NewsTicker

Kudeta Terselubung AS di Brazil, Venezuela, Afrika Selatan

Senin, 16 Mei 2016,

BRASILIA, ARRAHMAHNEWS.COM – Kekaisaran kekacauan (AS) telah meraih kemenangan besar di Brasil dengan menghancurkan sebuah demokrasi demi membawa Brasil kembali berada di bawah kontrol Amerika. Dilma Rousseff telah diberhentikan dengan tuduhan-tuduhan mengabaikan keinginan 54 Juta Brasil yang memilihnya dan mengganti nya dengan pengkhianat Michel Temer.

Brasil kini bergabung dalam daftar negara-negara yang telah sukses dikudeta menyusul Honduras, dan Paraguay. Sebagaimana rakyat Argentina, rakyat Brazil kembali akan merasakan bagaimana rasanya di dikuasai oleh neo-liberal. (Baca juga: WikiLeaks Ungkap Bantuan AS Untuk Separatis Bolivia)

Bagi masyarakat Brasil pertempuran baru saja dimulai. Kudeta 1964 di Brasil telah menginstal rezim militer yang brutal dan itu hanyalah permulaan dari banyak kudeta yang akan meninggalkan seluruh wilayah itu berada di bawah kekuasaan jaringan fasis Operasi Condor untuk junta militer. Orang-orang dari Brazil dan seluruh Amerika Latin berada dalam bahaya yang mematikan. Dengan tindakan (kudeta) saat ini, AS telah mengisyaratkan bahwa bahkan reformasi ringan seperti yang dilakukan oleh pihak pekerja Brazil sama sekali tidak dapat diterima. Tidak ada yang boleh diizinkan untuk menghambat penjarahan dan pemiskinan planet ini di tangan perusahaan-perusahaan multi-nasional.

Terkalahkannya pemerintahan Brasil memiliki konsekuensi sangat buruk bagi dunia. Ini adalah kemenangan strategis utama bagi upaya kerajaan pengacau (AS) untuk merebut kembali Amerika Latin. Kudeta ini juga merupakan kemenangan besar dalam upaya untuk menghancurkan negara BRICS. Ini menandai kekalahan besar dalam upaya untuk membangun sebuah dunia multi-polar. Lebih buruk lagi, kudeta halus ini juga akan mengancam Venezuela dan Afrika Selatan.

Di Venezuela, panggilan referendum mulai digaungkan untuk melengserkan Nicolas Maduro dari jabatannya. Di Afrika Selatan pengadilan memutuskan bahwa Jacob Zuma harus kembali menghadapi ratusan tuduhan yang telah ditutup beberapa tahun lalu. Keduanya, Venezuela dan Afrika Selatan telah menjadi korban dari kampanye perang terselubung. Di Venezuela gelombang pembunuhan terus menargetkan orang-orang yang setia kepada Revolusi Bolivarian. Di Afrika Selatan, gelombang serangan pembakaran terus-menerus terjadi dan pemerintah menyatakan kedutaan AS (yaitu CIA) bertanggung jawab atas hal ini. (Baca juga: Saatnya Akhiri Hegemoni Dolar)

Menjatuhkan sebagian besar masyarakat dunia ke dalam perang tak berujung tidaklah cukup bagi Amerika Serikat, Negara itu bertekad untuk menghancurkan setiap negara independen yang ada di planet ini.

Kudeta halus di 2016

Pepe Escobar telah menulis mengenai kudeta di Brasil ini. Menurutnya ini adalah saat-saat tragis yang terjadi dalam sejarah Brasil. Satu-satunya perbedaan nyata antara kudeta April 64 dan kudeta Mei 2016 adalah bahwa militer tidak dipanggil untuk menggulingkan pemerintah. Oleh karenanya ini disebut sebagai kudeta halus. Bagaimanapun juga, memproduksi oposisi, perang media, perang ekonomi dan tak diragukanlagi, suap CIA, diluncurkan habi-habisan. Bahkan presiden Brazil yang baru, Castelo Branco Temer merupakan aset CIA.

Gambar

Hilangnya Brasil akan membantu sabotase BRICS. Ini akan menjadi pukulan besar bagi upaya untuk melawan AS di seluruh Amerika Latin, seperti di Venezuela, Ekuador, Bolivia, dan negara-negara lain yang sejauh ini menghindari kudeta halus. Ini adalah pukulan bagi masyarakat Brasil yang baru saja perlahan-lahan mulai memanjat keluar dari kemiskinan berkat reformasi partai buruh Brasil.

Meskipun pemerintahan memiliki kelemahan dengan menyebabkan kenaikan besar dalam standar hidup, namun kudeta yang terjadi hanya berarti akan dengan kejam mendorong kembali rakyat ke dalam kemiskinan. Kekayaan besar minyak Brasil akan dihabiskan bukan untuk meningkatkan kehidupan warganya tetapi untuk memperkaya para milyarder di Wall Street. (Baca juga: PARADIGMA DUNIA BARU: China, Iran, Rusia, Tim Terkuat Dunia)

Lebih buruknya lagi, kudeta ini akan memicu perang saudara di Brazil dimana mayoritas rakyat yang memilih Roussef akan marah dan bangkit untuk revolusi. Demokrasi telah gagal di Brazil, rakyat akan mulai berencana merebut kembali kekuasaan. Jika itu terjadi, maka pemerintahan neo liberal yang sekarang bercokol bias saja meluncurkan pembunuhan massal.

Berapa lama oligarki Amerika Latin akan terus diizinkan untuk melancarkan kampanye pembunuhan massal mereka sebelum orang-orang bijakmuncul dan memberi mereka keadilan revolusioner? Dulu Goulart pikir dia bisa menghindarkan negaranya dari perang jika ia mengundurkan diri dan hal itu secara tragis terbukti salah. Pengalaman baru-baru ini di Honduras atau Ukraina tidak memberi kita banyak alasan untuk percaya bahwa hal-hal berbeda akan terjadi di Brasil

Venezuela

Kudeta halus juga sedang berlangsung di Venezuela. Kabar baiknya, siasat oposisi untuk memprivatisasi perumahan rakyat Venezuela telah divonis Mahkamah Agung Venezuela sebagai inkonstitusional karena mengganggu komitmen konstitusional Venezuela untuk menyediakan perumahan, pendidikan, kesehatan dan program sosial lainnya. Reformasi radikal Chavez dulu telah membuahkan hasil dan Mahkamah Agung Venezuela sangat berkomitmen untuk membela Sosialisme Bolivarian. Namun oposisi bernama MUD terus berkampanye untuk menghancurkan Venezuela atas perintah CIA / controllers NED mereka. Mereka meluncurkan petisi pembatalan referendum dan dengan mudah mencapai 1% dari tanda tangan yang dibutuhkan.

Berikutnya mereka hanya perlu 20% dari pemilih untuk menyetujui pembatalan referendum dan kemudian akan melaksanakan sendiri referendum yang memaksa Maduro untuk mengundurkan diri. Maduro bertekad untuk menolak skema ini dan berharap untuk memenuhi masa jabatannya yang masih belum berakhir sampai 2018. Jelas ini merupakan pengembangan baru yang berbahaya. Selain terus berlangsungnya gelombang pembunuhan terhadap pejabat pemerintah yang setia dan politisi Bolivarian, CIA juga melancarkan perang kotor di Venezuela dengan menggunakan regu kematian narkoba Kolombia dan sayap kanan teroris Venezuela untuk mengobarkan kampanye pembunuhan gaya Operasi Condor Tahap III yang bertujuan untuk melemahkan pemerintah dengan membunuh pemimpin yang paling menjanjikan. Jahatnya lagi, mereka juga melancarkan perang ekonomi dengan merusak kestabilan. Oligarki Venezuela terus menyabotase ekonomi demi mengikis dukungan publik kepada Revolusi Bolivarian. Revolusi Venezuela yang menjadi sumber harapan dan inspirasi bagi seluruh dunia, kini berada di bawah ancaman mematikan.

Afrika Selatan

Di Afrika Selatan, kudeta halus juga mengancam anggota BRICS ini. Afrika Selatan adalah korban lain dari perang ekonomi yang telah membuat harga komoditas jatuh. Perang ini mengacaukan Afrika Selatan sebagaimana terjadi di Venezuela dan Brazil. Tapi tentu saja AS tidak puas dengan mendestabilisasi Afrika Selatan. Negara itu ingin menggulingkan ANC yang telah memerintah Afrika Selatan sejak jatuhnya Apartheid. (Baca juga: TERUNGKAP! Bantuan Saudi dan CIA Untuk Teroris Jauh Lebih Besar Dari Yang Pernah Diperkirakan)

ANC memang jauh dari sempurna; dalam kesepakatan rahasia sebelum berkuasa mereka harus meninggalkan platform yang lama dengan nasionalisasi sumber daya Afrika Selatan dan membangun sebuah masyarakat sosialis. Negara itu juga telah diganggu oleh skandal korupsi, tetapi hanya orang bodoh saja yang percaya bahwa jika ANC berhasil digulingkan dalam kudeta halus, maka korupsi tiba-tiba akan hilang. Yang akan terjadi adalah sebaliknya. Siapa pun yang menggantikan ANC hanya akan membuka negara itu untuk dijarah oleh perusahaan-perusahaan Barat yang akan mengambil kembali keuntungan yang telah hilang dari mereka semenjak jatuhnya apartheid.

Korupsi tidak bisa diperangi dengan kudeta karena kudeta menurut sifatnya justru merusak. Kudeta itu melibatkan orang-orang yang mau menerima suap dari CIA dan badan intelijen lainnya untuk mengkhianati negara mereka. Jelas mereka yang bersedia untuk menjual negara tidak mungkin menolak suap untuk kejahatan yang lebih rendah seperti korupsi.

Zuma

Kampanye destabilisasi terhadap Zuma dimulai dengan halus, yaitu dengan memprovokasi rakyat menuntut biaya pendidikan yang lebih rendah. Namun dalam demonstrasi, bukannya meneriakkan “Biaya harus turun” mereka justru berteriak “Zuma harus turun.”

Sekarang kepala FPD Julius Melema menyerukan kejatuhan Zuma dan bahkan mengancam untuk menggunakan kekerasan. Dan jika itu tidak cukup buruk, kedutaan AS (CIA) telah terungkap mengorganisir gerakan oposisi dan bahkan mempekerjakan kejahatan terorganisir untuk membakar 19 sekolah di provinsi Limpopo. Lebih buruk lagi sekarang Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa Zuma harus kembali menghadapi 783 dakwaan terhadap dirinya padahal kasus tersebut sudah dihentikan pada tahun 2007. (Baca juga: CIA Danai ISIS Untuk Jalankan Agenda Zionis)

Zuma sebagaimana Maduro, dan Rousseff menghadapi upaya kudeta halus yang tersembunyi. Apapun kejahatan yang mungkin telah dilakukan Zuma, apapun kekurangan ANC, kita harus menentang upaya kudeta halus ini. Tujuan kudeta ini tidak ada hubungannya dengan mengurangi korupsi di Afrika Selatan atau mengurangi ketidaksetaraan sebagaimana diklaim penipu EFF. Siapa pun yang berpikir kudeta CIA akan mengurangi ketidaksetaraan di Afrika Selatan perlu membaca Blum’s “Killing Hope”. Karena setiap kudeta CIA dilakukan justru untuk melestarikan atau memperburuk ketidak setaraan. Tujuan kudeta ini adalah jelas untuk menghancurkan BRICS, harapan utama untuk dunia multipolar. Tujuannya adalah untuk memecah kemitraan ekonomi antara China dan Afrika Selatan merusak China, mesin ekonomi dunia multipolar dan selanjutnya mengisolasi Rusia, tulang punggung militer BRICS. (ARN)

Artikel Diterjemahkan dari SOTT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: