NewsTicker

Kisah Tersembunyi Kudeta Suriah, Apa dan Siapa Dibalik Siasat Jatuhkan Assad-Suriah?

Sabtu, 26 Maret 2016,

MOSKOW, ARRAHMAHNEWS.COM – Berkat teknologi saat ini yang sangat modern, seseorang dapat dengan mudah merekonstruksi kisah konspirasi Washington yang bertujuan untuk mengganggu stabilitas Suriah dengan memanfaatkan perpecahan etnis dan agama di negara itu. (Baca juga: Dubes Indonesia untuk Suriah Ungkap Fakta Perang Suriah dan Bashar Assad)

Jika Anda akan mengatakan setahun lalu bahwa Departemen Luar Negeri AS, Google, dan Al Jazeera telah berkolaborasi dalam siasat perubahan rezim di Suriah, mungkin anda akan berakhir dengan dituduh sebagai penghasut dan penebar ‘teori konspirasi’.

Suriah adalah pemberontakan rakyat terhadap genosida diktator jahat yang didukung Rusia,  dan Barat tidak ada hubungannya dengan pertumpahan darah yang melanda negara itu.  Jika Anda berpikir sebaliknya maka Anda dianggap sebagai ‘apologis Assad’. (Baca juga: Putra Ulama Al Buthi Beberkan Fakta Perang Suriah)

Namun, berkat Wikileaks, Undang-Undang Kebebasan Informasi, dan penggunaan server email tak aman Hillary Rodham Clinton, kita bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai kisruh Suriah.

Dalam rubrik Opini Editorial barunya untuk Russia Today, Neil Clark, seorang wartawan, penulis, penyiar dan blogger, menulis bahwa email mantan Menlu AS, Hillary Clinton, serta label-label dan laporan rahasia yang diberikan oleh Wikileaks, begitu juga oleh pengawas peradilan yayasan pendidikan konservatif Amerika menunjukkan bahwa Washington tidak pernah berniat hanya menjadi pengawas lugu tak bersalah bagi Suriah, tapi negara itu telah keluar jalur dengan berencana mengacaukan Suriah dengan mengeksploitasi perpecahan etnis dan agama disana.

Apa yang sebelumnya tampak hanya sebagai satu pemikiran tentang sebuah keadaan telah berubah menjadi elemen bagi suatu proyek yang dipikirkan dan dirancang secara serius. (Baca juga: Kesaksian Putra Ulama Al-Buthi, Tidak Ada Perang Sektarian (Sunnah-Syiah) di Suriah)

Sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar menjadi masalah di Suriah pada tahun 2006 lalu, ketika Duta Besar AS untuk Suriah, William Roebuck, mengirim pesan kabel ke Gedung Putih yang menggambarkan tentang “potensi kerentanan” dari pemerintahan Bashar Assad Suriah dan “cara-cara yang memungkinkan untuk mengeksploitasi mereka.” Misalnya, Roebuck mengusulkan untuk bermain di tengah kekhawatiran Sunni atas pengaruh Iran.

Politisi licik itu juga menyarankan untuk menggunakan rumor korupsi di lingkaran dalam pemerintahan Assad, dengan menayangkan “pencucian uang kotor SARG” melalui sumber-sumber media monarki Teluk,  dan mendorong gosip serta sindiran-sindiran dari beberapa komplotan eksternal yang sinis demi untuk meningkatkan kemungkinan “over-reaksi” dari pemerintah Suriah. (Baca juga: Ramalan Al-Kitab Tentang “Perang Besar” di Suriah)

Yang cukup menarik, Riyadh dan Kairo juga memainkan peran penting dalam konspirasi yang dipimpin Washington terhadap Bashar Assad ini.

Menurut wartawan investigasi pemenang penghargaan Pulitzern, Seymour Hersh, menyusul invasi AS ke Irak, Arab Saudi telah membujuk Washington untuk mengambil tindakan keras terhadap Iran dan sekutunya di kawasan, terutama Suriah dan Bashar Assad.

Dalam artikelnya untuk The New Yorker pada tahun 2007, Hers menulis bahwa Saudi memiliki sarana keuangan yang cukup besar, dan memiliki hubungan yang mendalam dengan Ikhwanul Muslimin dan Salafi Wahabi, ekstremis Islam yang  melihat aliran Islam lain sebagai murtad dan kafir, Hersh mengatakan hal itu dengan mengutip ucapan Vali Nasr, seorang rekan senior dalam Dewan ahli dan Hubungan Luar Negeri dalam urusan Timur Tengah. (Baca juga: 22 Pertanyaan Untuk Musuh-Musuh Bashar Assad)

Kemudian perencana cerdik Silicon Valley pun mulai melangkah. Pada tahun 2010 Jared Cohen, direktur Google Ideas, unit think tank di Google yang meneliti dampak-dampak teknologi dan merupakan mantan penasihat dua orang Menteri Luar Negeri AS, yakni Condoleezza Rice dan Hillary Clinton, melakukan perjalanan ke Suriah dengan Alec Ross, ahli kebijakan teknologi yang juga penasihat Senior untuk Inovasi  Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

Mereka menyimpulkan hasil “perjalanan bisnis” mereka ke Republik Arab Suriah, Ross menulis dalam emailnya kepada Hillary Clinton: “Ketika Jared dan saya pergi ke Suriah, itu karena kami tahu bahwa masyarakat Suriah memiliki pertumbuhan pemuda (penduduk Suriah akan berjumlah dua kali lipat dalam waktu 17 tahun) dan juga teknologi digital tinggi, dan hal ini akan pasti akan menimbulkan gesekan pada masyarakat yang bisa berpotensi untuk dimanfaatkan bagi tujuan-tujuan kita”. (Baca juga: 10 Fakta Suriah Yang Tak Terbantahkan)

Ternyata yang dimaksud  Clark  ‘tujuan-tujuan kita’ itu tentu saja adalah ‘perubahan rezim’ dan mematahkan aliansi Suriah dengan Iran.”

Di musim panas 2012, ketika konflik Suriah bergolak diluar kendali, ajudan politik Sidney Blumenthal juga menulis email kepada Hillary Clinton:

“Jatuhnya rezim Assad juga bisa memicu perang sektarian antara Syiah dan Sunni di kawasan -yang dalam pandangan para komandan Israel- tidak akan menjadi hal yang buruk bagi Israel dan sekutu Baratnya,” bunyi email tersebut. (Baca juga: Kegagalan Barat di Suriah, Runtuhkan Kerajaan AS di Timur Tengah)

Selain itu, Clark juga menulis, dalam waktu  hampir bersamaan, presiden ‘Google Ideas’, Jared Cohen, telah menawarkan kepada Departemen Luar Negeri, alat digital baru yang bisa digunakan untuk tujuan  memperkuat pembelotan terhadap pemerintah Suriah.

“Logika kami dibalik hal ini adalah bahwa sementara banyak orang melacak kekejaman yang terjadi, tidak ada yang secara visual bisa mewakili dan memetakan pembelotan, yang kami percaya adalah penting dalam mendorong kepercayaan oposisi untuk lebih jauh membelot,” tulis Cohen.

Pimpinan Google Ideas yang kini lebih dikenal dengan Jigsaw itu menambahkan bahwa organisasi ini bermitra dengan al Jazeera “yang akan mengambil kepemilikan utama atas alat yang telah mereka buat itu.

Yang cukup menarik, pada bulan Agustus 2012, Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menemukan titik terang tentang siapa yang berada di belakang pemberontakan Suriah, yaitu mereka adalah Salafi Wahabi, Ikhwanul Muslimin dan teroris al-Qaeda di Irak. (Baca juga: Tak Bisa Rampas Minyak! Negara Qatar, Saudi, Eropa, AS Kacaukan Suriah)

“Secara internal, peristiwa-peristiwa yang terjadi  menunjukkan tujuan sektarian yang jelas.  Salafi (Wahabi), Ikhwanul Muslimin dan AQI (al-Qaeda di Irak) adalah kekuatan utama yang mendorong pemberontakan di Suriah … AQI mendukung oposisi Suriah dari awal, baik secara ideologis maupun melalui media,” demikian bunyi laporan DIA. (Baca juga: Bukti Saudi Dukung Teroris, PBB Kecam Fatwa Jihad “Ala Teroris” Para Ulama Wahabi Saudi ke Suriah)

Namun, hal itu tidak juga mencegah pemerintahan Obama untuk melanjutkan operasi mereka. Mereka sepenuhnya menyadari dengan kekuatan apa mereka bermain.

Pada 2015, dalam sebuah wawancara dengan Al-Jazeera, Michael Flynn, mantan Kepala Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA), menegaskan bahwa itu adalah “keputusan yang disengaja” dari pemerintahan Obama untuk bekerjasama dengan kelompok Salafi Wahabi, al-Qaeda dan Ikhwanul Muslimin di Suriah pada tahun 2012 lalu. (Baca juga: Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi; TV Al-Jazeera dan Al Arabiyyah Berperan Aktif Ciptakan Arab Spring)

“Saya tidak tahu bahwa mereka menutup mata, saya pikir itu memang sebuah keputusan. Saya pikir itu adalah keputusan yang disengaja,” kata Flynn.

“WikiLeaks menegaskan bahwa -seperti yang terjadi di Libya dan Irak- hampir segala sesuatu tentang versi resmi “keterlibatan Barat” terhadap perang di Suriah adalah palsu,” tegas Clark. (Baca juga: Sektarian, Propaganda Wahabi Saudi dan AS yang Dimainkan di Suriah)

“Jauh dari sekedar menjadi pengamat tak bersalah, AS telah keluar jalur dengn mengacaukan negara itu, dan mengeksploitasi perpecahan etnis dan agama disana,”  tekannya. (ARN/Sputnik/RT)

4 Comments on Kisah Tersembunyi Kudeta Suriah, Apa dan Siapa Dibalik Siasat Jatuhkan Assad-Suriah?

  1. Biada saud,qatar,turki

  2. Dholim saud cs

  3. Pemberontak suriah dimanfaatkan oleh israel dgn tangan as dan barat untuk melawan pemerintahnya. Tapi setelah tak kunjung berhasil akhirnya as turun tangan sendiri. Nah.. ketahuan sekarang.. siapa dalangnya

  4. Amerika tidak suka Suriah bersahabat dengan Rusia, karena Amerika tahu sumber daya alam Suriah di manfaatkan oleh Rusia untuk memperbesar progam nuklir nya dan sumber daya alam Suriah nantinya akan jadikan sebagai bahan baku senjata perang , Untuk memuluskan ambisi Rusia menguasai dunia. Dan Amerika berusaha menggulingkan pemerintahan yang sah sekarang dan hendak di gantikan dengan rezim baru yang bersahabat dengan mereka tetapi tidak dengan Rusia .
    Tetapi Rusia tahu rencana licik Amerika dan sekali lagi Rusia tidak akan pernah melepaskan Suriah karena sumber daya alam Rusia menjadi kunci utama Rusia untuk menguasai dunia .

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: