News Ticker

Erdogan “Memang Gila”, Rusia Diuji Hadapi Kegilaannya ;VIDEO

21 Februari 2016,

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Selama seminggu terakhir tidak terlihat penurunan ketegangan antara Turki dan Rusia atas Suriah. Sementara posisi Rusia sederhana -‘kami siap untuk melawan’- sedangkan posisi Turki jauh lebih ambigu: politisi Turki saling berlawanan, sikat sana-sini antara mendukung Erdogan dan menolak langkahnya. Terkadang mereka menyatakan invasi sudah dekat, dan kadang-kadang mereka mengatakan bahwa “Turki tidak berencana menginvasi sepihak”.

Masalahnya adalah bahwa Eropa tidak memiliki keinginan untuk terlibat perang melawan Rusia. Pada saat yang sama, AS dan Perancis menolak untuk memungkinkan Resolusi PBB yang akan menegaskan kembali kedaulatan Suriah. Yup, itu benar. AS dan Perancis tampaknya berpikir bahwa Piagam PBB (yang menegaskan kedaulatan semua negara) tidak berlaku untuk Suriah. Aneh…!

Ada rumor bahwa komandan militer Turki, termasuk yang menentang serangan terhadap Suriah dan mereka tidak menginginkan ambil bagian dalam perang dengan Rusia. Saya tidak menyalahkan mereka karena mereka memahami dengan baik dua hal sederhana: Pertama, Turki tidak perlu perang hanya untuk Erdogan. Kedua, ketika Turki dikalahkan, Erdogan akan menyalahkan militer. Ada juga tanda-tanda perbedaan pendapat di pemerintah AS terkait perang. Neokonservatif mendukung kampanye perang Erdogan dan mendorongnya menuju perang seperti yang mereka lakukan dengan Saakashvili. Sementara Gedung Putih berusaha “mendinginkan” Erdogan. Sedangkan Turki sendiri, mereka mengkupas posisi Kurdi di Suriah dengan melintasi perbatasan, setidaknya pasukan darat telah terlihat melintasi perbatasan.

Dari sudut pandang militer murni, benar-benar tidak masuk akal Turki mengerahkan pasukan di perbatasan, menyatakan bahwa mereka akan menyerang, kemudian berhenti, melakukan beberapa penembakan dan kemudian hanya mengirim unit kecil ke seberang perbatasan.

Apakah Turki melakukan persiapan diam-diam dengan meningkatkan tingkat kesiapan pasukan mereka kemudian menyerang secepat Rusia? Keuntungan dari serangan mendadak begitu besar bahwa hampir setiap pertimbangan lain harus disisihkan untuk mencapai itu. Turki melakukan sebaliknya, mereka mengiklankan niat mereka untuk menyerang dan sekali pasukan mereka siap, mereka hanya berhenti di perbatasan dan mulai mengeluarkan deklarasi yang sepenuhnya bertentangan. Hal ini membuat benar-benar tidak masuk akal.

Situasi yang semakin kacau ini menunjukkan bahwa Erdogan sudah jelas gila dan tampaknya ada pertikaian hebat dan serius di antara pemimpin politik Turki dan militer.

Selain itu, tampaknya ada gesekan antara Amerika Serikat dan rezim Erdogan. Hal itu dapat dilihat saat kepala penasehat Erdogan, Seref Malkoc, mengatakan bahwa Turki mungkin menolak penggunaan Lanud Incirlik untuk digunaan sebagai basis serangan terhadap ISIS, jika AS tidak menyebut YPG sebagai kelompok teroris. Erdogan kemudian menolak pernyataan ini, tapi kenyataan Turki sedang memeras Amerika Serikat. Bahkan Erdogan membuat pernyataan, “Pada bulan lalu dalam pertemuan saya dengan dia (Presiden AS Barack Obama), saya mengatakan kepadanya untuk memasok senjata. Tiga pesawat kargo tiba, setengah dari senjata itu diberikan teroris ISIS dan setengah dari lainnya ke PYD/YPG”. Jika Erdogan dan para penasihatnya serius percaya bahwa mereka secara terbuka dapat memeras negara adidaya seperti Amerika Serikat. Setidaknya, kegaduhan politik di Turki benar-benar akan membuat mereka runtuh akibat tekanan yang mereka ciptakan sendiri.

Mungkin saja orang Turki akan menyerah pada gagasan gila ini atau mereka akan membatasi diri dengan ‘mini-invasi’ hanya beberapa mil di seberang perbatasan, tapi bagaimana Erdogan dan orang gila di sekelilingnya? Mungkin militer Turki harus menyadari bahwa negara ini dipimpin oleh orang gila dan sedang melakukan kegilaan?

Namun, Rusia tidak mau mengambil risiko dan mereka telah menempatkan semua kekuatan mereka pada waspada tinggi. Mereka telah mengirimkan Tu-214 R -pesawat nya paling maju dan canggih ISR (Surveillance Intelijen Reconnaissance). Coba anda pikirkan Tu-214 R “AWACS for the ground”, jenis pesawat yang digunakan untuk memantau pertempuran darat skala besar. Di Rusia selatan, pasukan Aerospace telah mengorganisir latihan skala besar yang melibatkan sejumlah besar pesawat yang akan digunakan dalam perang melawan Turki, seperti SU-34s dan Su-35. Angkatan Udara siap, gugusan pasukan angkatan laut di lepas pantai Suriah sedang ditambah. Pengiriman senjata telah dipercepat. Jet-jet tempur Rusia juga telah dipindahkan ke pangkalan militer Armenia, dekat perbatasan Turki. Intinya sederhana dan jelas: Rusia tidak membuat ancaman apapun – tapi mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang. Bahkan, sekarang mereka siap.

Hal ini meninggalkan pertanyaan penting untuk ditanyakan: apa yang akan dilakukan Rusia jika kekuatannya yang masih relatif kecil di Suriah diserang oleh orang Turki? Akankah Rusia menggunakan senjata nuklir?

Setidaknya seorang reporter Robert Parry mengatakan bahwa “Sebuah sumber yang dekat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada saya bahwa Rusia telah memperingatkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahwa Moskow siap untuk menggunakan senjata nuklir taktis jika diperlukan untuk menyelamatkan pasukan mereka dari serangan Turki”. Apakah itu benar-benar mungkin? Akankah Rusia benar-benar menggunakan senjata nuklir, jika hal terburuk terjadi di Suriah?

Doktrin Militer Rusia sangat jelas tentang penggunaan senjata nuklir. Ini adalah paragraf yang termuat dalam undang-undang Rusia:

27. Federasi Rusia berhak untuk menggunakan senjata nuklir dalam menanggapi penggunaan terhadap dirinya dan (atau) sekutu-sekutunya dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal lainnya, serta dalam kasus agresi terhadap Federasi Rusia dengan penggunaan senjata konvensional dengan cara yang akan mengancam eksistensi dirinya sebagai sebuah negara. Keputusan untuk menggunakan senjata nuklir diambil oleh Presiden Federasi Rusia.

Tidak ada ambiguitas di sini. Kecuali Rusia terancam sebagai sebuah negara dia akan menggunakan senjata nuklir. Ketika AS mengerahkan Airborne ke Arab Saudi sebagai bagian dari Desert Shield, Pentagon sepenuhnya mengerti bahwa militer Irak bisa lebih jauh menginvasi Arab Saudi. Maka USAF dan USN bisa memberikan cukup serangan udara untuk menghentikan kemajuan Irak, tetapi jika tidak maka senjata nuklir taktis akan digunakan. Namun, Situasi di Suriah berbeda dengan Irak.

Gugus tugas Rusia di Suriah bukanlah infanteri angkatan tripwire seperti 82 di Irak. Medan dan kekuatan lawan juga sangat berbeda. Kedua, kontingen Rusia di Suriah dapat mengandalkan senjata dan dukungan dari Angkatan Laut Rusia di Laut Kaspia dan Laut Tengah. Rusia bisa menghitung dalam mendukung militer Suriah, pasukan Iran, Hizbullah dan Kurdi Suriah yang kini secara terbuka bergabung dengan 4 + 1 aliansi (Rusia, Iran, Irak, Suriah dan Hizbullah) memutar menjadi aliansi 4 + 2 saya kira.

Ada satu fitur penting dari aliansi 4 + 2 ini yang harus benar-benar memberikan Turki insentif yang kuat untuk berhati-hati sebelum mengambil tindakan apapun. Setiap anggota aliansi 4 + 2 ini memiliki pengalaman militer yang luas, yang jauh lebih baik daripada militer Turki. Militer modern Turki jauh lebih mirip dengan militer Israel pada tahun 2006 – memiliki banyak pengalaman meneror warga sipil dan bukan kekuatan terlatih untuk melawan perang “nyata”. Ada resiko yang sangat nyata untuk Turki bahwa jika mereka benar-benar menyerang Suriah mereka mungkin berakhir menghadapi mimpi buruk yang sama seperti Israel lakukan ketika mereka menyerbu Lebanon pada tahun 2006.

Sementara itu, Rusia yang didukung pasukan Suriah terus maju membabat kelompok-kelompok teroris. Sejak awal kontra-ofensif mereka di Suriah telah berhasil merebut kembali semua lokasi strategis di barat Suriah dan mereka sekarang mengancam Raqqa. Lihat video berikut ini;

Intinya adalah ukuran dan kemampuan gugus tugas Rusia di Suriah telah berkembang dan tingkat kolaborasi antara unsur-unsur dari aliansi 4 + 2 telah meningkat dan terkoordinasi dengan baik. Menambah kemampuan ini untuk menyebarkan resimen kekuatan Airborne di Latakia jika diperlukan, dan anda akan mulai melihat Turki mengambil risiko besar jika mereka menyerang pasukan Rusia, meskipun Rusia tidak mengancam penggunaan senjata nuklir taktis. Bahkan, saya tidak melihat skenario singkat kemungkinan serangan AS / NATO di mana Rusia akan menggunakan senjata nuklir taktis nya.

Terus terang, situasi ini jauh dari terselesaikan. Bukan suatu kebetulan bahwa ketika gencatan senjata seharusnya mulai berlaku, tiba-tiba Turki disergap serangan teroris, lalu menuding Kurdi Suriah berada dibalik serangan itu. Ini terlihat seperti seseorang sedang berusaha keras mengatur tabrakan dahsyat Turki dengan Rusia, bukan?

Rusia jelas berhadapan dengan rezim yang secara bertahap “kehilangan akal”, mereka memukul semua orang, mereka takut minoritas mereka sendiri (Kurdi) dan kecenderungan mereka untuk kekerasan dan teror lebih menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam perang konvensional. Apakah yang mengingatkan Anda tentang orang lain?

Nah, coba tebak, mereka memimpikan bentuk aliansi anti-Rusia dengan Turki sekarang. tidak ada yang luar biasa? Bayangkan saja apa aliansi Ukraina-Turki-Arab akan terlihat seperti kehidupan nyata “Islamo-Fasis” preman yang menggabungkan fanatisme, kebencian, korupsi, kekerasan, nasionalisme dan ketidakmampuan militer. Kombinasi beracun, tapi tidak layak. (ARN)

Sumber ; Unz Review

About ArrahmahNews (12505 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: