasukan Assad dan didukung oleh Turki, Saudi dan Qatar. Rusia juga mengambil langkah strategis dengan menempatkan sistem pertahanan rudal S-400. (Baca juga: Putin Marah Besar: Jet Tempur Sukhoi SU-24 Ditembak, Ternyata Turki Tusuk Kami dari Belakang)

Khawatir bahwa pemain baru dalam permainan vital dapat merusak rencana mereka yang menginginkan perubahan rezim di Damaskus. Turki dan Saudi sekarang mengatakan mereka siap untuk menantang blok yang terdiri dari pasukan Assad, Rusia, dan Iran serta gerakan Hizbullah.

Seperti biasa, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu mengingatkan “kulit Turki lebih buruk dari gigitannya, itu “Tidaklah benar”, katanya pada 9 Februari”.

Dia juga mengatakan, “harus melupakan bagaimana pasukan Soviet sebagai kekuatan yang super perkasa selama Perang Dingin, yang memasuki Afghanistan, kemudian meninggalkan Afghanistan seperti layaknya budak. Mereka yang masuk Suriah hari ini juga akan meninggalkan Suriah dengan cara yang sama”. Dengan kata lain, Davutoglu ingin mengatakan kepada Rusia ‘Keluar dari Suriah’, kami datang. Rusia bahkan tidak menjawab. Mereka hanya bisa melakukan pengeboman. (Baca juga: Membongkar Permainan Busuk Turki di Suriah)

Turki terus mengancam akan meningkatkan peran militernya di Suriah. Wakil Perdana Menteri Yalcin Akdogan berjanji bahwa Turki tidak akan lagi berada dalam “posisi defensif” lebih menjaga kepentingan keamanan nasional di tengah perkembangan di Suriah. “tim mana pun” katanya bisa “bermain defensif sepanjang waktu, tetapi masih dapat memenangkan pertandingan? … Anda dapat memenangkan pertandingan dengan bermain defensif dan Anda bisa kehilangan apa pun yang Anda miliki. Ada situasi yang sangat dinamis di wilayah dan harus membaca situasi ini dengan baik. Salah satu harus berakhir karena kekhawatiran dan ketakutan. “

Apakah NATO akan bermain dalam perang yang dikobarkan Turki untuk merubahnya menjadi perang sektarian? Dan sekutu Arab yang bergabung di Suriah? Jika sekutu tidak menggertak, paling tidak mereka sudah memberikan sinyal tentang apa yang akan terjadi dan merubah Suriah menjadi kolam berdarah dalam perang proxy dan sektarian di Suriah. (Baca juga: Kesaksian Putra Ulama Al-Buthi, Tidak Ada Perang Sektarian (Sunnah-Syiah) di Suriah)

Pertama, Arab Saudi mengumumkan akan mengirim jet tempur ke pangkalan udara Incirlik di Turki selatan, di mana AS dan pesawat sekutu lainnya telah melakukan operasinya di dalam wilayah Suriah. Para pejabat militer Saudi mengatakan bahwa pesawat tempur mereka akan mengintensifkan operasi udara di Suriah.

Kedua, dan yang lebih mengkhawatirkan, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan bahwa Turki dan Arab Saudi bisa terlibat dalam operasi darat di dalam wilayah Suriah. Dia juga mengatakan bahwa kedua negara telah lama menimbang operasi lintas perbatasan ke Suriah dengan dalih memerangi ISIS, tetapi sebenarnya tujuan mereka adalah memperkuat kelompok-kelompok teroris yang sekarat karena serangan udara Rusia.

Sebaliknya, para pejabat Saudi terlihat lebih agresif dalam rencana intervensi militer. Jenderal Asiri mengatakan bahwa operasi darat Turki-Saudi di Suriah sedang direncanakan. Dia bahkan mengatakan bahwa ahli militer Turki dan Saudi akan bertemu dalam beberapa hari mendatang untuk menyelesaikan “rincian, gugus tugas dan peran yang akan dimainkan oleh masing-masing negara”.

Damaskus, rezim Suriah mengatakan bahwa operasi darat di dalam wilayah kedaulatan Suriah ini adalah “Sebuah bentuk agresi yang harus dilawan”. (Baca juga: Bashar Assad: Rakyat dan Pemerintah Suriah Bukan Budak Barat)

Tentu ini, mengkhawatirkan Barat jika Turki dan Saudi, dua sekutu penting AS, benar-benar memutuskan untuk menginvansi wilayah Suriah dalam rangka mendukung kelompok-kelompok teroris. Itu mungkin akan membuka bencana yang lebih buruk dan besar di Suriah, mungkin akan berlanjut 10 sampai 15 tahun ke depan. (ARN)

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: