News Ticker

Rusia; Mantan Presiden Yaman Mansour Hadi Sumber Kekacauan di Yaman

Jum’at, 04 Maret 2016

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Rusia memperingatkan perang yang berkecamuk di Yaman bisa jauh lebih lama dari yang dipekirakan, karen ulah mantan Presiden buronan Yaman yang didukung Saudi, menolak atau menggagalkan setiap usaha gencatan senjata.

Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin membuat pernyataan pada hari Kamis (3/03) setelah pertemuan Dewan Keamanan PBB yag membahas krisis Yaman, yang telah menimpa negara termiskin di dunia Arab.

“Kami mendengar bahwa pemerintah Mansour Hadi sekutu dekat Riyadh, tidak ingin melakukan gencatan senjata sampai ada penyelesaian yang komprehensif”, katanya, dan menambahkan bahwa “Ini adalah konflik yang sangat panjang dan akan lebih dramatis”, Presstv melaporkan.

Presiden buronan Yaman, Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, mengundurkan diri pada Januari 2015, dan menolak untuk mempertimbangkan kembali keputusannya meskipun panggilan oleh gerakan revolusioner Houthi Ansarullah, Parlemen Yaman pun tidak menyetujui pengunduran dirinya pada saat itu.

Pemerintah Yaman gagal memberikan keamanan dan tidak bisa menjalankan urusan negara. Gerakan revolusioner Ansarullah yang didukung rakyat mulai mengambil kendali urusan pemerintah korup dan otoriter.

Pada bulan Maret 2015, Hadi melarikan diri ke Aden. Dia berusaha mendirikan basis kekuatan dan pemerintahan tandingan. Kemudian ia bertolak ke Riyadh setelah gerakan revolusioner maju ke kota pelabuhan barat daya Aden. Hadi pun menarik kembali pengunduran dirinya.

Houthi Ansarullah telaah menyatakan Mansour Hadi telah kehilangan legitimasinya sebagai Presiden Yaman setelah ia melarikan diri dari ibukota.

Kemudian Arab Saudi tanpa mandat PBB mengintervensi krisis politik Yaman. Pada Rabu 25 Maret, Riyadh mengumumkan serangan udara terhadap Yaman.

Arab Saudi telah membom negara itu hampir satu tahun, untuk mengembalikan kekuasaan Hadi dan melemahkan gerakan revolusi rakyat Yaman.

Setidaknya 8.300 orang, di antaranya 2.236 anak-anak, telah tewas dan lebih dari 16.000 lainnya menderita luka-luka sejak awal invasi Saudi.

Riyadh pun menekan PBB untuk mengeluarkan resolusi tahun lalu, yang menyerukan Houthi untuk menarik diri dari semua wilayah yang berada dalam kendali mereka.

Churkin menyayangkan resolusi tersebut. Rusia pun abstain saat pemungutan suara untuk menyetujui resolusi tersebut. Resolusi itu pada dasarnya untuk melanjutkan kampanye militer Arab Saudi. (ARN)

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: