News Ticker

Kegagalan Barat di Suriah, Runtuhkan Kerajaan AS di Timur Tengah

Kamis, 17 Maret 2016,

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Rusia mulai menarik pasukan militernya dari Suriah, Radio Sputnik berbicara dengan penulis dan aktivis Dr. Anderson untuk membahas dampak dari intervensi Moskow.

“Dikatakan dari awal bahwa intervensi akan sampai misi itu tercapai. Dengan kata lain, tidak seperti intervensi AS, di mana mereka akan tinggal selama satu dekade”, Dr Anderson mengatakan kepada Radioa Sputnik, mengacu pada pengumuman mengejutkan Presiden Rusia Vladimir Putin yang memerintahkan penarikan pasukan dari Suriah.

“Jadi saya pikir bahwa waktu dan sinyal yang dikirimkan pada proses perdamaian, dan fakta bahwa [Rusia] mengatakan bahwa mereka telah berhasil mematahkan punggung kelompok teroris di sebagian besar Suriah, itulah yang penting”. Ini adalah pernyataan politik yang penting. (Baca juga: Ancaman Oposisi Untuk “Membunuh Assad” Langgar Resolusi DK PBB)

Sebagai babak baru pembicaraan damai berlangsung di Jenewa, beberapa telah menyatakan keprihatinan bahwa penarikan Rusia bisa memberi semangat pejuang oposisi Suriah, Anderson yakin kelompok ini telah efektif lelah dengan kampanye udara Moskow”. Logistik [oposisi Suriah] telah rusak parah. Mereka memiliki banyak masalah di Raqqa pada saat ini… Situasi telah berubah cukup drastis di Suriah” katanya. “Mereka kacau saat ini”, tambahnya.

Ini juga patut diperhatikan bahwa serangan udara Rusia yang mendukung operasi Angkatan Darat Suriah sangat sukses. “Tentu saja kehadiran Rusia sangat penting – pemboman hampir setiap hari selama lima setengah bulan terakhir, berdampak luar biasa pada pertahanan kelompok-kelompok teroris -“, kata Anderson. (Baca juga: Militer Suriah; Penarikan Pasukan Rusia Sesuai Koordinasi Antara Moskow dan Damaskus)

Dalam bukunya “The Dirty War on Syria” Perang Kotor di Suriah, Dr. Anderson menyaring melalui laporan media Barat untuk melihat demonisasi Presiden Suriah Bashar al-Assad.

“Dalam 24 jam terakhir, majalah terbitan Inggris Guardian telah menerbitkan sebuah laporan yang menukil dari laporan sebuah organisasi yang telah menerbitkan informasi yang salah, mengklaim bahwa pemerintah Suriah masih melakukan serangan senjata kimia terhadap warga sipil Suriah. Ini benar-benar palsu. Ini benar-benar yang sebaliknya”, kata Anderson.

“Media independen menunjukkan bahwa Turki telah menyediakan senjata kimia ke kelompok-kelompok bersenjata. Bukan hanya ISIS… dan mereka telah menggunakan senjata kimia terhadap penduduk Kurdi dalam beberapa hari terakhir”. Jadi ini kembali terdistorsi oleh media Barat”. (Baca juga: Hillary Clinton Sebut Kegagalan AS di Suriah)

Sementara Barat tampaknya secara moral marah atas peristiwa di Suriah, dan telah menutup mata atas konflik serupa di Bahrain, sebagian besar karena kesetiaan kepada Arab Saudi. “Di Bahrain ada pemberontakan oleh warga negara dan terjadi pembantaian yang dilakukan oleh rezim di Bahrain dengan bantuan pasukan dari Arab Saudi dan beberapa monarki lain di sana.

Tentu saja Anda tahu perang di Yaman, yang tak tersentuh banyak oleh media-media Barat, bahkan dari berita utama, benar-benar tidak dilaporkan sama sekali oleh media Barat”, kata Anderson. “Jadi posisi yang sebenarnya mereka mengabaikan hampir seluruh yang terjadi di Timur Tengah, sementara garis propaganda mereka hanya dijalankan di Suriah”.

Media juga telah diam atas upaya pemerintah Irak dalam mengalahkan ISIS, kelompok teroris yang diciptakan oleh Arab Saudi dan sekutunya. “ISIS dimulai dari Irak … diprakarsai oleh pemerintahan Bush melalui Saudi, dan kita tahu dari tentara Amerika yang membongkar bahwa Saudi mulai melakukan pendanaan dan 40-50% anggotanya berasal dari Arab Saudi, dan seperempat berasal dari Afrika Utara seperti Tunisia dan Al Jazair. (Baca juga: Analis; Penarikan Pasukan Rusia Bukti Kegagalan Turki dan Saudi)

“… Invasi Afghanistan dan Irak, lalu menggulingkan pemerintah di Libya dan perang melawan Suriah benar-benar upaya menyapu bersih seluruh wilayah, dalam pemerintahan Bush disebut sebagai ‘menciptakan Timur Tengah baru’, menggunakan ‘kekacauan kreatif melalui berbagai tentara proxy”.

Sementara Amerika Serikat tampaknya memanipulasi Timur Tengah untuk keuntungan sendiri, mungkin secara tidak sengaja kehilangan pengaruh. “Kerajaan AS di Timur Tengah telah runtuh. Mereka telah melampaui batas diri”, kata Anderson. “Yang utama dan hal menarik yang tampak bagi saya adalah AS selain gagal di Suriah, mereka juga kehilangan Irak”. (ARN)

Iklan
  • radikal, kampus, pendidikan
  • Eko Kuntadhi 'Semprot' CEO Bukalapak 'Tak Punya Etika'
  • Cuitan Gus Yaqut ke Dubes Saudi
  • PBNU, Politik, KH Said Aqil Siradj
  • Emak Militan Jokowi
  • Ulama Suriah Syaikh Al Buthy
  • Hari Santri Nasional

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: