Cuitan Anas Dibalik Jeruji Bikin SBY Tidak Bisa Tidur

Selasa, 24 Januari 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Berurusan dengan SBY adalah luka lama yang sulit dilupakan bagi Anas Urbaningrum. Karirnya yang begitu melesat cepat harus tersandung oleh sebuah kepentingan. Ini seperti Pesawat Sukhoi Rusia, yang melaju cepat, membuat hati orang berdebar-debar merasakan kecepatannya, tapi akhirnya harus jatuh di Gunung Salak.

Setelah menjadi orang nomor satu di Demokrat, sebuah hantaman keras menyerangnya. Memaksanya untuk mundur teratur dari dunia politik. Tapi, Anas tak gentar. Dari pada mundur lebih baik ia keluar dengan terhormat. Sambil membawa sejumlah luka yang hingga kini masih terasa perih. Bagaimana tidak? Sudah jatuh ketiban tangga pula. Lalu disambit secara berjamaah.

Upaya balas dendam Anas tak pernah membuahkan hasil. Ia sempat berjanji akan mengawal Ibas sampai ke KPK, tapi hingga kini, kekuatan Cikeas tak mampu membuat KPK menyentuh Ibas. Anas tahu. Lawannya bukan orang sembarangan. Gurita Cikeas telah terbentuk selama sepuluh tahun terakhir. Janjinya, hanyalah janji. Komitmennya takkan pernah sanggup melawan sebuah tirani yang telah menggurita.

Tapi. Dendam tetaplah dendam. Luka telah tersayat. Perih terus saja menyengat. Mungkin, Anas tidak akan tenang sebelum bisa menyeret orang-orang Cikeas ke KPK, bahkan jika ajal telah menjemputnya.

Kini, yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu momen. Sambil terus merespon setiap gerak-gerak sang mantan. Sedikit saja blunder, Anas akan mengeluarkan serangan mematikan.

Cuitan SBY kemarin, ternyata memicu Anas Urbaningrum untuk melakukan sedikit manuver. Menyerang SBY secara santun tanpa “no mention”, seperti halnya gaya SBY yang masih terserang “post power syndrome”. Ada tujuh cuitan Anas yang sudah dipastikan tertuju kepada SBY.

Pertama, Ya Allah, bimbing para pemimpin kami untuk “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (Ing ngarso sung tulodho, berarti menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang di sekitarnya. Ing Madyo mangun karso, berarti seseorang di tengah kesibukan harus juga mampu membangkitkan semangat. Tut wuri handayani, berarti seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang)

Kedua, Ya Allah, jangan sampai terjadi “mestine dadi tuntunan, malah dadi tontonan” (Pemimpin harusnya menjadi tuntunan, bukan tontonan)

Ketiga, Ya Allah, jauhkan kami dari pekerti “ono ngarep ngewuh-ewuhi, ono mburi ngegol-ngegoli” (di depan menggangu, di belakang menjadi beban)

Keempat, Ya Allah, ingatkan kami bahwa “ajining diri ono ing lathi”, “ajining diri ono ing cuitan” (harga diri ada pada ucapan, harga diri ada pada cuitan)

Kelima, Ya Allah, jauhkan para pemimpin kami dari JARKONI, “biso ngajar ora biso nglakoni” (bisa mengajari tapi tak bisa melaksanakan)

Keenam, Ya Allah, jangan lupakan kami dari petuah leluhur “ojo metani alaning liyan” (jangan mencari-cari keburukan orang lain)

Ketujuh, Ya Allah, jangan ubah “lengser keprabon madeg pandhito” menjadi “lengser keprabon madeg CAKIL” (seharusnya, setelah selesai masa jabatan menjadi orang baik, bukan setelah selesai masa jabatan menjadi CAKIL. Cakil merupakan lambang keburukan. Dalam pewayangan Cakil selalu kalah)

Tujuh cuitan Anas ini seperti tujuh jurus pukulan naga yang sedang menyerang satu cuitan SBY. Sebenarnya, bukan cuma cuitannya yang kemarin yang Anas serang. Tapi, berbagai sikap dan ucapan SBY yang sepertinya menunjukkan gejala “post power syndrome”.

Anas seolah-olah menasehati, kalau jadi pemimpin ya seperti ini. Padahal, di balik nasehatnya itu, ia hendak menghajar sang mantan pemimpin. Dan sebagai pakar ra(i)sa, saya merasakan bahwa Anas hendak menunjukkan keberpihakannya pada Jokowi. Sebab, kriteria yang Anas sampaikan semuanya ada pada diri Jokowi. Dengan perbandingan itu, Anas secara tidak langsung telah menghajar SBY dengan tujuh jurus mematikan itu.

Anas menulis, pemimpin itu harusnya jadi teladan yang mampu menyemangati dan mendorong. Bukan malah menjelek-jelekan dan mengada-ada kejelekan. Pemimpin juga harus menjadi tuntunan, bukan tontonan. Bagaimana kita lihat sikap SBY, bagi kebanyakan orang hanya menjadi tontonan akhir pekan dalam sebuah acara drama “mantan yang baperan”.

Anas juga memperingati, harga diri itu ada pada ucapan, harga diri itu ada pada cuitan. Kebanyakan netizen yang merespon cuitan SBY rata-rata menanggapinya secara negatif. Malah, banyak yang menyerang balik cuitan SBY ini.

Tentu, netizen bukan karena sentimen semata menyerang balik SBY. Tapi, berdasarkan peninggalannya selama sepuluh tahun menjadi Presiden. Banyak proyek-proyek mangkrak. Juga, orang-orang di lingkungan partainya, banyak yang terlibat kasus korupsi.

Anas mengatakan, bisa mengajari tapi tidak bisa melaksanakan. SBY mengatakan dalam cuitannya “Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa”. Mengatakan seperti itu tapi menjadikan Setiyardi, pemred Obor Rakyat, sebagai timses AHY, itu seperti menjilat ludah sendiri. SBY mendorong agar proses hukum Ahok agar segera dilakukan, tapi giliran Sylviana Murni terlibat dalam kasus korupsi, malah mencuit yang tidak-tidak.

Dan Jurus pamungkas Anas ada pada cuitannya yang ketujuh. Setelah selesai masa jabatan harusnya menjadi orang baik bukan menjadi CAKIL. Ini sindiran keras yang mampu membuat SBY tidak bisa tidur semalaman. SBY disamakan dengan cakil, tokoh jahat dalam pewayangan juga sebagai simbol keburukan.

Terakhir, Jokowi ini termasuk Presiden yang istimewa. Tanpa harus melayani sang mantan bertarung di arena, musuh-musuh sang mantan sudah menghajarnya duluan. Jokowi hanya memberikan kode-kode perlawanan dengan berbagai simbol-simbol politik yang selalunya mampu membuat sang mantan baper. Apalagi hingga kini, Jokowi belum mengundang sang mantan ke Istana, untuk makan siang. Apakah ini sebuah simbol juga untuk merespon sang mantan yang tengah baperan? [ARN/Seword]

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Cuitan Anas Dibalik Jeruji Bikin SBY Tidak Bisa Tidur | ISLAM NKRI
  2. Cuitan Anas Dibalik Jeruji Bikin SBY Tidak Bisa Tidur | Arrahmah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: