Analisa

Pesan Denny Siregar Kepada Ibu Risma Walikota Surabaya yang Serang Ahok

Minggu, 24 April 2016,

SURABAYA, ARRAHMAHNEWS.COM – Denny Siregar seorang analis dan penulis yang cukup dikenal di dunia maya, mencoba untuk menjelaskan bagaimana sikap Bu Risma yang saat sebagai walikota Surabaya dalam memberikan kritikan kepada Ahok, simak tulisannya:

RISMA : NALURI SEORANG IBU

Bu Risma kembali “menyerang” Pemprov DKI, khususnya Ahok. Ia membandingkan Surabaya dengan Jakarta dalam hal pengelolaan anggaran yang efisien. Menurutnya, dengan anggaran yang 10 persen dari anggaran DKI, Surabaya sudah bisa menyediakan sekolah dan kesehatan gratis.

Apakah bu Risma lupa bahwa DKI adaah provinsi sedangkan Surabaya adalah kotamadya, yang secara hitungan luas wilayah dan jumlah penduduknya saja jauh beda? (Baca juga: Ahok Obrak-Abrik Dunia Perpolitikan di Indonesia)

Rasanya tidak. Bukan tipe bu Risma!

Memang menarik apa yang dilakukan si ibu ini, terutama menjelang pilkada DKI. Ini serangan kedua bu Risma kepada Ahok, sesudah ia melakukan serangan “mengecat” rumah-rumah kumuh nelayan di sekitar pantai kenjeran sebagai bentuk “ejekan” kepada Ahok yang main gusur.

Untuk mengetahui kenapa bu Risma melakukan itu, kita harus kenali karakter beliau.

Bu Risma adalah seorang birokrat totok, bukan poitikus murni. Ia masuk ke jalur politik karena “dipaksa” mendampingi walikota sebelumnya dr kader PDI-P, Bambang DH. Ia tipe pekerja, bukan tipikal peraih piala citra. Karena itu, ia menerima syarat untuk menjadi kepala daerah, supaya ia bisa bermanfaat lebih uas kepada warga Surabaya.

Rekam jejak bu Risma adalah seorang petarung, jika itu berkaitan dengan warga Surabaya. Ia pernah bertarung dengan seluruh jajaran DPRD hanya karena menolak tol tengah kota yang dianggapnya malah menimbulkan dampak kemacetan parah. Ia bahkan melawan kader PDI-P sendiri, putra almarhum tokoh PDI-P. Surabaya yang juga kesayangan Megawati, yang dipaksakan untuk menjadi wakil-nya. Perlawanan itu ia bawa ke tingkat nasional.

Tetapi anehnya, ketika bu Risma mencalonkan diri lagi, si putra itu tetap jadi wakilnya. Padahal dia dulu musuh besarnya, yang menggerakkan DPRD untuk memecat bu Risma sbg walikota karena menolak tol tengah kota.

Ada apa sebenarnya? Jawabannya, begitulah bu Risma.

Ia harus mengorbankan perasaannya supaya ia tetap bisa mengelola Surabaya, supaya “anak-anak”nya tetap bersama ibu-nya. Jika bukan dia yang memimpin saat ini, sia-sialah program yang sudah dia rancang untuk kesejahteraan warga Surabaya. Surabaya di tangan orang lain bisa jadi seperti Jakarta yang salah sejak awal penataannya. Kota yang tidak asri lagi karena penuh dengan gedung-gedung tinggi, mall-mall besar dan sangat kapitalis. (Baca juga: Kritikan Pedas #DennySiregar Kepada Megawati dan PDIP)

Bu Risma berdamai dengan situasinya. Pilihan yang terburuk diambilnya, untuk mencegah sesuatu yang lebih buruk. Persis seperti apa yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya.

Begitu juga dengan apa yang dilakukannya sekarang. Bu Risma jelas-jelas menolak untuk ke Jakarta, bertarung dalam Pilgub DKI seperti syahwat PDI-P yang sampai sekarang belum menemukan tokoh yang mumpuni untuk melawan Ahok. Ia tidak ambisius. Buat bu Risma, ia orang Surabaya dan harus ada Surabaya. Naluri seorang ibu.

Apa yang dilakukan bu Risma dengan -dan akan- terus “menyerang” Ahok dengan kebijakannya, adalah posisi tawar yang win win solution dengan PDI-P.. “Jika itu membuat PDI-P puas, baiklah akan saya lakukan”. Mungkin PDI-P beranggapan bahwa serangan bu Risma akan menurunkan popularitas Ahok. Padahal mungkin juga efeknya tidak ada. Akhirnya diambillah keputusan yang buruk supaya bu Risma tetap berada di Surabaya dan tidak menyinggung bu Mega.

Jadi kita harus pahami dan tidak serta merta menyerangnya jika ia tampak berseberangan dengan Ahok. Seorang petarung akan mengenalli petarung lainnya. Mereka saling menghormati wilayahnya.

Begitu juga seorang peminum kopi akan mengenali peminum kopi lainnya. Bu Risma, saya titip pesan aja, ada yang ingin sekali ibu keluar Surabaya, sebab dari dulu kebelet jadi Walikota tapi gak bisa-bisa. Seruputtt. (ARN)

Sumber: DennySiregar.com

Iklan
Comments
To Top
// Infinite Scroll $('.infinite-content').infinitescroll({ navSelector: ".nav-links", nextSelector: ".nav-links a:first", itemSelector: ".infinite-post", loading: { msgText: "Loading more posts...", finishedMsg: "Sorry, no more posts" }, errorCallback: function(){ $(".inf-more-but").css("display", "none") } }); $(window).unbind('.infscr'); $(".inf-more-but").click(function(){ $('.infinite-content').infinitescroll('retrieve'); return false; }); $(window).load(function(){ if ($('.nav-links a').length) { $('.inf-more-but').css('display','inline-block'); } else { $('.inf-more-but').css('display','none'); } }); $(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });
%d blogger menyukai ini: