News Ticker

PULANG KAMPUNG…Tak Tahan Birokrasi Jerman, Para Pengungsi Memilih Kembali

Sabtu, 05 Maret 2016,

BERLIN, ARRAHMAHNEWS.COM – Dengan tiket pulang sekali jalan ke Irak di tangannya, dan setelah tujuh bulan frustrasi atas birokrasi Jerman, Ghazwan Abdulhasen Abdullah menyerah atas mimpinya untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di Eropa. Abdullah melepas statusnya sebagai pengungsi dengan menaiki pesawat Iraqi Airway dari bandara Tegel Berlin ke Baghdad bersama denga 150 mantan pengungsi lain yang kecewa untuk kembali ke tanah airnya dan melepas rindu ingin kembali bersama istri dan empat anak kecilnya di Basra.

LA Times melaporkan awal Maret ini bahwa setelah lebih dari 1,1 juta pengungsi dari tanah bermasalah seperti Suriah, Irak dan Afghanistan menuju Jerman selama 13 bulan terakhir, sejumlah pengungsi kini memilih untuk kembali pulang, akibat tak tahan dengan situasi yang harus mereka terima disana. (Baca juga: Mimpi Buruk Anak-Anak Pengungsi Suriah)

la-fg-greece-refugees-bottleneck-20160301
Menurut laporan itu, para pengungsi itu tidak puas karena sejumlah alasan termasuk tidak menyukai makanan Jerman yang “mengerikan” dan “menjijikkan”, birokrasi melelahkan, dan merebaknya sikap antipati masyarakat Jerman yang merasa takut negaranya akan dikendalikan oleh orang Islam.

“Saya ingin hidup damai dengan keluarga saya dan jauh dari perang sebisa mungkin, “kata Abdullah, 37 tahun, yang bekerja sebagai sopir truk di Irak.” Tapi apa yang saya lihat di Eropa bukanlah seperti yang saya impikan. Ini bukan apa [yang para penyelundup itu] katakan kepada saya. (Baca juga: Europol; 10.000 Pengungsi “Anak” Menghilang Setelah Masuk Eropa

)

Para pengungsi itu mengatakan mereka sekarang senang telah meninggalkan kehidupan yang dingin, tak berperasaan dan kesepian di salah satu negara terkaya Eropa namun penuh kekerasan, ketidakamanan dan kemiskinan itu, serta kembali ke rumah.

“Makanannya mengerikan, begitu menjijikkan hingga bahkan hewanpun tak pantas diberi makanan seperti itu. Mereka membuat kami tidur dalam bangunan kosong serta dingin, dan ketika seseorang dari kami sakit, mereka mengabaikannya. Anda bisa merasakannya, dimanapun, orang-orang Jerman menatap kami seolah kami gelandangan. Saya rindu keluarga saya dan tidak sabar untuk pulang,” ungkap Abdulla. (Baca juga: LAGI…Aksi Pembakaran di Pusat Penampungan Pengungsi di Jerman)

Abdulla, seperti banyak pengungsi lain, datang ke Jerman seorang diri dan berpikir keluarganya bisa menyusul nanti. Namun pemerintah Jerman, yang takut jumlah pengungsi bisa meningkat empat kali lipat jika keluarga mereka bersatu kembali, menangguhkan aturan tahun lalu yang mebolehkan para pengungsi untuk membawa anggota keluarga mereka.

Kedutaan Irak di Berlin menyebut bahwa mereka telah menerbitkan lebih dari 1.500 dokumen perjalanan satu arah bagi pengungsi Irak yang meninggalkan Jerman dalam tiga bulan terakhir. (Baca juga: Pengungsi Irak Kembali ke Rumah-Rumah Mereka)

“Ada banyak orang Irak yang akan pulang, tetapi lebih banyak lagi pengungsi Suriah yang juga membeli tiket pesawat untuk pulang ke rumah,” kata Alaa Hadrous, 24, yang datang ke Jerman dari Irak saat masih kecil, dan sekarang bekerja di biro perjalanan Golf Reisen dekat dengan pusat pengungsi di jantung Berlin.

“Mereka melihat tulisan Arab pada jendela etalase saya dan datang serta mengatakan mereka ingin pulang,” katanya. “Ada banyak cerita yang benar-benar menyedihkan.” (ARN)

About ArrahmahNews (12557 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: