Gus Mus; Ulamanya Sok Tahu Politik Padahal Ndak Ngerti Politik

Selasa, 14 Maret 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, BANDUNG – Alun-alun kota Bandung dibanjiri ribuan umat Islam di Masjid Raya kota itu, yang diselenggarakan oleh LDNU Jawa Barat pada Senin (13/03/2017). Acara yang mengangkat tema Gema Sholawat dan Muhasabah bersama KH Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus itu, berlangsung dengan khidmat dan mendapat sambutan positif dari masyarakat Bandung. (Baca juga: Gus Mus: Allahu Akbar Bukan Untuk Kesombongan)

Gus Mus yang menjadi pembicara utama dalam acara itu, mengatakan bahwa ia akan lebih banyak mengkritik NU, bukan memuji-mujinya.

Beliau menyinggung peran NU yang selalu terdepan dalam membela keutuhan bangsa, dan ancaman kelompok-kelompok yang ingin memecah belah kerukunan bangsa. Lalu dengan nada tanya, Gus Mus berkata; dimana NU? Sedang Tidurkah?

Gus Mus juga memaparkan bahwa dalam waktu dekat para kiai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas kondisi bangsa saat ini. “Kiai sepuh akan turun gunung, karena yang muda-muda banyak yang malah terpesona ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir-takbirnya?”, ujar KH Mustofa Bisri. (Baca juga: Gus Mus; Indonesia Krisis Dakwah, Satu Sama Lain Saling Sikat dan Hujat)

Kemudian, beliau menjelaskan arti dari takbir, yang menunjukkan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangetan itu?

Gus Mus juga menceritakan pengalamannya saat sedang bersama dengan Gus Dur sambil tidur-tiduran di lantai. Saat itu, saya bilang ke Gus Dur “kalau NU dari dulu itu ndak naik-naik pangkatnya, jadi satpam terus. Kalau terus begini ada sesuatu yang bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll). Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana Gus? (Baca juga: Gus Mus: Jangan Mudah Kasih Stempel Syirik dan Sesat Kepada Sesama)

Seperti biasa, Gus Dur sambil guyon menjawab, “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi satpam nya bangsa ini?” Dan Gus Mus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

Gus Mus juga berpesan kepada warga Bandung dan kaum muslimin, untuk berhati-hati terhadap yang namanya ulama. Ulama memang benar pewaris nabi, tapi ulama yang bagaimana? Harus dikaji track record dari yang ngaku-ngaku ulama. Umat dibuat bingung dengan ulama yang mengeluarkan fatwa serampangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kiai ketika berdebat, seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha agar santri-santrinya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair-syair berbahasa Arab dengan harapan santri masing-masing tidak ikutan panas.

Lha sekarang ini, pimpinannya ribut, ngajak jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir dan lain-lain. Sampai-sampai belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu Gus Mus juga menceritakan kemarahan besar Nabi SAW terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha illa Allah karena mengatakannya munafik. (Baca juga: Siasat Baru Arab Saudi, ISIS dan PKS)

Ada ulama yang sok tahu politik, sekarang ini ikut-ikutan berpolitik, padahal ndak ngerti politik. Terus bawa-bawa agama, padahal ndak ngerti agama. Ya apa tidak kacau beliau jadinya.

Dalam pesannya Gusmus juga mengajak umat untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik diam. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share tulisan orang lain.

Gus Mus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul SAW, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi umat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku-ngaku ulama itu memang pantas disebut para pewaris Nabi atau tidak.

Allah SWT dalam Al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisik dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul Saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi). Allah hanya memuji keluhuran akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem).

Maka jadikan akhlak sebagai tolak ukur penilaian. Karena Rasul diutus untuk memperbaiki dan meyempurnakan akhlak. (ARN)

About ArrahmahNews (12188 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: