News Ticker

Junimart Girsang Ubah Rapat Komisi III Jadi “Obrolan Warung Kopi”

  • Zarif, Menlu Iran
  • Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono

Jum’at, 17 Juni 2016

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Tak habis pikir ternyata dalam rapat di gedung dewan sana yang membahas tentang reklamasi, antara DPR dan KPK. Entah becanda atau sekadar kelakar, masih saja ada anggota DPR yang menggunakan taktik seolah bertanya tentang adanya cerita uang 30 M yang katanya mengalir dari pengembang ke teman Ahok. Apalagi pertanyaan itu di mulai dengan basa basi kalimat bahwa, berdasarkan info yang kami terima, apakah benar ada aliran dana dari pengembang ke teman Ahok sebesar 30 M.

Sepintas jika kita perhatikan sepintas pertanyaan ini sepertinya culun tak tahu kasus, seolah ada bisikan entah berantah, lalu wajib kiranya ditanyakan langsung dalam rapat resmi tersebut.

Tak tanggung-tanggung yang bertanya demikian adalah seorang lulusan S-3 Doktor dibidang hukum. Dimulai dengan kalimat seolah memancing dan setengah konfirmasi, mencari selamat jika ada pertanyaan balik maka di kunci dengan prolog, bahwa sumbernya ada, dan dirahasiakan.

Saya sendiri tak habis pikir dalam rapat komisi III tersebut, sudah seharusnya jika bicara dan bertanya serta menjawab. Tentunya harus dengan fakta dan data akurat, bukannya bertanya hanya berdasarkan info-info yang tidak jelas. Lalu untuk menutupi ketidak jelasannya dengan cara merahasiakan sumber dari info tersebut. Maka sepertinya semakin dibuat misterilah kisah 30 M tersebut agar public semakin penasaran.

Isu yang tak jelas, seperti obrolan di warung kopi di bawa ke ranah forum rapat resmi anggota dewan. Seolah main-main, melempar cerita yang baru katanya dan katanya. Setelah itu dengan bangga meminta jawaban dari pihak KPK. Maka, ya sudah barang tentu KPK tidak akan menjawab isu-isu seperti ini. Tapi mereka-mereka tetap ngotot agar di jawab secara tegas dan kongkrit oleh KPK? Akhirnya KPK Cuma menyatakan akan di selidiki tersendiri terhadap info tersebut.

Tapi dengan mengungkap 30 M itu secara resmi di dalam rapat dewan maka otomatis menjadi konsumsi public dan menjadi berita yang cukup menarik. Seolah teman Ahok dipojokan, Ahok pun seolah juga diserang dengan cerita demikian. Tapi malah yang melempar cerita, setelah itu cuma tersenyum simpul diam seolah tiarap, tanpa sedikitpun merasa bertanggung jawab.

Model-model politik culas seperti inilah, dimana tanpa sadar telah menjadi tontonan rakyat. Sama sekali tidak mendidik , seolah kualitas anggota dewan hanya sekelas isu-isu kacang goreng, obrolan di warung kopi. Lalu sesuai dengan kepentingannya sudah dapat menjadi pembicaraan hangat dalam rapat DPR. Seolah tinggal tergantung siapa yang mempunyai kepentingan.

Penurunan moral dan etika para politisi seperti ini, sebaiknya jangan di ulangi. Belajarlah dari kasus pelindo II, kejadian serupa hampir mirip. Seolah saat itu dengan semangat , pertanyaan demi pertanyaan di ajukan kepada siapa saja yang bertanggung jawab dengan pelindo II, mereka di skak denganpertanyaan yang ada berapa datanyanya pun masih info-info atau katanya?. Lalu setelah RJ.Lino mundur dari dirut pelindo II, semua seolah adem ayem karena tujuannya sudah tercapai.

Begitu juga dengan kejadian 30 M, seolah isu demi isu tujuannya hanya untuk membombardir Ahok agar Ahok terkesan jelek di mata rakyat dan sekaligus agar bisa menjegal pencalonnya untuk mengikuti pilgub DKI. Kalau ini sukses, andaikata Ahok gagal, maka mereka-mereka menganggap sudah tercapai targetnya, lalu kembali akan menjadi adem ayem, persis seperti kasus pelindo II.

Jika ini benar, sungguh memalukan terutama bagi si politisi yang suka menggunakan metode culas seperti ini. Tentu rakyat tak bodoh, jika partainya masih memelihara kader-kadernya yang culas-culas untuk tetap eksis di gedung dewan sana. Maka jangan heran bersiaplah rakyat akan meninggalkan mereka. Dan bersiaplah akan menuju perolehan suara seperti partai gurem sebelumnya.

Tanggapan Ahok

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok marah karena terus menerus dituduh menerima suap reklamasi Teluk Jakarta. Apalagi saat ini tuduhan tersebut juga menyerang TemanAhok.

“Dituduh kasus suap (reklamasi) juga keterlaluan fitnahnya gitu, kalau kamu nuduh suap saya apa kepentingan saya, saya harusnya membantu Anda enggak meringankan kontribusi (pengembang),” ucap Ahok di Balai Kota Jakarta, Kamis (16/6/2016).

Sedangkan DPR, kata Ahok, memiliki hak imunitas yang tidak dapat digugat jika bicara apapun.

“Gini, saya pernah di DPR, mau ngomong apa aja dia punya hak imunitas nggak bisa dituntut, nggak bisa digugat, ini bisa main politik nih,” ujar dia.

Sementara, Ahok sendiri mengaku tidak tahu bagaimana operasional TemanAhok. “Nggak pernah tahu operasionalnya (TemanAhok). Dulu saya malah lebih akrab sama DAG (Dukung Ahok Gubernur). Tapi mereka nggak ada ngapa-ngapain,” kata dia.

Ahok mengatakan, jika dituduh menerima suap, lebih baik TemanAhok diperiksa untuk mengetahui kebenarannya.

“Harusnya kalau ada tuduhan begitu dia periksa saja yang dituduh. Buktinya mana. Saya profesional saja,” ucap Ahok.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menyatakan, karena kasus lahan RS Sumber Waras gagal menjeratnya, maka lawan politiknya sengaja mencari cara lain untuk menjatuhkan nama baiknya melalui kasus suap reklamasi.

“Suapnya apa gitu loh? Makanya saya bilang, untungnya dia anggota DPR, enggak bisa digugat. Walaupun itu secara politik, menurut saya itu jahat. Sama kayak kasus Sumber Waras kan, pingin bangkitkan opini ke orang, ‘Ahok itu enggak bersih’, yang dijual Ahok, Ahok punya brand apa sih? Saya bersih,” tegas Ahok.

Sebelumnya pada Rabu kemarin, anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDIP Junimart Girsang mempertanyakan tentang rumor aliran uang Rp 30 miliar dari perusahaan pengembang reklamasi pulau ke TemanAhok.

Pertanyaan Junimart disampaikan pada saat rapat dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebab, lembaga anti-rasuah itu disebut-sebut akan menyelidiki kasus dugaan aliran dana tersebut.

“Ada informasi yang saya dapatkan tentang uang Rp 30 miliar dari pengembang reklamasi untuk TemanAhok, melalui Sunny dan Cyrus. Saya tidak tahu apakah KPK telah melakukan pemeriksaan pada Sunny atau Cyrus?” tanya Junimart. [ARN]

Iklan
  • Ciri-ciri Khawarij dan Teroris
  • Niluh Djelantik Kritik Dewan Buleleng
  • Bung Karno Sungkem
  • Kerusuhan 22 Mei
  • Jokowi
  • HTI Ormas Antek Asing
  • Orasi Kerakyatan Khofifah 'Kabeh Sedulur, Kabeh Makmur'
  • Ustadz Arifin Ilham

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Junimart Girsang Ubah Rapat Komisi III Jadi “Obrolan Warung Kopi” | Arrahmah
  2. Junimart Girsang Ubah Rapat Komisi III Jadi “Obrolan Warung Kopi” | ISLAM NKRI

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: