Krisis Pangan Yaman ‘Agresi Brutal Saudi Membunuh Kami’

Ghaleb Mashn

Kamis, 09 Februari 2017,

ARRAHMAHNEWS.COM, HUDAYDAH – Pembuat sapu lidi, Taie al-Nahari berlutut di atas pasir, bertelanjang dada, di luar pondok jerami di desa al-qaza di Gubernuran Hudaydah Yaman, tubuhnya yang kurus kering memperlihatkan tulang dadanya yang hanya berbalut kulit.

Sebelum konflik dimulai pada tahun 2015, pria berusia 53 tahun itu adalah seorang nelayan. Sekarang ia membuat dua buah sapu lidi dalam sehari, dimana hal itu memberinya penghasilan sekitar 1 dolar.

“Perahu-perahu yang kami gunakan untuk bekerja, dibom oleh jet Saudi. Sekarang saya dan keluarga saya tidak memiliki cukup makanan untuk dimakan, “katanya. (Baca juga: Saudi Serang Perahu-perahu Nelayan di Lepas Pantai Yaman)

Taie al-Nahari

Taie al-Nahari

Konflik ini adalah pendorong utama krisis dimana PBB memperingatkan hal ini bisa berubah menjadi bencana kelaparan jika tidak ada sesuatu yang segera dilakukan.

Pada hari Rabu, PBB meluncurkan bantuan 2.1 miliar dolar untuk mencegah kelaparan di negara termiskin di dunia Arab, di mana hampir 3,3 juta orang termasuk 2,1 juta anak-anak menderita kekurangan gizi akut tersebut. Bantuan kemanusiaan ini adalah yang terbesar yang diluncurkan ke Yaman dengan tujuan untuk membantu menyelamatkan 12 juta jiwa pada tahun ini. (Baca juga: Trump dan Kekacauan Perang Pertamanya di Yaman

)

Jamie McGoldrick, koordinator kemanusiaan PBB di Yaman, mengatakan, “Situasi di Yaman adalah bencana dan dengan cepat terus memburuk”. Setidaknya 10.000 orang telah kehilangan nyawa mereka dalam konflik.

Al-Nahari tinggal di daerah yang dilanda krisis terburuk di Yaman. Ia mengatakan bahwa bahkan para nelayan yang kapalnya masih utuh tidak berani berlayar karena takut dibom oleh jet-jet Saudi yang sering mengebom sasaran di dalam negeri. Serangan yang katanya untuk melawan kemajuan Houthi, yang mengendalikan ibukota, Sana’a, dan telah tersebar di seluruh Yaman. “Agresi ini telah membunuh satu-satunya penghasilan kami, [saya] bekerja sebagai nelayan, dan sekarang kami menganggur dan putus asa,” katanya. (Baca juga: MEMALUKAN! Demi Benarkan Pembantaian Yaman Pentagon Pakai Rekaman 10 Tahun Lalu)

Sebenarnya, Al-Nahari tidak mendapatkan banyak sebagai nelayan, tapi itu cukup untuk membeli tepung dan beberapa makanan pokok. “Kami hancur, kami tidak memiliki cukup uang, tidak ada makanan, tidak ada apapun untuk dimakan, tidak ada yang bisa digunakan untuk bekerja,” katanya menceritakan keadaannya saat ini.

Fatima mengurus dua cucu di desa al-Mujelis, di Hudaydah ini. Ali 11th dan Mohammed 4th. Mereka berdua menderita thalassemia dan kondisi mereka telah diperburuk oleh kurangnya makanan yang bergizi. “Kami tidak punya uang untuk mengobati cucu saya atau untuk memberi makan diri kami sendiri. Sejak kami kehilangan pekerjaan, kami tidak memiliki penghasilan dan tidak punya makanan untuk dimakan, “katanya.

Anak-anak dari beberapa keluarga biasanya bekerja di sebuah perkebunan mangga sebelum pengeboman. “Hari-hari ini, kami menjual sapu dan membeli tepung untuk kemudian memakannya dengan air,” katanya. “Entah kami akan mati akibat pengeboman atau akibat rasa lapar. Cucu saya membutuhkan perawatan dan juga yang paling penting dari semua itu adalah ia membutuhkan makanan sehat, cucu saya tidak tahu seperti apa rasanya meminum susu itu.” (Baca juga: Blokade Kemanusiaan dan Kelaparan, Senjata Baru Saudi Tundukkan Rakyat Yaman)

Ia mengatakan dunia menutup mata atas pemboman yang dilakukan Saudi, yang telah mendorong kritik untuk Inggris, yang mengekspor senjata ke Arab Saudi. “Saya juga menyalahkan seluruh dunia yang hanya menonton keadaan kami yang sekarat dan diamnya mereka atas apa yang dilakukan koalisi pimpinan Saudi,” katanya.

Ashwaq Ahmad Muharram, seorang relawan dokter kandungan dan ginekolog di Hudaydah, mengatakan bahwa situasi kemanusiaan di sana diyakini sebagai situasi kemanusiaan terburuk di antara 22 gubernuran di Yaman.

“Situasi sebelumnya sudah buruk di Hudaydah dan sekarang telah menjadi makin lebih buruk lagi. Jika sebelumnya mereka miskin, sekarang mereka lebih miskin”, katanya. (Baca juga: Mengungkapkan Kebodohan Arab Saudi dan Kelicikan Inggris)

“Ketika saya mengunjungi rumah-rumah di sini, saya bahkan tidak bisa menemukan bahan paling sederhana untuk menyokong kehidupan sehari-hari, tidak ada makanan. Biasanya sebagian besar orang hanya makan ikan dan menjual apa yang tersisa, tapi sekarang setelah kapal nelayan ditargetkan oleh koalisi yang dipimpin Saudi, mereka tidak punya apapun untuk mendapatkan penghasilan. “

Saeeda, seorang wanita berusia 60 tahun yang mengalami kelumpuhan, tinggal di desa al-Hajb di distrik al-Almansoriah Hudaydah. Di masa lalu, dia secara finansial didukung oleh putra satu-satunya, yang bekerja di sebuah perkebunan mangga.

“Ketika perang dimulai, ia kehilangan pekerjaannya. Cucu saya mencari sisa-sisa makanan di lingkungan kami. Jet-jet tempur Saudi membuat saya ketakutan sepanjang waktu dan ketika saya mendengar suara mereka di udara, saya bahkan tidak bisa lari dari pondok jerami saya, [karena] saya cacat, “katanya.

“Sebelum perang, kami bisa makan sarapan dan makan siang, kami memiliki 3 dolar perhari, situasi aman, tapi sekarang kami tidak punya apa-apa, anak saya pengangguran, hidup kami sulit tapi sekarang lebih sulit dari sebelumnya, kadang-kadang saya berharap saya tidak lahir dalam kehidupan ini. “

Ia menambahkan: “Pertanian telah dibom, kapal nelayan juga dan penyakit telah menyebar luas; demam membunuh banyak anak-anak.” (Baca juga: White House dan Krisis Yaman)

Ghaleb Mashn

Ghaleb Mashn

Putra Ghaleb Mashn, Radad, yang saat ini berusia 11bulan, mengalami kurang gizi dan menderita busung lapar. Keluarganya tinggal di desa al-Hajb.

“Anak saya memiliki kelainan bawaan, kondisinya semakin parah ketika ia kelaparan. Saya tidak punya uang untuk mengobatinya. Saya pergi ke Hudaydah selama dua hari dan saya tidak bisa tinggal lebih lama untuk melanjutkan pengobatannya, “kata Mashn, yang membuat sapu dan topi dan menghasilkan sekitar 2 dolar per hari. “Anak saya perlu dirawat, berat badannya 3.5kg dan setelah satu minggu di pusat malnutrisi meningkat menjadi 4.5kg.

“Semuanya telah berubah. Hidup kami telah menjadi neraka. Arab Saudi membombardir kami dan membunuh tetangga kami. ” (Baca juga: Dua Lembaga PBB Ingatkan Krisis Pangan Terparah di Yaman)

Pondok jerami Gummai Esmail Moshasha di al-Jah, di daerah Tihama, Hudaydah, ditargetkan pada 12 Januari. Moshasha, 54 tahun, dan salah seorang putranya, Ali 21 tahun, berada di luar rumah menunggu waktu sarapan ketika tiba-tiba Saudi melancarkan pemboman sekitar pukul 06:00. Di dalam, putra Ali yang berusia 18-bulan, Ahmad, istri dan ibunya langsung tewas.

“Mereka sedang menyiapkan sarapan di pondok jerami kami, hanya teh dan biskuit,” kata Ali. “Tiba-tiba roket menghantam pondok, saya berlari ke rumah untuk melihat apa yang terjadi, saya terkejut melihat anggota keluarga saya tewas dan tubuh mereka hancur, saya memeluk [apa yang] yang tersisa dari tubuh istri saya, saya juga memeluk ibu saya dan tubuh anak saya, saya menangis.

“Pesan saya kepada dunia adalah, Tolong hentikan perang’, tapi saya pikir pesan saya tidak berguna, mereka tidak akan mampu membawa kembali apa yang telah hilang dari saya.” (ARN)

(sumber: artikel Saeed Kamali Dehghan, The Guardian)

About ArrahmahNews (12202 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Krisis Pagan Yaman ‘Agresi Brutal Saudi Membunuh Kami’ | Arrahmah
  2. Krisis Pangan Yaman ‘Agresi Brutal Saudi Membunuh Kami’ | Arrahmah
  3. Akibat Agresi Saudi, Begini Penderitaan Seorang Pembuat Sapu Lidi di Yaman | ISLAM NKRI

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: