Ceramah Khalid Basalamah Pantas Dibubarkan

Senin, 6 Maret 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Penolakan terhadap ceramah pentolan Wahabi Khalid Basalamah di Sidoarjo adalah konsekuensi logis dari, dan reaksi terhadap, pemahaman keagamaan serta dakwah yang tidak menghargai tradisi keagamaan dan kebhinekaan. Ia adalah salah satu contoh paling nyata dari fundamentalisme Islam yang berkembang di maysarakat Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Cara yang diambil oleh GP Anshor dan Banser di daerah tersebut, yang menghentikan kegiatan ceramah beliau, sudah dilakukan dengan benar dan sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Memang menyatakan pendapat atau hak beragama seorang warganegara Indonesia dijamin oleh Konstitusi, tapi melakukan kegiatan yang kental dengan hasutan/ujaran kebencian/hate speech juga melanggar hukum. [Baca; GP Ansor Usir Pentolan Wahabi Khalid Basalamah; VIDEO]

Acara itu membahayakan akidah umat dan dapat memprovokasi umat pada tindakan-tindakan di luar hukum. Sementara aksi pembubaran yang dilakukan oleh Ansor dan Banser merupakan ekspressi ummat nahdliyyin untuk melindungi kepercayaan dan tradisi keagamaan mereka yang juga dilindungi oleh Konstitusi.

Kasus penolakan terhadap provokator Basalamah di Sidoarjo itu sejatinya juga ada kemiripannya dengan aksi-aksi penolakan terhadap ceramah-ceramah dari ormas Islam Majelis Tafsir Al-Quran (MTA) yang bermarkas di Solo, yang seringkali dianggap menyinggung tradisi keagamaan kaum nahdliyyin. MTA, seperti juga kelompok fundamentalis Islam beraliran Wahabi, mengharamkan tahlil, ziarah kubur, istighosah, dll. Di pelbagai daerah telah terjadi juga pelarangan-pelanggaran atau penolakan-penolakan terhadap ceramah dan kegiatan dakwah MTA.

Fenomema ini merupakan sebuah dinamika masyarakat Indonesia yang ingin menjaga tradisi islam nusantara yang toleran dan menghargai perbedaan. Munculnya faham fundamentalisme ala Ust Basalamah dan MTA serta penyebarannya perlu diwaspadai karena tujuan mereka adalah makar terhadap NKRI dan mendirikan khilafah. Tentu diperlukan Ansor dan Banser sebagai gerakan yang menjaga akidah umat dan NKRI. [Baca; Virus Kebencian Wahabi Dalam Pilkada DKI]

Ceramah Ust Basalamah, yang tersebar melalui media sosial dan video YouTube, sangat sarat dengan pesan-pesan yang bisa digunakan untuk kampanye politik. Karena itu ada alasan bagi pihak-pihak yang menolak beliau untuk menudingnya sebagai salah satu sumber perpecahan ummat Islam di Indonesia, yang seharusnya mau menerima dan menggunakan landasan Pancasila serta mengakui adanya kerukunan lintas dan intern agama.

Jika fenomena Fundamentalisme Islam ini tidak dikelola dengan tepat, maka potensi konflik di kalangan Islam akan bertambah dan tentu saja berarti persoalan dalam masyarakat Indonesia ke depan akan kian kompleks. Apalagi jika kemudian dimanipulasi oleh kaum radikal maka ia juga akan bisa menjadi pendukung gerakan radikal takfiri.

Pemerintah dan masyarakat sipil Indonesia harus peka dan memahami dinamika ini serta menemukan cara-cara yang efektif untuk mengelolanya. Jangan sampai fenomena ini menjadi sumber ancaman internal bagi NKRI. [ARN]

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: