Berita Terbaru

Serangan Balik Si Poltak atas Tendangan SBY

Kamis, 25 Agustus 2016

JAKARTA, ARRAHMAHNEWS.COM – Keputusan Ketum DPP Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk menonaktifkan politisi beken Ruhut Sitompul (RH) dari jabatan juru bicara partai, sejatinya tak terlalu mengejutkan. Bukan kali ini saja politisi vokal dan nyentrik itu disemprit oleh petinggi partainya sendiri karena omongannya yang sering dianggap berbeda dengan beleid partainya. Tapi bukan RH kalau kemudian surut. Sebaliknya, anggota DPR yang satu ini malah moncer di media dan ranah publik karena terus menggeber statemen-statemennya yang bikin para kolega separtainya merasa pusing kepala.

Bagi saya, yang menarik untuk dicermati adalah fakta-fakta ini:

1. Keputusan SBY itu dikirimkan melalui pesan pendek kepada RH. Ini tentu tak lazim karena masalah posisi jubir partai termasuk strategis kendati, menurut RH, bukan jabatan struktural di dalam DPP.

2. Respon RH yang seakan ‘menantang’ SBY, yang tertulis dalam cuitan di twitter-nya ‘apa Pak SBY berani pecat’? (https://news.detik.com/…/3280675/ruhut-apa-pak-sby-berani-p…).

3. Dasar penonaktifan RH, menurut sms yang beredar itu adalah bahwa pernyataan-pernyataan RH tidak mencerminkan posisi PD dan SBY selaku Ketum. Dan bahwa SBY sudah sering memperingatkan RH tetapi tidak diindahkan.

Dari fakta-fakta tersebut bisa ditafsirkan bahwa tindakan penonaktifan RH merupakan sebuah dinamika internal PD yang memerlukan respon serius. Ini tentunya terkait dengan persoalan-persoalan strategis yang menurut PD memerlukan penyikapan yang solid dan tidak terpecah-pecah dari politisinya di DPR dan DPP.

RH yang menjabat jubir partai tampaknya dipandang sebagai titik lemah sehingga perlu ‘ditertibkan.’ Jadi bukan karena ada pihak-pihak yang memanas-memanasin mantan Presiden RI ke 6 tersebut, namun lebih karena posisi RH dan peran yang dimainkannya tidak klop. Alih-alih membuat PD makin solid dan moncer tetapi justru hanya digunakan sang jubir untuk memoncerkan diri dan kepentingan politik pribadinya. Keputusan yang dikirimkan lewat sms tersebut menunjukkan bagaimana suasana batin SBY dan urgensi memberikan sanksi terhadap RH.

Reaksi RH yang terkesan menantang itu juga bisa menjadi petunjuk bahwa keputusan penonaktifan tersebut di luar dugaan RH sehingga bukan saja ia menduga ada persekongkolan untuk menjatuhkan dirinya, tetapi juga ia terkesan menganggap SBY kurang memahami situasi internal elit DPP sehingga membuat keputusan seperti itu. RH tampaknya sangat yakin bahwa posisinya di lingkaran elit PD sangat solid karena kedekatannya dengan SBY. Keputusan tak terduga tersebut membuat RH kehilangan ‘cool’ nya sehingga muncullah cuitan yang menantang tersebut.

Dari pertimbangan yg dipakai utk memutuskan sanksi tersebut, tampak bahwa RH telah lama dalam radar pengawasan dan pemantauan DPP. Sayangnya RH sangat pede bahwa dirinya memiliki leverage politik yang kuat sehingga semakin ‘out of control’ dan diluar kebijakan serta garis partai. Bahkan secara personal SBY menganggap sikap RH berada di luar garis sang Ketum.

Akankah RH melakukan refleksi dan penyesalan, lalu kembali ke dalam mainstream elite PD, ataukah ia justru memanfaatkan situasi ini untuk memerkuat posisi tawarnya vis-a-vis partainya? Ataukah RH sudah punya ancang-ancang untuk berpindah perahu politik, kendati ia mengatakan PD adalah parpol terakhir baginya? Dalam politik tidak ada yang tak mungkin kecuali ketidakmungkinan itu sendiri, bukan? Kita ikuti saja lanjutan kisah ini… [ARN]

Sumber; FB Muhammad A S Hikam.

About arrahmahnews (8016 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: