News Ticker

Erdogan Kena Perangkap Washington Seperti “Saddam Husein”

27 Februari 2016,

ANKARA, ARRAHMAHNEWS.COM – Washington telah memasang perangkap untuk Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, kata wartawan AS Mike Whitney, dan menambahkan bahwa ‘revolusi’ di Turki mungkin suatu hari akan menjadi kenyataan.

Pada 19 Februari Washington menolak rancangan resolusi yang disusun oleh Rusia yang bertujuan untuk mencegah invasi Turki ke Suriah dalam rapat mendadak di Dewan Keamanan PBB. Keputusan itu sebenarnya pemerintahan Obama memberikan lampu hijau pada operasi darat Ankara di Suriah, wartawan independen US Mike Whitney menyatakan kepada Sputnik. (Baca juga: ISIS Dalam Permainan Sinis Barat Untuk Lindungi Zionis)

“Ini menunjukkan pemerintahan Obama berpikir bahwa pasukan darat Turki bisa memainkan peran penting dalam membentuk hasil dari konflik di Suriah, dan AS masih bertekad untuk menang. Perlu diingat, jika resolusi itu disetujui, ancaman invasi Turki akan telah lenyap”, Whitney menulis analisisnya di CounterPunch.org, dan menambahkan bahwa penolakan resolusi jelas menandakan bahwa Washington tidak menginginkan perdamaian di Suriah.

Meskipun diyakini bahwa Recep Tayyip Erdogan “pemimpin diktator” dan dapat melakukan operasi darat di utara Suriah kapan saja dia mau, itu tidak benar. Karena jenderal Turki tidak ingin menanggung tanggung jawab menyerang negara yang berdaulat. Oleh karena itu, Ankara mencari persetujuan US/NATO atau mandat PBB, wartawan itu menjelaskan. (Baca juga: KEBAKARAN JENGGOT…Erdogan Sebut Gencatan Senjata Bentuk Dukungan Untuk Assad)

Sementara itu, Ankara terus mengobarkan perang rahasia melawan milisi Kurdi Suriah dengan menembaki bagian utara Suriah dan memberikan bantuan kepada teroris yang semakin terpojok, dan mengirim sejumlah militan ke zona perang untuk menekan posisi YPG  dan tentara Arab Suriah.

Whitney menggarisbawahi bahwa pemerintahan Obama sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Namun, sementara ini cukup menegur Erdogan atas penembakan ke utara Suriah, Washington mengakui Turki vokal dalam “membela diri”.

“Ini menunjukkan pendekatan Washington yang bermuka dua” catatan Whitney.

Menurut wartawan itu, ada sesuatu yang sangat mencurigakan terkait Gedung Putih yang memanjakan kegilaan Ankara dalam perang.

Erdogan-Versus-Putin

Di satu sisi, Washington secara tidak langsung mendorong Presiden Turki berkonfrontasi dengan Moskow dan Damaskus di Suriah, untuk mengacaukan keberhasilan operasi Rusia-Suriah. Di sisi lain, serangan Turki akan memperburuk ketegangan di dalam negeri Turki sendiri. (Baca juga: Washington Post: Politik Erdogan Hancurkan Turki

)

“Invasi Turki akan memperburuk perpecahanserius di Turki, dan akan mengikis kekuatan Erdogan sekaligus menciptakan kejatuhannya. AS bisa memanfaatkan hal itu dengan bekerja sama dengan agen-agennya di dalam militer Turki dan badan Intel (MIT),” Whitney menulis.

“Tujuan utamanya adalah akan memicu kerusuhan sosial yang cukup untuk menghasut revolusi yang akan membuang Erdogan dalam kudeta yang diatur Washington, seperti yang dilakukan CIA di Kiev”, ia menekankan.

Peneliti Amerika, sejarawan dan konsultan saham F. William Engdahl memiliki sikap yang sama. Sejarah telah berulang kali, dan memperingatkan bahwa geo strategis licik Washington ini telah membuat jebakan bagi Erdogan dan Raja Salman di Suriah dan Irak.

“Hanya saja Pangeran Salman dan Erdogan terlalu polos menyakini dorongan halus John Kerry, Joe Biden dan orang-orang di Washington sebagai lampu hijau untuk menyerang dan mengambil alih ladang minyak dan gas yang kaya di Suriah dan Irak, bahkan mereka akan jatuh ke dalam perangkap seperti Saddam kala itu”, Engdahl menulis dalam artikelnya di New Eastern Outlook.

Dan ada alasan yang baik untuk berpikir bahwa jebakan tersebut bukan “teori konspirasi.”

Luar biasa karena tampaknya Duta Besar AS untuk Irak, April Glaspie yang memberi Saddam Hussein mengangguk untuk menyerang Kuwait pada tahun 1990.

Namun, “Saat tentara Irak hampir mencapai tujuannya, AS justru melancarkan kampanye militer besar-besaran dengan sandi (Operasi Badai Gurun) yang memaksa Saddam untuk segera menarik pasukannya”, wartawan Mike Whitney menceritakan, dan menambahkan bahwa itu adalah tahap pertama rencana Washington untuk menggulingkan Hussein dan menggantikannya dengan kaki tangan pro-Barat. (Baca juga: Erdogan “Memang Gila”, Rusia Diuji Hadapi Kegilaannya ;VIDEO)

Tampaknya Erdogan berjalan menuju perangkap yang sama. (ARN)

About ArrahmahNews (12475 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: