Kesaksian Vanessa Beeley Saat Kunjungi RS Militer di Damaskus

Selasa, 17 Januari 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, DAMASKUS – Pada 19 Desember 2016 saya diberikan izin untuk mengunjungi Rumah Sakit Militer Tishreen di Damaskus. Saya diberitahu oleh direktur rumah sakit, yang pada pergantian abad ke-20 telah menjadi rumah sakit sipil itu. Sekarang rumah sakit tersebut merawat baik pasien militer maupun sipil. Rumah sakit itu telah menjadi target dari serangan ekstremis yang didanai koalisi AS, dipimpin oleh teroris Jaish al Islam dan front al-Nusra sejak perang kotor di Suriah dimulai pada tahun 2011. (Baca juga: ALEPPO BERDARAH! Media Barat dan Radikal Tutupi Tragedi Pembantaian Keji di Suriah)

Selama konflik, yang digerakkan di dalam wilayah Suriah oleh sejumlah sekutu AS, negara-negara intervensionis, dengan Israel sebagai penerima manfaat utama, mayoritas tentara yang dirawat di rumah sakit datang dari Selatan Suriah, Homs, Daraa dan yang terbaru dari Ghouta, terutama dari pertempuran untuk Mayda’ani.

Tishreen juga menerima tentara yang telah menjadi target oleh serangan udara koalisi AS di Deir Ezzor pada 17 September 2016, ketika angkatan udara Amerika Serikat, Inggris, Denmark dan Australia membom dan menembaki prajurit SAA yang tengah membela kota terkepung itu dari serangan ISIS. Serangan itu berlangsung selama sekitar satu jam dan kemudian membuat ISIS maju dan mengambil posisi tentara Suriah, yang di kemudian hari berhasil direbut kembali. John Kerry mengeluarkan pernyataan pada bulan Januari di mana ia mengumumkan, dengan seenaknya, bahwa koalisi AS “secara tidak sengaja tlah membombardir 70 tentara Suriah”.

Para prajurit yang saya temui, baru-baru ini terluka dalam pertempuran di Timur Ghouta, khususnya di Mayda’ani yang diperebutkan. Di daerah ini, front al-Nusra dan Jaish al Islam adalah kekuatan ekstremis proxy NATO yang dominan. Nama-nama tentara ini tidak dapat dipublikasikan karena alasan keamanan. Sebagian besar dari mereka telah terluka dalam serangan roket dan rudal yang menyebabkan anggota tubuh terkoyak dan tulang mereka hancur. Seorang tentara muda yang nyaris tidak berbicara telah kehilangan kedua kakinya saat ia menginjak ranjau yang dipasang teroris, ayahnya berdiri di samping ranjang dan mengatakan kepada kami anaknya hanya ingin kembali bertempur untuk negaranya.

Salah satu tentara tenggorokannya terkena pecahan peluru setelah serangan roket Nusra pada posisi mereka dan masih belum mampu berbicara. Menurut dokter, prognosisnya baik dan mereka berharap suaranya akan kembali dalam beberapa bulan. Prajurit lain kakinya benar-benar hancur oleh “rudal grad” yang telah menargetkan kendaraan yang mengangkut ia dan rekan-rekannya saat kembali ke basis mereka. Mereka semua menyatakan keinginan dan kesiapan untuk kembali ke medan tempur dan melanjutkan perjuangan untuk membela negara mereka terhadap infiltrasi ekstrimis dan teroris, pasukan proxy NATO. (Baca juga: Bantuan Medis Saudi Ditemukan di Posisi Teroris di Aleppo)

Berikut ini adalah foto-foto yang bisa saya ambil dari para tentara yang saya ajak bicara, saya pikir foto-foto ini bisa menyampaikan lebih dari sekedar kata-kata:

Semua pemuda ini rata-rata berada di bawah usia 25 tahun, yang termuda masih berusia 20 tahun. Mereka datang dari seluruh Suriah, dari Damaskus, Ghouta, Palmyra/Tadmor, Aleppo. Mereka datang dari daerah-daerah, mereka telah bersatu untuk melawan ekstrimis yang membunuhi rakyat Suriah. Ekstremis yang membunuh warga Suriah untuk memaksakan visi mereka atas Suriah dimana mereka menekan suara mayoritas rakyat Suriah yang ingin mempertahankan negara sekuler dan menolak untuk dipaksa menerima bentuk negara “Khilafah” apapun untuk ditegakkan secara eksternal. Para tentara ini menantang semua klaim dari divisi sektarian di Suriah dengan bersama-sama memerangi pelanggaran kedaulatan tanah air mereka. (Baca juga: Catherine Shakdam: Aleppo Kedua, Dimana Nasib ISIS akan Ditentukan)

Di RS Tishreen, kami juga berbicara dengan seorang wanita yang telah lumpuh, dari pinggang ke bawah, akibat adanya sebuah serangan bom bunuh diri Tartous dan Jableh pada Mei 2016, yang merenggut nyawa lebih dari 80 warga sipil Suriah. Ia telah berdiri dalam antrian ketika ledakan terjadi dan melukainya dengan begitu parah. Ia dipindahkan dari rumah sakit di Tartous ke Damaskus di mana sejak itu, ia telah menjalani perawatan. (ARN)

About ArrahmahNews (12186 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Kesaksian Vanessa Beeley Saat Kunjungi RS Militer di Damaskus | Arrahmah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: