Analisa

Analis; Keputusan Pentagon Menyerang Yaman Akan Menyeret AS ke Dalam “Rawa”

Kamis, 13 Oktober 2016,

YAMAN, ARRAHMAHNEWS.COM – Janji militer AS untuk membalas serangan rudal yang nyaris mengenai kapal perang Amerika Serikat di lepas pantai Yaman, bisa menyeret AS ke dalam “rawa lain” setelah Afghanistan dan Irak, seorang analis mengatakan.

Michael Maloof membuat pernyataan dalam sebuah wawancara dengan Press TV pada hari Rabu, yang mengomentari pernyataan Kapten Jeff Davis, juru bicara Pentagon yang mengatakan pada hari Selasa (11/10) bahwa AS sedang sibuk merancang counterstrike setelah serangan hari Minggu.

Menurut Pentagon, USS Mason, kapal perusak dipandu-rudal, dan USS Ponce, sebuah kapal perang amfibi, menjadi sasaran dalam serangan rudal yang gagal dari wilayah Yaman, tetapi tak satu pun dari dua rudal menghantam kapal perang. (Baca juga: HEBOH! Diusir Iran, Kapal Perang AS Buru-buru Tinggalkan Selat Hormuz)

“Kami sangat ingin sampai ke bawah apa yang terjadi,” kata Davis. “Kami akan mencari tahu siapa yang melakukan ini dan kami akan mengambil tindakan yang sesuai.”

Menurut Maloof, pembalasan bisa dianggap sebagai respons normal seperti kapal-kapal AS di perairan internasional. Namun, ia menegaskan bahwa mereka terlibat dalam blokade laut dalam mendukung agresor Saudi, yang membuat Yaman menyerang dan itu “permainan yang adil, dan dimengerti.”

Setelah serangan itu, militer AS secara khusus melakukan “serangan balasan,” seperti yang dimasukkan oleh Davis.

Analis yang berbasis di Washington mengatakan bahwa pembalasan bisa “menaikkan anti-AS” dan “meningkatkan ketegangan,” serta menciptakan lebih banyak permusuhan terhadap negara itu.

“Amerika Serikat tidak seharusnya terlibat dalam krisis Yaman,” seperti yang dilakukan untuk “alasan politis,” kata Maloof. (Baca juga: AL Yaman Bersumpah Tenggelamkan Semua Kapal Perang Koalisi Saudi yang Berani Langgar Perbatasan)

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Ned Price mengatakan hari Sabtu bahwa dukungan AS untuk monarki bukan “cek kosong.”

Propaganda AS Untuk Invansi Yaman

Sumber militer Yaman menolak klaim AS, dan mengatakan tidak ada rudal yang ditembakkan ke kapal perusak Amerika di lepas pantai Hudaydah. Militer Yaman juga menambahkan bahwa klaim AS dimaksudkan untuk mencari dalih dan alasan keterlibatannya secara langsung dalam perang Yaman.

Sebelumnya, kelompok Houthi tidak pernah melakukan kontak langsung dengan kapal perang AS sejak pecahnya konflik di Yaman, setelah mereka berhasil menguasai Sana’a pada bulan September 2014 dan sejak intervensi koalisi yang dipimpin Arab Saudi untuk memerangi kelompok Houthi.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengklaim bahwa kapal yang diserang kelompok Houthi pada awal Oktober lalu adalah kapal sipil (SWIFT) yang memiliki rute dari kota Aden dan menuju kota Aden untuk membawa bantuan medis dan bantuan lain, serta untuk evakuasi warga sipil yang terluka agar bisa menuntaskan pengobatan mereka di luar Yaman. Namun kelompok Houthi mengatakan bahwa kapal tersebut adalah kapal perang milik Uni Emirat Arab yang merupakan anggota koalisi yang dipimpin Arab Saudi. (ARN)

Comments
Arrahmahnews AKTUAL, TAJAM DAN TERPERCAYA

Berlangganan ke Blog via Email

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabung dengan 2.832 pelanggan lain

Pengunjung

  • 52.350.870 hit

Pesan Penting

Senjata media lebih ampuh daripada senjata di medan perang. Kita harus lebih mengkhawatirkan senjata media Musuh. Sayangnya di bidang ini kita lemah. Dengan perantara media dan propaganda, musuh ingin menghancurkan persatuan kita. Karena itu, semaksimal mungkin kalian harus berkoordinasi dan bersatu mengejar satu tujuan. Semoga kita sukses dalam pekerjaan ini dan dapat berkhidmat kepada rakyat.

Copyright © 2020 Arrahmahnews.com All Right Reserved.

To Top
%d blogger menyukai ini: