News Ticker

CILEM DOGAN: Wanita yang Dipuji Karena Membunuh Suaminya

Sabtu, 05 Maret 2016

ANKARA, ARRAHMAHNEWS.COM“Dear Masa Lalu: Terima kasih atas pelajarannya. Dear Masa Depan, Aku siap.”

Begitulah yang tertulis di t-shirt yang dikenakan oleh wanita Turki, Çilem Dogan, saat ia menyerahkan diri kepada pihak berwenang setelah kematian mantan suaminya. Foto yang telah diambil setelah penangkapan Dogan yang memperlihatkan wanita itu berdiri tegar dan tidak terlihat takut. Dalam sebuah gambar lain, ia mengacungkan dua jempolnya. Di lain tempat, ia terlihat sedang asyik mengobrol dengan dua polisi perempuan yang mengapit dirinya. (Baca juga: Bocah 13 Tahun Ditahan Karena Hina Erdogan)

Dogan saat itu ditangkap karena diduga menembak suaminya, Hasan Karabulut. Namun begitu, wanita 28 tahun itu justru menuai pujian “di media sosial” Turki. Mengapa?

12832368_234636753548201_5189314555652427089_n
Itu karena Dogan dianggap sebagai kekuatan dalam menghadapi epidemi kekerasan yang melanda perempuan Turki. Lebih dari 1000 wanita Turki dibunuh setiap tahunnya sejak 2007. Menurut laporan dari Al Jazeera di tahun 2014, sebagian besar korban tersebut dibunuh oleh pasangan mereka. Laporan ini juga menemukan bahwa tingkat kekerasan dalam rumah tangga telah meningkat secara dramatis di Turki, dan bahwa “angka resmi menyatakan 28.000 wanita Turki telah diserang oleh suami atau pacar mereka di tahun 2013.” Bahkan, menurut pernyataan 2011 oleh Menteri Kehakiman Turki, Sadullah Ergin, pembunuhan terhadap perempuan di Turki telah meningkat secara mengejutkan hingga 1.400 persen hanya dalam waktu lima tahun. (Baca juga: Erdogan Penjarakan Pemain Sepak Bola Turki Hakan Sukur

)

Cilem Dogan mengatakan bahwa ia “tidak menyesali” kematian mantan suaminya. Ia mengatakan bahwa hubungan mereka tak lebih dari kebrutalan dan penyiksaan tiada henti. Ia mengatakan kepada pihak berwenang bahwa pelecehan yang dialaminya dimulai hanya 28 hari setelah pernikahan mereka, dan terus berlanjut hingga kelahiran putrinya. Ia juga menyebut bahwa Karabulut mencoba beberapa kali untuk memaksanya menjadi pekerja seks.

CJi85T2WUAEZUM8
Saat penembakan berlangsung mereka telah bercerai, dan Karabulut datang ke rumah Dogan di kota Adana, Turki. The Daily Dot melaporkan bahwa Dogan menyatakan suaminya menyuruhnya berkemas, dan memaksanya ikut ke kota Antalya dimana ia akan dipaksa untuk bekerja sebagai pekerja seks. Dogan mengatakan bahwa pria yang bukan lagi suaminya itu mulai memukulinya seperti yang kerap dilakukan di masa lalu, dan saat itulah ia meraih pistol yang tersembunyi di bawah bantal serta menembakannya enam kali ke arah dada Karabulut.

“Apakah perempuan selalu mati?” ungkap Dogan kepada polisi menyusul penangkapannya. “Biarkan beberapa orang mati juga. Saya membunuhnya karena kehormatan saya.” (Baca juga: 1.845 Kasus “Penghinaan” Erdogan Dibuka di Turki)

Dogan bukanlah wanita pertama yang menarik perhatian media sosial karena membalas pelecehan berkelanjutan dan mengerikan yang dilakukan suaminya. Di Turki, wanita lain juga pernah menjadi berita utama untuk melindungi diri mereka sendiri dengan cara yang tidak mau dan tidak bisa dilakukan pihak berwenang Turki.

Dalam kasus ekstrim pada tahun 2012, Nevin Yildirim pernah menembak orang yang telah berulang kali memperkosanya sebelum memenggal kepalanya dan kemudian memamerkan kepalanya di alun-alun kota. Dalam situasi itu, Yildirim juga menyatakan bahwa ia membela kehormatannya. Nurettin Gider selama delapan bulan telah memperkosa Yildirim dengan menggunakan ancaman akan menyebabkan kerugian bagi anak-anaknya.

Meski masyarakat mendukung Yildirim, pengadilan Turki tetap memutuskannya bersalah atas tuduhan pembunuhan. Ia saat ini harus menjalani hukuman seumur hidup.

Dalam dunia yang sempurna, solusi untuk kekerasan seharusnya tidak boleh berupa kekerasan lagi terhadap mereka yang tertindas. Namun di Turki, hukum negara mengabaikan penindasan dan kekerasan untuk wanita seperti Dogan dan Yildirim. Mereka menerima kekerasan sistematis dalam lingkungan yang cenderung tidak mempercayai wanita, alih-alih memberikan hukuman yang cocok untuk orang-orang yang menyiksa mereka. Kenyataan mengerikan ini akhirnya sering memaksa mereka main hakim sendiri.

Apa yang harus para wanita itu lakukan? Selain perbedaan budaya yang ada di banyak negara, pengalaman menjadi seorang wanita tetaplah sama. Mereka sering menjadi korban pasangannya, kekerasan keluarga dan kekerasan seksual. Dalam hal yang terakhir, perempuan masih sering menjadi korban yang justru disalahkan.

Terkait penangkapan Dogan pada Juli 2015 lalu, Victoria’s Royal Commission into Family Violence, mengulangi pertanyaan yang sama: apa yang bisa dilakukan para wanita itu? “Tinggalkan saja” itu jawaban yang terlalu sederhana. Kita tahu bahwa waktu yang paling berbahaya bagi korban KDRT ada pada periode ketika mereka berusaha meninggalkan pasangan mereka. “Lalu kenapa tidak melaporkannya?” jawaban dari pertanyaan itu adalah bahwa hal itu juga tidak selalu efektif. Sekali lagi hukum di Turki cenderung menyalahkan wanita yang seharusnya dianggap sebagai korban.

Victoria’s Royal Commission into Family Violence menyebut bahwa bagi Çilem Dogan, jawaban untuk pertolongan atasnya terlalu lama datang. Dan apapun yang terjadi pada wanita itu saat ini harus menjadi catatan khusus. Karena jika wanita di seluruh dunia menyebutnya sebagai pahlawan (atas aksinya), itu berarti bahwa mereka juga bosan menunggu jawaban untuk mereka sendiri. Dan ketika masyarakat terus mengatakan bahwa perempuan itu bertanggung jawab untuk melindungi diri mereka sendiri, jangan heran jika mereka mulai melakukan hal-hal seperti (yang dilakukan Dogan) itu. (ARN)

About ArrahmahNews (12471 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: