Kupas Tuntas Revolusi Yaman (Bagian Pertama)

Senin, 13 Maret 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, SANA’A – Yaman mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Yaman telah dianggap sebagai negara miskin yang masih menderita sampai hari ini. Orang-orang Yaman berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di mana mereka tinggal, namun mereka belum menerima hasil yang mereka inginkan. Dua hal utama yang berpengaruh terhadap upaya untuk membuat perbedaan adalah alasan di balik perubahan besar di Yaman. Itu semua dimulai dengan revolusi Yaman pada 2011, diikuti oleh pengaruh Houthi atau Ansarullah atas Yaman yang mengarah ke agresi Amerika Saudi di Yaman.

Pertama, revolusi Yaman pertama dimulai pada Januari 2011, dipengaruhi oleh protes Musim Semi Arab seperti pemberontakan Tunisia dan Mesir. Orang-orang Yaman memutuskan bahwa mereka tidak bisa lagi menanggung korupsi yang mengakibatkan kesulitan bagi mereka. Orang-orang Yaman berbondong-bondong keluar rumah untuk memprotes tingginya tingkat pengangguran, kondisi ekonomi dan usulan pemerintah untuk mengubah konstitusi Yaman. [Baca; Demo Rakyat Yaman di Sana’a untuk Peringati Hari Revolusioner dan Kutuk Agresi Saudi]

Para demonstran marah pada pemerintah karena membuat mereka hidup dalam kondisi sengsara seperti itu, dan segera mereka menyadari bahwa langkah pertama untuk mengubah hal-hal itu adalah dengan mengusir presiden Yaman “Ali Abdullah Saleh”. Pemerintah Yaman itu ingin memodifikasi konstitusi Yaman dengan memperpanjang masa kepemimpinan Saleh.

Salah satu demonstrasi yang paling besar diadakan di ibukota Sana’a dengan lebih dari 16.000 orang mengungkapkan kemarahan mereka pada 27 Januari. Sebagai konsekuensi dari tekad para demonstran ‘untuk mengakhiri kepresidenannya, ia mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden atau mewariskan kepresidenannya kepada anaknya pada tahun 2013.

Pada 3 Februari, banyaknya demonstran yang berkumpul di gubernuran  Sana’a dan Aden mencapai sejumlah besar, suara marah yang menyerukan penghentian penindasan dan korupsi. Hari itu disebut “Hari Kemarahan” yang disebut  Tawakol Karman, salah satu kontributor utama terjadinya revolusi. Pada hari yang sama, unjuk rasa pro-pemerintah diadakan di ibukota  Sana’a oleh anggota Angkatan bersenjata dari Kongres Rakyat serta demonstran lainnya. Pada tanggal 18 Februari, orang-orang Yaman keluar untuk berdemonstrasi di Taiz, Aden dan Sana’a dimana hari itu disebut  hari “Jumat Kemarahan”. [Baca; Demo Rakyat Yaman Mengutuk Agresi Saudi dan Amerika Membabi Buta]

Pada “Hari Jumat tanggal 11 Maret, orang-orang Yaman berkumpul di kota Sana’a untuk menuntut pengusiran Saleh, dan protes ini dihadapi dengan kekerasan yang menyebabkan kematian tiga orang. Kota-kota lain dari Yaman seperti Al-Mukalla juga bernasib serupa, di mana satu orang menghadapi kematian. Pada tanggal 18 Maret, hari yang disebut “Jumat Kehormatan”, pemerintah Yaman melakukan pembantaian terhadap para demonstran Yaman dengan cara menembaki mereka, mengakibatkan kematian 52 orang dan memaksa mereka untuk memilih mundur karena  tidak ada pilihan lain.

Saleh setuju untuk menandatangani kesepakatan Dewan Kerjasama Teluk pada akhir April, namun ia mundur tiga kali sebelum penandatanganan dijadwalkan. Setelah ketiga kalinya, GCE menyatakan bahwa mereka akan menghentikan intervensi mereka untuk memperbaiki Yaman. Sheikh “Sadiq Al-Ahmar” adalah kepala federasi suku Hashid; dia membuat keputusan intervensi langsung setelah penolakan Saleh untuk bekerjasama.

Ia mendukung oposisi dan pasukan bersenjatanya terlibat dalam pertempuran dengan loyalis pasukan keamanan di ibukota Sana’a. Hal ini mengakibatkan bentrokan keras yang melibatkan penembakan artileri dan tembakan mortir. Pada tanggal 3 Juni, sebuah ledakan terjadi di sebuah masjid, menargetkan tempat presiden yang terdiri dari pejabat pemerintah tingkat tinggi, termasuk Ali Abdullah Saleh. Mantan presiden Yaman itu terluka parah dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk perawatan. Wakil Presiden “Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi” menduduki jabatan sebagai presiden di hari berikutnya selama ketidakhadiran Saleh. Berita itu membuat banyak orang merayakan, tapi para pejabat Yaman masih mengharap kembalinya Saleh dan bahwa ketidakhadirannya di kantor hanya sementara. Selanjutnya, para demonstran meminta pembentukan dewan transisi dengan tujuan mentransfer kekuasaan kepada pemerintah sementara. [Baca; Demonstrasi Rakyat Yaman Dukung Koalisi Houthi-Saleh]

Namun, permintaan mereka ditolak pada awal Juli. Sebagai akibatnya, pembentukan dewan transisi 17 anggota diumumkan oleh kelompok-kelompok oposisi, namun anggota lain dari oposisi menyatakan bahwa dewan ini tidak mewakili mereka dan bahwa ini bukan rencana mereka untuk pembangunan Yaman.

Saleh akhirnya menandatangani perjanjian transfer kekuasaan yang  dikelola oleh Dewan Kerjasama Teluk di Riyadh pada 23 November. kekuasaannya akan ditransfer ke Wakil Presidennya, Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, dalam jangka waktu 30 hari dan memberhentikan posisinya sebagai presiden pada Februari 2012. Saleh menukar kepresidenannya dengan kekebalan dari penuntutan. Kesepakatan GCC diterima oleh beberapa demonstran, namun hal itu ditentang oleh banyak lainnya termasuk Houthi atau “Ansarullah”. Pada tanggal 21 Februari tahun 2012, Yaman bertemu dengan perwakilan baru atau presiden baru setelah 33 tahun kekuasaan Saleh. Sebuah pemilihan presiden diadakan, dengan Hadi menjadi satu-satunya calon tanpa lawan.

Sumpah jabatan telah diambil oleh Hadi pada 25 Februari 2012. Pada hari yang sama, Saleh kembali untuk menghadiri peresmian Hadi. Setelah berbulan-bulan lamanya protes berlangsung karena semua itu dimulai pada bulan Januari, para demonstran akhirnya berhasil mencapai tujuan mereka untuk mengakhiri periode 33 tahun kekuasaan Saleh. Namun, banyak yang tidak yakin bahwa revolusi telah berhenti pada titik ini. Tujuan utama mereka dari demonstrasi belum terpenuhi, kecuali satu yaitu  menyingkirkan Saleh. Pemerintahan masih sama, korupsi masih tersebar luas, tidak ada efek besar pada kondisi ekonomi dan nilai tingkat pengangguran masih tinggi. Singkatnya, revolusi 2011 mencapai sukses, namun belum sepenuhnya. [Baca; Catherine Shakdam: Adu Domba Asing dan Kelicikan Saudi Diantara Perlawanan Bangsa Yaman]

Kedua, warga Yaman membuat perbedaan dalam penderitaan yang harus mereka hadapi tiap hari dengan gerakan Houthi atau Ansarullah. Ansarullah pertama berasal dari Gubernuran Saada, Yaman utara. Gerakan ini didirikan oleh Hussien Badreddin Al-Houthi pada tahun 2004 dan salah satu tujuannya adalah untuk menggulingkan pemerintah korup dan presiden Ali Abdullah Saleh. Pembentukan gerakan ini adalah akibat  dari adanya intervensi asing seperti pengaruh ideologi Saudi serta dominasi Barat di Yaman.  Ansarullah, juga berpartisipasi dalam revolusi 2011 Yaman dan Dialog Konferensi Nasional. Dalam NDC, mereka menolak ide membagi Yaman menjadi enam provinsi karena akan membagi Yaman ke dalam daerah miskin dan kaya di samping fakta bahwa itu akan melemahkan Yaman. Mereka menarik diri dari NDC setelah pembunuhan perwakilan mereka di NDC. Ansarullah kemudian dipimpin oleh Abdul-Malik Al-Houthi, saudara Hussien, setelah Hussein  terbunuh pada tahun 2004 oleh pasukan tentara Yaman.

Pemerintah Yaman melancarkan perang kepada Ansarullah setelah insiden saat shalat Jumat di sebuah masjid yang dihadiri Saleh, di mana sekelompok orang meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Yahudi mereka. Presiden takut bahwa, mereka juga akan meneriakkan slogan “kematian untuk presiden Yaman”.  Hussein kemudian diundang ke ibukota Sana’a untuk pertemuan, tapi Hussein menolak karena keselamatannya tidak dijamin. Akibatnya, presiden mengirim beberapa pasukan militer untuk menangkap Hussein dan secara resmi menyatakan perang terhadap Ansarullah. Perang akhirnya berakhir pada tahun 2010 dengan perjanjian gencatan senjata. Revolusi kemudian berlanjut  dengan pemimpin baru, dan Ansarullah serta sekutu mereka membuat banyak kemajuan dan menarik lebih banyak pengikut.

Mereka memperoleh lebih banyak wilayah dan pada tanggal 9 November, Ansarullah menguasai gubernuran Saada, Al-Jawf dan Hajjah berikutnya ibukota Sana’a. Dengan 21 September, Ansarullah mengendalikan gedung-gedung pemerintah dan stasiun radio di bagian Sana’a. Sementara itu, pemerintah Yaman meningkatkan harga petroleum yang meningkatkan inflasi. Hal ini mengakibatkan bertambahnya penderitaan orang-orang yang bahkan tidak mampu memenuhi  kebutuhan hidup, mereka melakukan  demonstrasi dan pawai menentang keputusan pemerintah Yaman. Demonstrasi itu terdiri dari sebagian besar Ansarullah dan pengikut mereka. Mereka mengumumkan tiga tuntutan mereka melalui pawai yang mengakhiri turunan minyak bumi, melaksanakan hasil Dialog Nasional dan memodifikasi pemerintah. [Baca; Tuduhan atas Houthi adalah Upaya Mengkriminalisasi Gerakan Perlawanan]

Pemerintah menanggapi hanya satu dari tuntutan mereka, mengembalikan harga asli dari turunan minyak bumi. Para demonstran melanjutkan protes mereka, tetapi mereka hanya menerima ketidakpedulian sebagai umpan balik. Akhirnya, para demonstran membuat keputusan mencapai tuntutan mereka dengan paksa. Mereka terlibat dalam bentrokan dengan beberapa pasukan Yaman yang melindungi istana presiden. Presiden Hadi berada di istana selama pertempuran, tapi ia tidak kenapa-napa.

Pada tanggal 20 Januari 2015, Ansarullah merebut istana presiden di ibukota Sana’a, menggulingkan pemerintah yang didukung Saudi. Hadi serta semua menteri lainnya mengumumkan bahwa mereka mengundurkan diri.  Hadi berada dalam tahanan di istana presiden. Selama waktu itu, Ansarullah mengumumkan bahwa mereka ingin pembentukan pemerintah baru yang akan melibatkan setiap segmen masyarakat Yaman untuk menciptakan pemerintahan dari semua dan untuk semua. Mereka memulai Dialog Nasional dengan perwakilan dari masing-masing pihak yang berpartisipasi. Ansarullah mengumumkan Komite Revolusioner pada 6 Februari, tapi dialog itu tidak terganggu. Selanjutnya, Hadi berusaha untuk melarikan diri dari istana dan melakukan perjalanan ke otoritas gubernuran pesisir Aden, menyatakan kepresidenannya menolak semua pemilihan dari sana dan bahwa ibukota Yaman sementara yang baru adalah Aden. [Baca; Blokade Kemanusiaan dan Kelaparan, Senjata Baru Saudi Tundukkan Rakyat Yaman]

Pada tanggal 20 Maret, masjid Al-Badr dan Al-Hashoosh menjadi target serangan bunuh diri saat sholat Dzuhur.  ISIS bertanggung jawab atas peristiwa ini. Serangan itu adalah yang paling mematikan dalam sejarah Yaman karena telah mengakibatkan pembunuhan 142 jamaah dan melukai lebih dari 351 lainnya. Dalam pidato televisi, pada tanggal 22 Maret, Abdul Malik Al-Houthi menuduh AS dan Israel serta sekutu mereka dari beberapa negara Arab telah memberikan bantuan keuangan untuk kelompok teroris yang beroperasi di Yaman. Keesokan harinya, pejuang Ansarullah melakukan perjalanan ke Aden untuk mengakhiri pengumuman tidak adil Hadi dan pemerintahan palsu baru yang diciptakannya. Mantan Presiden Hadi meminta intervensi asing. Akibatnya, koalisi Saudi yang terdiri dari 9 negara meluncurkan jet-jet tempur untuk mengobarkan perang di Yaman pada 26 Maret, menyebutnya sebagai “Operasi Badai Tegas”. Klik Bersambung… [ARN]

 

About ArrahmahNews (12177 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Kupas Tuntas Revolusi Yaman (Bagian Kedua) | ISLAM NKRI

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: