Ditanya Wartawan Soal Polemik Tolak Salat Jenazah, Anies Diam Tak Bisa Menjawab!

Minggu, 12 Maret 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Drama agama dalam perpolitikan DKI dibuat lebih kental dengan larangan mensholatkan jenazah pendukung Ahok. Kasus spanduk intoleran dan berbau SARA bukan sekedar kain atau tulisan yang dipasang di sejumlah masjid-masjid di Jakarta, tapi sebagian dari pengurus masjid setidaknya telah melakukan anjuran dari isi spanduk tersebut.

Kasus Tolak Salati Jenazah di Musholla viral disemua media broadcast online, televisi, cetak dan Radio. Hingga Mentri Agama, PBNU dan MUI pun mengecam. [Baca; Gara-gara Dukung Ahok, Jenazah Nenek 78 Tahun Dilarang Dishalatkan di Mushala]

Lihat saja bagaimana kasus yang dialami oleh Hindun, nenek 78 tahun yang jenazahnya ditolak masjid setempat, padahal jarak antara rumah tempat ia tinggal dengan mushalla terbilang dekat. Belum lagi kasus ini selesai, jenazah Siti Rohbaniyah juga mengalami perlakuan yang sama, di mana pengurus masjid menolak jenazahnya dengan alasan masjid kosong tidak orang.

Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat menilai penolakan untuk mensalatkan jenazah yang mendukung salah satu pasangan cagub-cawagub DKI Jakarta ini bertentangan dengan agama, nilai pancasila, dan bhineka tunggal ika. [Baca; Jenazah Siti Rohbaniah (80) Baru Bisa Dishalati Setelah Mantunya Tanda Tangani Coblos Anies-Sandi]

Sementara itu, Anies Baswedan justru mengaku tidak mengetahui peristiwa tersebut, dan lebih memilih untuk memberikan pernyataan tertulis soal peristiwa tersebut. Tak lama setelah itu, Sabtu (11/03/2017), melalui akun Twitter-nya memposting surat pernyataan sikap soal kasus penolakan salat jenazah.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa Anies terlihat berat memberikan pernyataan sikap terkait kasus penolakan salat jenazah, ketika di wawancarai salah satu stasiun televisi? Tidak seperti Djarot Saiful Hidayat yang ceplas-ceplos, Anies justru terlihat hilang suaranya, seolah sedang mencari jawaban yang tepat atau takut memberikan pernyataan yang salah, karena mereka-mereka yang menolak salat jenazah bagi pendukung Ahok-Djarot, adalah para pendukung Anies sendiri dan salah satu dari Partai yang mengusung Anies-Uno. [Baca; Polisi Akan Bersihkan Spanduk SARA di Jakarta]

Perhatikan video wawancara Anies pada menit 0:54 di bawah ini;

Padahal dalam Islam jelas, jika seseorang meninggal, maka sudah menjadi kewajiban bagi yang hidup untuk mensholatkannya. Apakah dengan mendukung Ahok kita menjadi berdosa di depan Tuhan? Sungguh arogan dan sombong seakan-akan kita mengetahui wilayah yang hanya diketahui oleh Tuhan sendiri.

Bahkan Buya Hamka sendiri yang diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, “Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan.” Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam Al-Qur’an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.

Herannya seorang Anies tidak mengetahui apapun soal polemik tersebut, yang menjadi viral disemua media broadcast online, televisi, cetak dan Radio. Bahkan Anies terkesan tidak peduli pada kalangan bawah yang umumnya mendapatkan perlakuan intoleran, seperti jenazah yang dialami Hindun dan Siti Rohbaniyah.

Konyol rasanya, jika seorang Anies tidak mampu menjawab pertanyaan media terkait kasus tersebut, Mengapa? Apa ada udang dibalik batu? Apakah Anies mampu sejahterakan warga Jakarta, jika dia sendiri tidak bisa menenangkan para pendukungnya dari bertindak diskriminatif dan intoleran? [ARN]

About ArrahmahNews (12166 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Ditanya Wartawan Soal Polemik Tolak Salat Jenazah, Anies Diam Tak Bisa Menjawab! | Arrahmah

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: