News Ticker

PBNU; Pilkada DKI dan Konflik Timur Tengah Menyulut Benih Perpecahan Bangsa

Sabtu, 31 Desember 2016,

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Menyambut pergantian tahun, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan Refleksi Akhir Tahun 2016 bertajuk: Pudarnya Semangat Toleransi dan Kebhinnekaan.

Refleksi Akhir Tahun yang disampaikan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj, 30 Desember 2016, bertempat di Kantor PB NU, menyangkut sejumlah isu yang berkembang selama tahun 2016, diantaranya tentang: politik kebangsaan, ekonomi dan kesejahteraan, hukum dan keadilan serta kehidupan beragama di Indonesia. (Baca juga: Kunjungan Ulama Lebanon ke PBNU, Pukulan Telak Buat Gerombolan Wahabi Yang Doyan Pecah Belah)

Menurut PBNU secara politik kebangsaan tahun 2016 diwarnai penonjolan politik identitas yang rentan menggerogoti Pancasila yang menjadi sendi-sendi konsensus nasional. Perhelatan politik pilkada DKI dan konflik Timur Tengah dieksploitasi sebagai bahan bakar untuk menyulut benih-benih perpecahan antar elemen bangsa. Berkaitan dengan Refleksi Akhir Tahun ini sangat menarik untuk melihat rangkaian benang merah antara Pudarnya Semangat Toleransi dan Kebhinnekaan dengan Pilkada DKI dan konflik Timur Tengah.

Memang kita merasakan akhir-akhir ini adanya rasa kekurang nyamanan dalam kehidupan kebangsaan kita terutama yang berhubungan dengan kebhinnekaan dan toleransi. Tidak dapat dipungkiri faktor yang sangat signifikan yang mempengaruhinya adalah Pilgub DKI. Memang sejak awal ketika munculnya 3 pasangan calon yaitu Agus-Sylvi, Basuki Tjahaya Purnama-Djarot dan Anies-Sandiaga telah muncul ungkapan Pilgub DKI serasa Pilpres oleh karena ketiga pasangan tersebut merupakan representasi pertarungan 3 tokoh nasional: Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Sukarno Putri dan Prabowo Subianto.

Pada awalnya pertarungan ke 3 tokoh nasional tersebut diperkirakan hanya berhubungan dengan strategi pemenangan, pertarungan wibawa serta kehormatan. Artinya siapapun yang memenangkan kontestasi Pilgub DKI berarti itu adalah kemenangan salah satu tokoh nasional tersebut. Kemenangan pada Pilgub DKI akan dimaknai sebagai keunggulan The man/Woman behind the screen. Tetapi sejak mencuatnya kasus Ahok mulai terasa adanya pertarungan lain dan secara perlahan kita merasakan adanya pergeseran medan pertarungan dari ranah politik ke ranah agama.

Yang muncul bukan lagi pertarungan gagasan, ide, program dan ketokohan tetapi sudah bergeser kepada hal hal yang sangat substantif berkaitan dengan agama. Seolah-olah dalam waktu sekitar 3 bulan ini, publik tidak lagi “membicarakan” Pilgub DKI tetapi justru yang terasa adanya perasaan kehormatan agama yang terusik. Aksi Bela Islam I, II dan III misalnya yang diikuti oleh jutaan ummat bukan lagi berbicara tentang Pilgub DKI tetapi berbicara tentang “Penjarakan Ahok” yang telah melakukan penistaan agama. (Baca juga: Kapolri Merapat ke PBNU Bicarakan HTI, FPI dan MTA)

Berbagai aksi di beberapa daerah yang mendukung “Penjarakan Ahok” justru dilakukan oleh Ummat Islam yang tidak berhubungan langsung dengan Pilgub DKI. Artinya sebahagian Ummat Islam merasa kehormatan agamanya ternoda dan ternistakan oleh ucapan Ahok di Kepulauan Seribu berkaitan dengan Al Maidah 51, tanggal 27 September yang lalu. Di sisi lain saudara sebangsa yang Non Muslim merasa serangan ke Ahok merupakan serangan kepada kelompok ” minoritas” oleh karena Ahok turunan Tionghoa dan beragama Kristen.

Belakangan ini berbagai istilah yang dulu agak tabu kita dengar, sekarang ini menjadi sering terdengar seperti kata kafir, revolusi, onta dan sebagainya. Malahan ekses kasus penistaan agama oleh Ahok mulai menyerempet beranda istana.

Seingat saya sejak jaman pemerintahan Suharto belum pernah suasana kegerahan kehidupan antar pemeluk agama seperti sekarang ini. Memang dulu ada juga gesekan gesekan di daerah berkaitan dengan hubungan antar pemeluk agama terutama karena pendirian rumah ibadah tetapi gesekan tersebut hanyalah bersifat lokal dan juga tidak berlangsung lama.

Berkaitan dengan ekses Pilkada DKI ini sangat menarik untuk menyimak pernyataan PBNU “perhelatan politik pilkada DKI dan konflik timur tengah dieksploitasi sebagai bahan bakar untuk menyulut benih-benih perpecahan antar elemen bangsa”. Memang kalimat ini tidak secara spesifik memuat penjelasan lanjutan tetapi kita dapat menangkap makna bahwa ada orang atau kelompok yang memanfaatkan pilgub DKI untuk agenda lain dan kemungkinan besar salah satu agenda tersebut berhubungan dengan konflik timur tengah yang juga bahagian dari pertarungan ideologi dan konflik sektarian yang sedang berlangsung disana. (Baca juga: Ketua PBNU; Amankan Dulu Tanah Air, Baru Bicara Islam)

Kalau dicerna lebih jauh dan dihubungkan dengan berbagai statemen yang pernah dikeluarkan oleh PBNU terlihat dengan jelas yang dimaksudkannya adalah adanya ideologi lain yang berasal dari timur tengah yang akan masuk di negeri ini. Karenanyalah PBNU dengan tegas telah meminta kepada Presiden Jokowi untuk membubarkan organisasi yang dianggap membawa ideologi lain yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila.

Selanjutnya PBNU juga mengungkapkan gejala menurunnya toleransi beragama di Indonesia dapat meretakkan konstruksi NKRI yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Gangguan terhadap kebebasan menjalankan ajaran agama dan keyakinan masih kerap terjadi dan dilakukan oleh kelompok-kelompok intoleran. Terhadap hal ini PBNU menyerukan pemerintah dan aparat penegak hukum menindak tegas kelompok intoleran yang melanggar hukum dan juga ketertiban sosial.

Sesungguhnyalah PBNU memberikan dukungan moril yang kuat kepada pemerintah dan penegak hukum untuk melakukan tindakan hukum kepada semua orang atau kelompok yang bertindak intoleran. Pada posisi seperti ini pemerintah diminta agar lebih tegas lagi bertindak karena kalau hal tersebut tidak dilakukan serta membiarkan kelompok intoleran melakukan berbagai aksi maka konstruksi NKRI akan retak dan hubungan kebhinnekaan antar sesama warga bangsa juga akan sangat terganggu.

Kemudian selayaknyalah dikemukakan Refleksi Akhir Tahun PBNU ini yang secara khusus membicarakan politik kebangsaan haruslah dimaknai sebagai bentuk kecintaan NU kepada NKRI. Tidak dapat dinafikan sikap NU yang sangat mengutamakan kesatuan dan persatuan bangsa ini, kadangkala mendapat cibiran dari berbagai individu atau kelompok Islam. Ketika NU tidak ikut berpartisiapasi aktif secara organisatoris pada Aksi Bela Islam I, II dan III banyak kalangan yang mencemooh sikap ini yang seolah olah ormas Islam terbesar di tanah air ini tidak mencintai agamanya.

Tetapi ditengah berbagai cemoohan tersebut NU tetap tegak membela keutuhan bangsa dan NKRI karena sejak kelahirannya NU telah memimpikan hadirnya sebuah negara kebangsaan dan sebagai bentuk cinta terhadap negara kebangsaan tersebut, pendiri NU Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari telah mengeluarkan “fatwa” Hubbul Wathan minal Iman, cinta tanah air adalah sebahagian dari iman. Dan dengan semangat itulah NU terus berkiprah untuk kesatuan dan kejayaan NKRI. (ARN)

Iklan

1 Comment on PBNU; Pilkada DKI dan Konflik Timur Tengah Menyulut Benih Perpecahan Bangsa

  1. PBNU ga usah lah ngurusin politik..urusan ajah organisasinya sendiri..urusin umat nya lebih bijaksana..

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. PBNU; Pilkada DKI dan Konflik Timur Tengah Menyulut Benih Perpecahan Bangsa | ISLAM NKRI
  2. PBNU; Pilkada DKI dan Konflik Timur Tengah Menyulut Benih Perpecahan Bangsa | Arrahmah

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: