News Ticker

Catherine Shakdam: Turki-Saudi Bangkitkan Imperialisme Ottoman di Suriah

24 Februari 2016,

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Turki memiliki hak untuk melakukan operasi militer di Suriah dan di tempat lain demi melindungi diri dari ancaman terorisme. Itulah yang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan katakan dalam sebuah konferensi pada hari Sabtu di sebuah acara merayakan masuknya provinsi Gaziantep, tenggara Turki, dalam daftar Jaringan Kota Kreatif UNESCO. (Baca juga: Di Puncak Gunung Sinjar, Wajah-Wajah Terlupakan dari Kampanye Genosida ISIS)

Berbicara dalam acara tersebut, Erdogan juga menekankan bahwa posisi Ankara “benar-benar tidak ada hubungannya dengan hak-hak kedaulatan negara-negara yang tidak dapat mengontrol integritas teritorial mereka.” Dia berargumen bahwa, sebaliknya, justru hal itu menunjukkan kemauan Turki untuk melindungi hak kedaulatannya. (Baca juga: HIPOKRIT! Obama Setujui Gencatan Senjata, Pentagon-CIA Ingin Tekan Moskow di Suriah)

Komentar Erdogan yang terbaru itu dibuat setelah masyarakat internasional mengecam Ankara atas penembakan yang mereka lakukan terhadap pasukan YPG di Suriah utara.

Catherine Shakdam, Direktur Program untuk Shafaqna Institute for Middle Eastern Studies berbicara kepada Sputnik dalam sebuah wawancara eksklusif, dan mengatakan bahwa kebijakan Turki di Suriah hanya ditujukan untuk melindungi kepentingan pribadi Erdogan (Baca juga: Kemenlu Suriah: Serangan Teror Bom Adalah Taktik Turki-Saudi Hambat Upaya Diplomatik)

“Dengan keuntungan, maksud saya dengan adanya Daesh (ISIS) dan kelompok radikal lain yang menciptakan kekacauan di Suriah, ia (Erdogan) tidak berusaha untuk mengalahkan atau memerangi terorisme tetapi sebenarnya sedang mencoba untuk menggunakan teror sebagai senjata destabilisasi massal di Suriah karena ia sedang mencoba untuk menciptakan Kekaisaran Ottoman, mungkin bukan seperti (kekisaran Ottoman) yang dulu, tapi untuk membuat koloni negara yang akan mengindahkan semua kehendak Ankara. Dan itulah kenyataan baru yang kita hadapi hari ini.” jelas Shakdam sebagaimana dikutip Sputnik pada Selasa (23/02).

Shakdam lebih lanjut berbicara mengenai bagaimana Turki dengan seenaknya melakukan serangan militer di luar perbatasannya atas nama keamanan nasional yang benar-benar tidak masuk akal. (Baca juga: Financial Times Cibir Turki yang Mulai Tenggelam Dalam Siklus Kekerasan)

“Ini kembali ke ide eksepsionalisme Amerika Serikat. Dan sekarang Anda memiliki negara-negara seperti Turki dan Arab Saudi yang mencoba untuk membenarkan imperialisme mereka sendiri dan pelanggaran mereka terhadap hukum internasional. Anda tidak bisa berargumen bahwa tidak apa-apa menyerang bangsa Suriah yang berdaulat, hanya karena Anda merasa terancam oleh terorisme. Anda jelas perlu bekerja sama dengan negara itu, Anda akan perlu untuk membuat aliansi dengan negara itu. Anda tidak dapat melangkah di luar hukum untuk melawan kelompok teror, yang berada di luar hukum, karena berarti Anda sendiri nanti justru akan menjadi sebuah negara teror,” kata Shakdam kepada Sputnik.

Analis itu kemudian berbicara mengenai bagaimana realitas telah begitu dicampur aduk dan diputar balik. Ia mengatakan bahwa satu-satunya alasan mengapa ada perang di Suriah sejak awal adalah karena ada perang melawan teror, dan teror ini telah dibantu dan didanai oleh kekuatan-kekuatan asing. (Baca juga: MENGERIKAN! Militer Turki Bakar 150 Orang Kurdi Hidup-hidup)

“Jika Erdogan masih tertarik untuk membantu Suriah, maka mengapa ia tidak mencoba dan terlibat dengan Damaskus? Mengapa ia tidak mencoba dan melakukan apa yang telah dilakukan Rusia, yang benar-benar mematuhi aturan hukum dan melakukan hal-hal sesuai aturan? “

“Jika Anda melihat Iran di Suriah, itu adalah apa yang mereka lakukan. Karena mereka bertindak atas undangan Presiden Bashar-al-Assad, karena mereka memahami bahwa terlepas dari politiknya dan terlepas dari beberapa hal yang mungkin mereka tidak setujui, Bashar masih resmi mewakili kantor dan lembaga yang harus kita hormati. Jika tidak, maka semuanya kacau”. (Baca juga: Catherine Shakdam: Adu Domba Asing dan Kelicikan Saudi Diantara Perlawanan Bangsa Yaman)

Shakdam menekankan bahwa bangsa-bangsa di dunia harus bangkit di atas sentimen pribadi mereka demi melaksanakan kebijakan luar negeri yang tepat.

Analis itu mengatakan bahwa Presiden Erdogan merasa percaya diri karena didukung Saudi. “Erdogan tidak akan sendirian karena Arab Saudi akan membantunya. Kedua negara itu berusaha untuk memaksa negara-negara Barat agar terlibat. Dan Arab Saudi memiliki lobi yang sangat kuat di Amerika Serikat. Mereka mengontrol banyak kepentingan keuangan Amerika. Jadi, inilah kenyataannya, bahwa banyak politisi yang sekarang masih berpikir bahwa AS dan NATO-lah yang mengendalikan Ankara dan Riyadh, tapi saya benar-benar akan berpendapat bahwa keseimbangan kekuasaan itu telah benar-benar terbalik.

Ia lebih lanjut menambahkan bahwa menurutnya kekuatan Barat memahami bahaya ini, dan itu adalah resep bagi terjadinya sebuah bencana untuk mereka jika sampai kekuasaan ini menjadi terbalik. (ARN)

About ArrahmahNews (12484 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Pope Francis Sebut Pembantaian Armenia adalah Genosida | ISLAM NKRI

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: