Trending News

Bom Molotov di Gereja Oikumene dan Ancaman Radikalisme di Indonesia

Senin, 14 November 2016

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Teror bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, yang dilakukan residivis bernama Juhanda, menunjukkan bahwa aksi dan gerakan radikal di negeri ini masih jauh dari tuntas. Radikalisme dan aksi kekerasan berbentuk teror statusnya tetap bahaya yang terang dan hadir, “a clear and present danger”, di negeri ini, dan memiliki keterkaitan ideologis dan praktis dengan ideologi transnasional serta kelompok Islam radikal Wahabi yang selama ini beroperasi di berbagai wilayah, termasuk di ASEAN dan Indonesia.

Kendati Polri baru mengumumkan sedikit informasi mengenai Juhanda, namun tak terlalu sulit untuk mengaitkan teroris tersebut dengan fenomena ‘lone wolf terrorist”, atau peneror tunggal, yang kemudian direkrut dan dimanfaatkan oleh jejaring kelompok Islam radikal, baik di Indonesia maupun internasional. Menurut keterangan Polri, Juhanda setelah lepas dari penjara lantas bergabung dengan Jamaat Ansharud Daulah (JAD), salah satu kelompok Islam radikal Indonesia yang mendukung atau berbaiat dengan ISIS. Salah satu aksi teror dari JAD adalah bom Jl.Thamrin pada beberapa bulan lalu. (https://www.tempo.co/…/pelaku-bom-gereja-samarinda-diduga-b…)

gereja-oikumene

JAD ini memiliki tokoh-tokoh yang masih berada di Lapas maupun di luar negeri yang terus melakukan kontak dan kontrol dengan para pengikutnya di Indonesia, Tokoh-tokoh panutan maupun pelaku teroris seperti Aman Abdurrahman, Bahrum Naim, Bahrumsyah, dan Salim Mubarok alias Abdul Jandal tetap mampu merencanakan dan memberikan instruksi-intruksi mereka, kendati dari dalam penjara Aman Abdurahmman, atau yang sudah di luar negeri (Bahrum Naim, Bahrumsyah, dan Salim Mubarok alias Abdul Jandal). Kendati operator dan salah satu pemimpin jejaring pro ISIS seperti Santoso sudah tewas di Poso, tak berarti bahwa jejaring dan pengikut mereka lantas menyurut. Jika terbuka peluang, kelompok ini akan memanfaatkannya, baik melalui aksi para “lone wolves”, maupun serangan teoris yang lebih terencana dan massif. [Baca; Kronologi Ledakan Bom Molotov di Depan Gereja Oikumene Samarinda]

Dalam konteks demikian, bagi saya sangat tidak masuk akal apabila Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah (FH) masih menyatakan agar “seluruh pihak tak terprovokasi atau menghakimi pelaku, tetapi menunggu proses hukum yang dijalankan kepolisian.” Walaupun statemen Fahri Hamzah tersebut normatif dan terdengar “taat hukum”, namun jika berhadapan dengan fakta yang ada (walaupun masih belum terbuka semuanya), bagi saya menjadi kontradiktif atau minimum tak ada nilai yang penting. Bahkan justru bisa kontraproduktif bagi upaya pemberantasan terorisme. Statemn Fahri Hamzah bisa dimaknai mementahkan apa yang sudah menjadi fakta terkait dengan sosok Juhanda dan jejaring organisasinya, padahal track record mereka sudah jelas.

Hemat saya, penyeidikan Polri pasca-aksi teror di Gereja Oikumene Samarinda itu bukan hanya mencari fakta tentang J dan JAD. Tetapi yang tak kalah penting adalah menelusuri keberadaan jejaring JAD dan perkembangannya di Kalimantan. Kalau hanya soal sosok J dan JAD, saya kira sudah jelas siapa dia dan organisasi radikal macam apa itu. Yang masih perlu diketahui dan paling urgen adalah sampai sejauh mana jejering kelompok radikal Islam itu telah berkembang di wilayah seperti Kaltim dan bahkan seluruh Kalimantan. Jika ternyata jejaring tersebut telah ekstensif, maka tingkat ancaman pun akan semakin tinggi. [Baca; Ketum PBNU Kutuk Aksi Bom Molotov di Gereja Oikumene]

Ummat Islam Indonesia dan bangsa kita tak perlu ragu-ragu untuk menyikapi ancaman terorisme tersebut. Justru jika masih ada yang mencoba menutup-nutupi fenomena tersebut dengan dalih provokator dan sebagainya, maka perlu untuk dicermati dan dikritisi. Ibarat menghadapi penyakit berbahaya, kesiapan dan kesigapan aparat keamanan harus prima. Dan kesiapan masyarakat mengahadapi visrus radikalisme dan pengembangan proses radikalisasi yang terus diupayakan juga mesti ditingkatkan. Ini bukan sebuah paranoia, tetapi sebuah kewaspadaan agar virus tersebut bisa dicegah sedini mungkin, dan bukan baru bereaksi setelah berada pada stadium tingkat tinggi seperti di Timur Tengah. [ARN]

About arrahmahnews (7593 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Bom Molotov di Gereja Oikumene dan Ancaman Radikalisme di Indonesia | ISLAM NKRI
  2. Bom Molotov di Gereja Oikumene dan Ancaman Radikalisme di Indonesia | Arrahmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: