NewsTicker

Javad Zarif; Perang Terhadap Teroris Membutuhkan Strategi Multifase

Rabu, 9 Maret 2016

SINGAPURA, ARRAHMAHNEWS.COM – Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan perang melawan terorisme memerlukan strategi multifase.

“Kita perlu strategi multifase. Ini mungkin memerlukan dimensi militer karena sekarang ISIS dan Front al-Nusra¬† yang berafiliasi dengan Al Qaeda telah menjadi ancaman militer”, kata Zarif dalam pidato kuliah umum dengan tema “Paradigm Shift from a Zero-Sum Game to a Win-Win Situation”di Singapura, pada Selasa (8/03).

“Tapi pada saat yang sama, perlu dimensi ekonomi karena pengangguran menjadi lahan subur perekrutan anggota teroris, terutama mereka yang berada di daerah-daerah”, tambahnya.

Dia juga menekankan bahwa terorisme merupakan ancaman untuk semua negara di dunia dan beberapa pemerintah di kawasan Timur Tengah masih berpikir bahwa dukungan mereka terhadap kelompok teroris ISIS atau kelompok lainnya akan melayani kepentingan mereka.

“Terorisme mengancam AS, Eropa dan negara-negara lain”, katanya, mencatat bahwa Suriah dan Arab Saudi sama terancamnya.

Suriah telah dicengkeram oleh kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh Barat dan negara-negara Arab sejak Maret 2011. Menurut laporan pada Februari lalu yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Suriah, menyatakan bahwa konflik telah menewaskan lebih dari 470.000 orang, 1,9 juta lainnya luka-luka, dan hampir setengah dari populasi rakyat Suriah -sekitar 23 juta orang- terpaksa mengungsi di dalam atau di luar Suriah.

Pertemuan Zarif dengan PM Singapura

Zarif pada Selasa (8/03) juga mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan dan Ketua Parlemen Halimah Yacob dan Menteri Dalam Negeri serta Menteri Hukum K. Shanmugam.

Selama pembicaraan, mereka membahas peningkatan hubungan timbal balik dalam berbagai bidang, terutama pada sektor ekonomi setelah pelaksanaan perjanjian nuklir, yang dikenal dengan (JCPOA), antara Iran dan P5 + 1 pada 16 Januari.

Setelah JCPOA mulai berlaku, semua sanksi terkait nuklir yang dikenakan pada Iran oleh Uni Eropa, Dewan Keamanan dan AS dicabut. Sebagai imbalannya, Iran telah menempatkan beberapa keterbatasan pada kegiatan nuklirnya.

Perjanjian nuklir ditandatangani antara Iran dan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB – Amerika Serikat, Prancis, Inggris, China dan Rusia – plus Jerman pada 14 Juli 2015 setelah dua setengah tahun pembicaraan intensif.

Menteri Iran tiba di Singapura pada hari Senin untuk kunjungan dua-hari di leg kedua kunjungannya ke enam negara Asia Tenggara dan Pasifik. Dia memulai perjalanannya ke Indonesia, di mana ia menyampaikan pidato pada pertemuan luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan mengadakan pembicaraan dengan para pejabat negara.

Zarif dijadwalkan juga akan mengunjungi Brunei, Thailand, Selandia Baru dan Australia. [ARN]

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: