Rusia Ancam AS dan Sekutunya Jika Merusak Gencatan Senjata

25 Februari 2016,

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Rusia mengecam AS dan sekutunya yang menuduh Rusia merusak perjanjian gencatan senjata baru-baru ini disepakati di Suriah yang sarat dengan konflik.

Sergei Lavrov membuat pernyataan itu di Moskow pada Rabu (24/02) saat pertemuan dengan Sam Nunn, co-chairman dan chief executive officer dari Ancaman Nuklir Initiative (NTI), sebuah organisasi amal yang bekerja untuk mengurangi ancaman global dari senjata nuklir, biologi dan senjata kimia. (Baca juga: HIPOKRIT! Obama Setujui Gencatan Senjata, Pentagon-CIA Ingin Tekan Moskow di Suriah)

“Presiden Rusia dan AS menyetujui inisiatif gencatan senjata di Suriah, suara-suara dari Washington dan ibukota sekutu AS mulai mengungkapkan keraguan terhadap kelangsungan dari kesepakatan itu,” kata Lavrov kepada kantor berita RT.

Diplomat top Rusia itu mencatat bahwa keraguan tentang kesepakatan gencatan senjata “terdengar seperti ajakan untuk perang bukan damai”.

Pada hari Senin, Washington dan Moskow mengatakan gencatan senjata telah direncanakan akan berlaku di Suriah pada 27 Februari. Pemerintah Suriah mengatakan pada hari berikutnya bahwa ia menerima persyaratan dari kesepakatan gencatan senjata dengan syarat bahwa Barat menghentikan dukungan mereka kepada teroris, dan gencatan senjata tidak berlaku bagi teroris ISIS dan Front Nusra. (Baca juga: Assad Nyatakan Siap Gencatan Senjata Asal Tak Dimanfaatkan Teroris)

Nunn, memuji kerjasama Rusia-AS dalam penghentian permusuhan di Suriah sebagai sesuatu yang “sangat penting,” dan menyoroti “itikad baik” Washington, Moskow dan kelompok kerja “untuk benar-benar dapat menjalankan perjanjian”.

Konflik Suriah yang disponsori Barat dan negara-negara Arab dimulai pada bulan Maret 2011, telah merenggut nyawa 470.000 orang dan meninggalkan 1,9 juta orang terluka, menurut Pusat Penelitian Kebijakan Suriah.

Sejak September 2014, AS bersama dengan beberapa sekutunya telah melakukan serangan udara terhadap apa yang dikatakan posisi ISIS di Suriah tanpa otorisasi dari Damaskus atau mandat PBB.

Sebaliknya, kampanye anti-teror Rusia di Suriah dimulai sejak akhir September lalu atas permintaan dari Damaskus dan mandat PBB.

Selama beberapa minggu terakhir pasukan pemerintah Suriah yang didukung oleh perlindungan udara Rusia telah berhasil merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai teroris. (ARN)

About ArrahmahNews (12465 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: