Berita Terbaru

Beda Jokowi dan Rodrigo Duterte Perangi Narkoba

Selasa, 09 Agustus 2016,

ARRAHMAHNEWS.COM, BANDUNG – Tulisan menarik Saiful Huda EMS yang berprofesi sebagai advokat, penulis, dan Pengurus DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Provinsi Jawa Barat, memberikan sebuah analisa menarik tentang Beda Jokowi dan Rodrigo Duterte perangi narkoba, berikut tulisannya:

RODRIGO DUTERTE DAN JOKOWI

Program Presiden Filipina Rodrigo Duterte itu bukan hanya memberantas secara ekstrim para pengedar narkoba, melainkan pula membuka investasi seluas-luasnya negara-negara luar terutama Negara China di bidang infra struktur di Filipina. Orang-orang di Indonesia pun kemudian bertanya, berani tidak Presiden Jokowi melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Rodrigo Duterte?

Penulis balik bertanya, berani dalam hal apa Presiden Jokowi melakukan hal yang sama dengan Duterte? Pemberantasan narkoba secara ekstrimnyakah? Atau membuka peluang investasi seluas-luasnya pada negara-negara asing termasuk China khususnya di bidang infra struktur? Untuk hal yang pertama Presiden Jokowi sudah melakukannya meski dengan caranya yang berbeda. (Baca juga: Presiden Jokowi: Pengedar Narkoba di DOR Aja)

Duterte melakukan pemberantasan jaringan pengedar narkoba di negerinya dengan cara kekerasan atau pembantaian di jalanan, hingga menewaskan ratusan orang dalam sebulan sejak ia menjadi Presiden Filipina, termasuk 6 pengawal Walikota Albuera yang ditembak mati di rumah Sang Walikota Rolando Espanosa Sr. Dan Presiden Jokowi melakukan pemberantasan jaringan pengedar narkoba dengan caranya yang berbeda, yakni melalui proses hukum terlebih dahulu, meski pada akhirnya para pengedar narkoba itupun sama dihukum mati.

Hukuman mati pada para pengedar narkoba yang dilakukan Presiden Jokowi ini penulis pikir lebih konstitusional, karena dilakukan melalui proses hukum. Sedangkan apa yang dilakukan oleh Presiden Philipina Duterte adalah Pengadilan Jalanan. Mana yang lebih benar, ya tergantung dari keadaan dan kebutuhan setiap negara. Inkonstitusionalkah Duterte? Tidak juga. Mengapa? Karena apa yang dilakukan oleh Duterte sudah menjadi kesepakatan Rakyat Filipina secara tidak langsung, saat Duterte melontarkan gagasannya dalam kampanye Pilpres.

Ketika Duterte menang, itu berarti Rakyat Filipina telah sepakat dengan apa yang akan dilakukan oleh Rodrigo Duterte sesuai dengan janji kampanyenya. Ingatlah, konstitusi itu pada hakikatnya adalah hasil kesepakatan rakyat negara setempat, baik yang dilakukannya secara langsung atau yang dilakukannya melalui wakil-wakilnya di Parlemen dan yang mempunyai hak membuat, mempertahankan atau mengamandemen konstitusi. Suara rakyat mayoritas yang memilih Rodrigo Duterte sebagai Presiden menurut penulis adalah konstitusi yang sesungguhnya dengan bentuknya yang berbeda. Konstitusi itu adalah hukum yang tertinggi, dan hukum itu sendiri terbentuk karena mengikuti gejala sosial yang berkembang dalam masyarakat.

Sekedar sebagai referensi, penulis akan kemukakan pendapat seoang ahli hukum yang bernama K.C Wheare dalam bukunya yang berjudul Modern Constitution. Dalam buku tersebut. K.C Wheare mengartikan konstitusi dalam dua arti: Pertama, Konstitusi dalam arti luas, yaitu sekumpulan peraturan yang menetapkan dan mengatur pemerintah. Peraturan ini bersifat hukum dan sebagian lagi bersifat non hukum atau ekstra hukum. Peraturan bersifat hukum mengandung arti bahwa pengadilan mengakuinya sebagai hukum dan menerapkannya dalam menyelesaikan suatu kasus yang kongkret. Peraturan yang bersifat non hukum atau ekstra hukum mengandung arti bahwa pengadilan tidak akan menerapkan peraturan tersebut. jika tidak terjadi pelanggaran terhadapnya. Peraturan-peraturan non hukum dapat berbentuk kebiasaan, kesepakatan, adat istiadat, atau konvensi-konvensi. Kedua, Konstitusi dalam arti sempit, yaitu sekumpulan peraturan hukum yang mengatur pemerintah suatu negara yang pada umumnya dimuat dalam dokumen atau beberapa dokumen yang terkait satu sama lain. (Baca juga: Politikus Ulung itu Bernama Jokowi)

Sedangkan seorang ahli hukum lainnya yang bernama Lohman, menyatakan konstitusi itu harus memuat unsur-unsur yang diantaranya adalah: Bahwa konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat (kontrak sosial), artinya bahwa konstitusi merupakan konklusi dari kesepakatan masyarakat untuk membina negara dan pemerintah yang akan mengatur mereka.

Dari definisi dan unsur konstitusi yang diutarakan oleh para ahli hukum di atas, maka penulis berani menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Rodrigo Duterte terhadap para jaringan pengedar narkoba di Filipina adalah tindakan konstitusional, karena sebelumnya Duterte dan rakyatnya telah melakukan sebuah kesepakatan bersama meski pada akhirnya ada beberapa rakyat yang menentangnya.

Kedua, tentang kerjasama dengan negara asing untuk berinvestasi di dalam negeri juga sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi. Tak terhitung sudah berapa banyak negara asing yang berinvestasi di Indonesia di bidang infrastruktur tak terkecuali China. Tol Laut, Bandara, Jalan Raya, Sarana-Sarana Pendidikan, Rel Kereta Api dan lain sebagainya. yang diambil dari APBN/APBD dan investasi dari luar negeri sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi. (Baca juga: Taktik ‘Gila’ Jokowi Pimpin Indonesia dan ‘Bajingan’ Ahok Pimpin DKI Jakarta)

Lalu apa yang harus dipertanyakan lagi terhadap Presiden Jokowi? Presiden Jokowi dan Presiden Duterte adalah orang-orang cerdas, jujur dan pemberani yang mampu memberi jawaban terbaik bagi stagnasi peradaban di abad ini. Bersyukurlah dan jangan sekali-kali mengasing atau mengasengkannya, karena semua yang dilakukannya adalah tuntutan globalisasi dunia dalam kehidupan bernegara. Siapa yang terdiam akan tertinggal. Siapa yang menolak bekerjasama dengan negara luar untuk kemajuan negerinya akan terasingkan.

Kita hidup di tengah pergaulan dunia, pemimpin yang tidak cerdas dan cepat mereformasi sistem regulasi berbagai bidang di negerinya, cepat atau lambat akan tertinggal selamanya. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Saiful Huda Ems (SHE).

About ArrahmahNews (10554 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Beda Jokowi dan Rodrigo Duterte Perangi Narkoba

  1. Lucu artikel ini. Presiden Filipina menghabisi pengedar narkoba karena emang rakyat nya menghendaki begitu….hehehehe…..emang rakyat Indonesia tidak ?

    Suka

4 Trackbacks / Pingbacks

  1. Ledakan Hebat di Kota Davao Filipina, Tewaskan Puluhan Orang | ISLAM NKRI
  2. Kota Davao Filipina Diguncang Ledakan Hebat, Puluhan Orang Tewas – VOA ISLAM NEWS
  3. Kota Davao Filipina Diguncang Ledakan Hebat, Puluhan Orang Tewas | ISLAM NKRI
  4. Beda Jokowi dan Rodrigo Duterte Perangi Narkoba | Bayt al-Hikmah Institute

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: