News Ticker

Hollande; Moskow Harus Berhenti Mendukung Presiden Suriah Bashar Assad

20 Februari 2016,

PARIS, ARRAHMAHNEWS.COM – Presiden Prancis François Hollande mengatakan Moskow harus berhenti mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad dengan menolak resolusi PBB yang disusun oleh Barat yang bertujuan untuk menghentikan aksi militer Turki di Suriah utara. (Baca juga: Blunder Hollande; Assad Bukan Musuh Kami, Tapi ISIS)

“Rusia tidak akan berhasil dengan rencana sepihak mendukung Bashar al-Assad. Itu tidak mungkin, kita semua melihatnya. Karena tidak akan ada hasil di lapangan, tidak akan ada negosiasi dan akan selalu ada perang, “kata Hollande kepada Radio France pada hari Jumat (20/02).

Dia pula menambahkan bahwa “harus ada tekanan kepada Moskow” sehingga membantu untuk memulai kembali perundingan perdamaian di Suriah.

Putaran terakhir perundingan antara pemerintah Suriah dan oposisi yang didukung Saudi – yang dikenal sebagai Komite Tinggi Negosiasi (HNC) yang berlangsung pada 3 Februari di kota Jenewa, Swiss. Dan putaran berikutnya dijadwalkan akan diselenggarakan pada 25 Februari. Namun, Utusan Khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura mengatakan pada hari Jumat (20/02) bahwa pembicaraan tidak mungkin dapat dilakukan dalam waktu dekat, itu tidak realistis.

Pada tanggal 12 Februari, Internasional Syria Support Group (ISSG) menyepakati gencatan senjata nasional di Suriah yang akan dimulai satu minggu ke depan, dalam pembicaraan di Munich. Kesepakatan itu juga ditandai dengan mempercepat dan memperluas pengiriman bantuan kemanusiaan ke negara itu. Menurut pernyataan ISSG, gencatan senjata di Suriah tidak termasuk daerah yang diduduki oleh kelompok yang disebut sebagai organisasi teroris oleh Dewan Keamanan PBB, termasuk ISIS dan cabang al Qaeda, Front Al Nusra. (Baca juga: Menlu Perancis; Presiden Bashar Assad Tidak Harus Mundur)

Rusia mulai kampanye udara di Suriah pada 30 September 2015 atas permintaan pemerintah Damaskus dan mandat PBB. Serangan udara Rusia berhasil membuat kemajuan pasukan Suriah dengan membebaskan daerah-daerah yang dicengkeram kelompok teroris yang didukung asing yang beroperasi di Suriah.

Risiko Perang Turki-Rusia

Mengenai peningkatan keterlibatan Ankara dalam krisis Suriah, Presiden Prancis mengatakan itu akan menciptakan risiko perang antara Turki dan Rusia.

Ankara telah menargetkan posisi pejuang Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) sayap militer dari Uni Demokratik Kurdi (PYD) di utara Suriah, selama hampir seminggu dalam upaya untuk menghentikan pasukan Kurdi mencapai perbatasan Suriah dengan Turki, sementara pasukan Suriah terus membuat keuntungan dengan pembebasan daerah-daerah di perbatasan. (Baca juga: Pengkhianatan Menyakitkan NATO dan AS Kepada Erdogan)

Turki di antara beberapa negara yang bersikeras menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghentikan perang di Suriah adalah dengan mengerahkan pasukan darat di wilayah utara Suriah. “Turki terlibat di Suriah … Ada risiko perang terbuka” kata Hollande kepada Radio France. “Itulah mengapa Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat” kata Hollande.

Draf Resolusi Rusia

Dewan Keamanan mengadakan pertemuan darurat pada hari Jumat sore atas permintaan Moskow untuk membahas perkembangan Suriah, termasuk membahas resolusi disusun oleh Rusia yang menyerukan DK PBB untuk menghentikan “penumpukan militer dan rencana intervensi darat ke dalam wilayah negara Republik Arab Suriah. “

Resolusi itu juga meminta negara-negara untuk “menahan diri dari retorika provokatif dan pernyataan yang menghasut kekerasan lebih lanjut serta gangguan dalam urusan internal Suriah.” Rancangan itu, bagaimanapun ditolak oleh perwakilan dari Perancis, Amerika Serikat dan Inggris pada pertemuan tersebut.

“Rusia harus memahami bahwa dukungan tanpa syarat kepada Bashar al-Assad adalah jalan buntu, dan jalan buntu yang bisa sangat berbahaya” kata Duta Besar Prancis untuk PBB François Delattre sesaat menjelang pertemuan seperti yang dikutip Reuters. “Kami menghadapi eskalasi militer berbahaya yang bisa dengan mudah keluar dari kendali dan membawa kita pada perang terbuka”, tambahnya. (Baca juga: Harian Perancis: Putin, Sang Pahlawan Tak Kenal Kompromi Yang Susahkan Barat)

Duta Besar AS untuk PBB Samantha Power mengatakan Rusia “mencoba untuk mengalihkan perhatian dunia” dengan rancangan resolusi, dan menyerukan Moskow untuk fokus pada pelaksanaan resolusi PBB yang disetujui oleh 15 anggota dewan pada bulan Desember tahun lalu yang mendukung sebuah peta internasional untuk proses perdamaian Suriah.

Resolusi yang diadopsi pada tanggal 18 Desember, menyerukan gencatan senjata nasional di Suriah dan pembentukan pemerintah yang “kredibel, inklusif dan non-sektarian” dalam waktu enam bulan dan diawasi oleh PBB melalui mekanisme “pemilihan umum yang bebas dan adil” dalam waktu 18 bulan.

Blunder Hollande

Sementara itu Senin 16 November 2015, Presiden Perancis, Francois Hollande, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menjadi blunder dalam sebuah pertemuan penting parlemen Perancis. Saat itu Hollande mengatakan “Di Suriah, kami mencari solusi politik untuk masalah ini, dan itu bukanlah Bashar Assad. Musuh kami di Suriah adalah ISIS”, Reuters melaporkan.

Berbicara dalam kongres parlemen Perancis, Hollande, yang melewatkan KTT G20 di Turki karena serangan teroris di Paris, mengatakan ia akan melakukan perjalanan ke Washington dan Moskow dalam usaha untuk “bergabung” melawan terorisme. (ARN)

About ArrahmahNews (12499 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Hollande; Moskow Harus Berhenti Mendukung Presiden Suriah Bashar Assad

  1. YANG JELAS DAJJAL AS DAN SRIGALA NATO ( TERMASUK PERANCIS ) HARUS KELUAR DARI TIMUR TENGAH .

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: