News Ticker

Kartini Pendobrak Emansipasi Wanita Nusantara

Kamis, 21 April 2016,

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Sekitar 137 tahun yang lalu, seorang wanita dari kalangan priayi atau bangsawan Jawa lahir di Jepara. Dialah Raden Ayu Kartini. Dia lahir layaknya putri bangsawan lain kala itu, namun tak ada yang menyangka perlawanan terhadap tradisi feodal yang ia lakukan akan tetap dikenang oleh seluruh Nusantara seabad kemudian sebagai embrio kesamaan hak dan kesetaraan gender.

Memperingati hari Kartini adalah dengan tujuan agar anak-anak mengerti bahwa keberadaan perempuan bukan lagi sesuai aturan tradisional. Dalam adat Jawa misalnya, perempuan dianggap sebagai konco wingking. Konco wingking berarti “di belakang suami” yang bermakna kemanfaatan perempuan hanya sebatas untuk mendukung suaminya. Misalnya, mengurus suami, anak-anak, dan keluarga. Tidak lebih dari itu.

Nilai inilah yang ingin didobrak oleh Kartini. “Kartini yang menggebrak tradisi perempuan. Saat itu, apa yang ia lakukan termasuk luar biasa, ia melepas gelar bangsawannya, mau dianggap sejajar dengan rakyat biasa, ketika ia tidak jadi disekolahkan. Bagi Kartini, buat apa gelar bangsawan bila hanya menjadi konco wingking?” kata Amurwani.

Pengekangan terhadap perempuan dalam budaya kuno di Nusantara inilah yang dianggap pemerintah kala itu sebagai bagian lain dari penjajahan. Maka perayaan Hari Kartini adalah upaya penyadaran membebaskan perempuan dari belenggu tradisi kuno untuk kemajuan diri  dan sekelilingnya. (Baca juga: Kartini, Wanita dan Globalisasi)

Karena Kartini bisa menulis dan berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Banyak bacaan yang dia lahap sambil terus berkorespondensi.

Salah satunya, Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.  Dari surat menyurat dengan Abendanon, Kartini sering membaca buku-buku dan koran Eropa.

Timbul keinginannya memajukan perempuan pribumi. Ia melihat banyak perempuan di Tanah Air dengan status sosial lebih rendah darinya, tidak bisa mengecap pendidikan.

Kartini sering juga mengirimkan beberapa tulisan, salah satunya kepada majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie.

Beasiswa Agus Salim

Dalam masa pingitan, Kartini membuka sekolah bagi anak-anak perempuan yang tinggal di sekitar kediamannya. Mereka tidak seberuntung dirinya. Kartini mengajari gadis-gadis itu membaca, berhitung, menyanyi dan aneka keterampilan layaknya yang biasa didapatkan di sekolah.

Keinginannya untuk menempuh pendidikan sangat kuat. Dia ingin ke Belanda. Peluangnya mengecap pendidikan di Belanda sempat terbuka setelah perkenalannya dengan Jacques Henrij Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. JH Abendanon sempat menjanjikan beasiswa bagi Kartini dan saudara-saudaranya untuk belajar ke Belanda.

Hingga kemudian, surat dari Belanda yang ditunggu Kartini datang dan mengabulkan permohonannya. Beasiswa telah tersedia untuknya. Setelah berbagai pertimbangan, dia membatalkan beasiswa tersebut.

Sementara di sisi lain ada seorang pemuda cerdas yang sangat membutuhkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya. Pemuda itu bernama Agus Salim, dari Sumatera Barat. Agus Salim kini dikenal sebagai salah seorang pahlawan. Dia juga merupakan pemimpin Sarekat Islam.

Ia lalu mengirimkan surat ke Abendanon, istri pejabat yang menentukan pemberian beasiswa pemerintah pada Kartini di Belanda dan memohon agar beasiswa itu diberikan kepada Agus Salim. Agus Salim saat itu sedang berusaha mendapatkan beasiswa ke Negeri Belanda.

Tetapi, semua usaha yang dilakukan itu gagal. Hingga kemudian kabar itu terdengar Kartini. Dia berharap, uang beasiswa  sebesar 4.800 gulden bisa dialihkan untuk Agus Salim.

Berikut secuil surat Kartini tersebut:

“Saya punya suatu permohonan yang penting sekali untuk nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditunjukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya? Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatera asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS.

Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negeri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keadaan keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150 -sebulan.”

Namun, Agus Salim menolak pengalihan beasiswa tersebut. Dia menilai, pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Dia menilai ada diskriminasi di dalamnya.

Akhirnya, pada 12 November 1903, Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Sang bupati sudah memiliki istri dan anak. Kartini kemudian diperbolehkan membangun sebuah sekolah wanita.

Selama pernikahannya, Kartini hanya memiliki satu anak yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini mengembuskan napas terakhirnya beberapa setelah melahirkan pada usia 25 tahun. (ARN/BerbagaiMedia)

Iklan

1 Trackback / Pingback

  1. Kartini Pendobrak Emansipasi Wanita Nusantara – Arrahmah

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: