News Ticker

Jokowi-Ahok Realita yang Membungkam Nalar

Kamis, 2 Juni 2016

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Dukungan politis yang luar biasa harus terus di terima oleh ahok. setelah partai politik Nasdem dan Hanura. kemungkinan besar menyusul golkar. ada apa dengan sosok ahok? apakah ahok sangat istimewa atau kah parpol tersebut yang takut tidak bisa menunjukan sebuah nama di kancah perpolitikan Indonesia? melihat dukungan mesra parpol terhadap ahok yang sudah mendeklarasikan melalui jalur independen merupakan sebuah tanda tanya besar. Dimungkinkan parpol tersebut sudah mengetahui arah angin yang akan bertiup atau akan di tiupkan oleh tokoh sentral pengusung ahok (baca : orang kuat)

Di samping Nasdem dan Hanura, partai politik lain melalui ketua umumnya juga sangat dekat dengan ahok. Sebuah pertanyaan kembali. Penjajakan atau karena sebuah signal? potensi ahok sendiri untuk terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta 2017 sangat kuat. sampai saat ini setidaknya belum ada tokoh yang bisa mendapat sokongan politis sekuat ahok. yusril belum cukup, Sandiaga uno belum mampu, Sjafrie Sjamsoedin baru akan melangkah.

Selain di sibukan dengan ranah promosi menjelang Pilkada DKI, ahok juga sedang di sibukan dengan wangi semerbaknya isu sumber waras dan lingkaran korupsi reklamasi. Melihat contoh kasus untuk seorang kepala daerah atau tokoh pejabat yang sedang di dera isu korupsi seharusnya sedikit menurunkan kredibilitas tokoh tersebut, bukan semakin membuat tokoh tersebut berkacak pinggang. Di sini terlihat sekali dengan bahasa dan gaya tubuh jika ahok merasa kuat, yang membuat nalar sedikit bergeser adalah, mengapa yang terlihat di media ahok semakin kuat, Apakah ahok sekuat itu?

Apapun isu buruk yang menimpa ahok hingga saat ini tidak mampu menggoyahkanya, bergeser secara psikologi pun tidak. Inilah hal yang sangat mudah untuk di telaah dan kemudian di prediksi betapa kuatnya sisi politis pada diri ahok. Apakah saya anda dan kita semua akan memalingkan muka dan tetap mengatakan ahok tidak mendapat dukungan politis?

Contoh nyata dari sebuah realita adalah Jokowi. saya anda dan kita semua melihat bagaimanapun Jokowi mengeluarkan kebijakan, semua rakyat menerima tanpa kecuali. Bila ada protes mungkin hanya sebatas buih yang dengan sendirinya menepi dan hilang. Ahok dengan jelas kelak bisa melebihi jokowi dalam hal ini. Dahulu juga jokowi mendapatkan serangan yang cukup hebat ketika dirinya hendak di calonkan oleh PDIP dalam pilkada DKI Jakarta 2012, dan saya anda, kita semua melihat serangan-serangan itu gugur dengan sendirinya. Pada waktu itu semua orang tanpa kecuali mengira bahwa hal tersebut merupakan sebuah pencitraan. Apakah pada waktu itu ada yang bisa membedakan sebuah pencitraan dan sebuah dukungan politis?

Saya pernah mengulas bagaimana menyerahnya Foke pada waktu itu kepada jokowi-ahok. Menyerah yang saya sebut di sini adalah karena terlihatnya bentuk komunikasi dan gesture politik masyarakat yang nampak jelas tidak berpihak kepada Foke, dan Foke menyadarinya. Pencitraan adalah bagian dari dukungan politis. tanpa dukungan politis sebuah pencitraan tidak akan pernah tercapai. Apakah bila pada waktu itu saya memprediksikan jokowi ahok akan unggul lalu saya bisa di katakan bukan pendukung Foke, atau saya adalah pendukung jokowi? Saya ingin mengatakan realita ini terjadi dengan baik walaupun membungkam nalar, untuk itulah saya pernah menulis. ‘jika ahok tetap seperti ini, bukan tidak mungkin akan menjadi presiden RI’, tidak ada keterkaitan saya mendukung siapa dan menulis untuk siapa, satu hal yang pasti adalah, saya menulis karena melihat realita. walaupun secara tidak langsung pembaca akan melihat ada keterpihakan dalam artikel.

Sebuah contoh terbaru adalah Golkar, partai yang baru saja menyelesaikan munaslubnya dengan memilih Setya Novanto sebagai ketua umum. Publik melihat baik ahok maupun Setya saling memuji. Belum lupa ingatan kita akan kasus “papa minta saham’ kini semua tanpa kecuali Presiden Jokowi pun ikut memberikan apresiasinya untuk Setya Novanto. Apakah ini tidak membungkam nalar?

Saya anda dan kita semua adalah penikmat berita. kita mengetahui dari media tentang bentuk penelanjangan tokoh masyarakat, namun karena nalar saya sudah membeku, maka saya akan tetap membenarkan dengan alasan sekuat mungkin membela tokoh idola. Bila saya adalah pendukung Jokowi maka saya akan beralasan “ini merupakan strategi Jokowi”.

Reklamasi sudah di ambil alih oleh pusat, terlepas bermasalah atau tidak tetaplah menjadi satu bargaining yang menarik. Media memberitakan secara hebat, Menko maritim ikut terjun. moratorium bersayap di berikan. Jokowi turun langsung. Sebelumnya Mentri yang lainya menentang, kini semua dalam arahan yang baik sekali, karena satu hal yaitu Jokowi sudah merestui reklamasi, merestui secara media sudah terlihat jelas. Jika sebelumnya Jokowi sama sekali tidak terlihat. Kini semua rakyat Indonesia melihat Jokowi turun langsung. Saya Anda dan kita semua lagi-lagi menikmati tontonan ini. Jokowi adalah idola, dan ahok adalah idola baru. Saya Anda dan kita semua adalah penikmat berita. Nalar sebagian dari saya Anda dan kita semua sudah terpatri untuk mengidolakan mereka. Apakah saya anda dan kita semua salah melakukan ini? Saya akan tetap melakukan pembelaan terhadap ahok dan Jokowi dalam hal apapun. Saya tetap akan memberikan argumentasi yang baik di sertai dengan literatur alasan. Saya melakukan ini karena mereka adalah idola yang bisa membekukan nalar pikiran saya, dan nalar tersebut membeku karena realita yang saya lihat dengan jelas. [ARN/Loradyah]

Iklan

5 Trackbacks / Pingbacks

  1. Jokowi-Ahok Realita yang Membungkam Nalar | Arrahmah
  2. POLEMIK!! Soal Kalimat Ahok dan Para Perusuh NKRI – VOA ISLAM NEWS
  3. POLEMIK!! Soal Kalimat Ahok dan Para Perusuh NKRI | ISLAM NKRI
  4. Ahok, Surat Al-Maidah 51 dan Para Perusuh NKRI | ISLAM NKRI
  5. Sangat Aneh: Kenapa Mereka Ingin Menghabisi Ahok Dan Mengkudeta Jokowi? | Sangat Aneh

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: