News Ticker

ISIS Gunakan Taktik NAZI Untuk Melatih Anak-Anak

Rabu, 9 Maret 2016

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Kelompok teroris ISIS (IS, ISIL atau Daesh) aktif melatih anak-anak untuk digunakan sebagai tentara, algojo dan pelaku bom bunuh diri dari usia dini hingga remaja. Mereka telah menyiapkan “mesin perang yang lebih mematikan daripada diri mereka sendiri,” sebuah studi telah memperingatkan. Studi itu juga memaparkan bahwa kelompok teroris ISIS telah menggunakan taktik Nazi.

Teroris ISIS fokus pada indoktrinisasi anak-anak melalui kurikulum pendidikan berbasis ekstremisme, dan mendorong mereka untuk menjadi teroris di masa depan. Di masa depan anak-anak ini akan menjadi militan yang lebih baik dan lebih mematikan dari diri mereka sendiri, karena ideologi radikal mereka telah diindoktrinasi ke dalam nilai-nilai ekstrim dari lahir atau usia yang sangat muda” riset Quilliam yang berbasis di London- berdasarkan laporan kontra-ekstremisme think tank, menurut Guardian.

Laporan yang disahkan oleh PBB, yang berjudul “Children of Islamic State” dan disusun melalui studi propaganda kelompok teror serta laporan dari sumber terpercaya, akan dipublikasikan di Parlemen pada Rabu.

Lebih dari 800 warga Inggris telah bergabung dengan organisasi teroris ISIS, diperkirakan 50 diantaranya adalah anak-anak. Para peneliti menyelidiki bagaimana Islamic State (IS, sebelumnya ISIS / ISIL) merekrut anak-anak dan melatih mereka menjadi mesin pembunuh.

“Anak-anak lebih kuat dari para mujahidin karena mereka memiliki pemahaman yang superior tentang ideologi radikal dari kurikulum sekolah, tumbuh menjadi militan yang lebih baik dan lebih brutal karena mereka dilatih dalam kekerasan dari usia yang sangat muda”, penulis studi menekankan, dan menambahkan bahwa kelompok teroris ingin “mempersiapkan generasi baru yang lebih kuat, generasi kedua dari mujahidin, yang dilatih untuk menjadi sumber daya masa depan ISIS”.

Dalam enam bulan terakhir, propaganda IS atau ISIS telah menampilkan 12 algojo anak. Menurut para peneliti, antara 1 Agustus tahun lalu dan 9 Februari tahun ini, mereka telah mengidentifikasi ada 254 peristiwa atau pernyataan yang menampilkan gambar anak-anak. Dalam upaya untuk memperlihatkan kebrutalan dalam rutinitas sehari-hari mereka. Kelompok ini mendorong pemuda untuk memenggal kepala atau bermain sepak bola dengan dengan kepala. IS atau ISIS menggunakan intimidasi sebagai alat rekrutmen, memperingatkan bahwa mereka yang menolak untuk taat akan disiksa atau diperkosa.

“Daerah paling memprihatinkan yang berada dalam cengkeraman ISIS, sedang mempersiapkan tentaranya dengan mengindoktrinasi anak-anak di sekolah-sekolah dan membiasakan mereka dengan kekerasan melalui penyaksian eksekusi publik, menonton video-video eksekusi brutal ISIS di pusat-pusat media dan memberikan anak-anak senjata mainan untuk bermain dengannya”.

Menurut laporan itu, modus yang dilakukan ISIS pada anak-anak mirip dengan perekrutan paksa tentara anak di Liberia pada tahun 1990-an, ketika Charles Taylor, salah satu panglima perang yang paling menonjol di Afrika, merebut kekuasaan pada tahun 1997 dengan tentara pemberontak yang penuh dengan anak-anak.

Para peneliti juga menyebutkan Ashbal Saddam (Saddam Lion Cubs) diciptakan pada tahun 1998 untuk merekrut dan melatih anak laki-laki berusia 10 sampai 15 untuk keanggotaan di Fedayeen, sebuah organisasi paramiliter yang setia kepada pemerintah Baath Saddam Hussein.

ISIS tampaknya telah meneliti metode Hitler “NAZI” dalam mencuci otak anak-anak, kata laporan itu, dan menambahkan bahwa PBB telah menerima beberapa laporan tentang sayap pemuda ISIS, Fityan al-Islam yang berarti anak laki-laki Islam. Perekrutan anak-anak sering menggunakan metode paksaan, dan penculikan menjadi metode yang paling disukai, menurut laporan tersebut. PBB mengatakan pada awal tahun ini saja laporan menyebutkan pembunuhan tentara anak dan dari laporan yang telah diverifikasi menunjukkan antara 800 dan 900 anak-anak di Mosul diculik untuk menjalani pelatihan militer dan doktrin radikalime.

Penulis laporan itu menyarankan untuk membentuk komisi yang membantu memantau dan menyatukan kembali anak-anak, dan untuk melindungi generasi mendatang dari kekerasan radikal.

Hidup di bawah ISIS adalah “salah satu situasi paling berat bagi anak-anak” seorang juru bicara untuk Roméo Dallaire, yang ikut menulis laporan tersebut mengatakan kepada Guardian.

Kurang dari sebulan yang lalu, ISIS merilis klip terbaru yang menunjukkan seorang anak Inggris, yang dijuluki dengan Jihadi Junior dan diduga berusia empat, meledakkan tiga tahanan. Anak itu terlihat mengenakan headband ISIS, dan menekan tombol remote yang ada pada perangkat kontrol sebelum mobil yang sarat dengan bom.

ISIS mengajarkan kepada anak-anak berumur tiga tahun ideologi jihad, bagaimana menggunakan senjata api, teknik pemenggalan dan bagaimana menjadi seorang pembom bunuh diri, seorang wartawan yang mempertaruhkan hidupnya untuk mengunjungi kamp militan anak-anak di Afghanistan mengatakan kepada RT pada bulan Desember.

“Semua anak-anak tahu semua nama-nama senjata dan mereka semua tahu bagaimana menggunakannya…” kata pembuat film dan wartawan, Najibullah Quraisy. [ARN]

About ArrahmahNews (12557 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: