Ini yang Tidak Diungkap Media Soal Serangan Kimia di Suriah

Kamis, 06 April 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, Pada hari Selasa, sebuah serangan senjata kimia kembali terjadi di Suriah. Serangan ini terjadi di provinsi Idlib, dan puluhan dikabarkan telah meninggal sebagai hasilnya.

Suriah tidak asing dengan serangan senjata kimia. Pada tahun 2013, ada dua serangan menghancurkan, yang keduanya digunakan pemerintahan Obama untuk mencoba membenarkan serangan langsung pada pemerintahan Assad. [Baca; Maria Zakharova; Laporan White Helmet Tidak Bisa Dijadikan Bukti Serangan Kimia]

PBB menyelidiki secara menyeluruh serangan pertama 2013 itu. Komisi Penyelidikan PBB Carla Del Ponte akhirnya mengatakan bukti-bukti menunjukkan serangan itu dilakukan oleh pemberontak Suriah dan bukan pemerintah Suriah. Meskipun demikian, dukungan bagi para pemberontak Suriah dari AS dan sekutunya justru meningkat, menimbulkan pertanyaan serius tentang ketulusan Obama ketika mengutuk serangan kimia.

Wartawan pemenang Hadiah Pulitzer, Seymour Hersh, menemukan bahwa serangan besar kedua dilakukan dengan cara yang sama. Hersh menemukan bahwa AS sengaja berusaha untuk membingkai bukti untuk menimpakan serangan itu kepada Assad bahkan tanpa mempertimbangkan kelompok teror al-Nusra, yang memiliki akses langsung kepada senjata kimia yang seharusnya menjadi tersangka utama. [Baca; Tamparan Keras Rusia Bungkam Duta Besar Inggris di Sidang DK PBB]

Pada tahun 2016, PBB menyimpulkan bahwa pemerintah Suriah telah menggunakan senjata kimia dalam konflik panjang negara itu, tapi ISIS juga memilikinya. Hal ini terjadi setelah faktanya bahwa pada 2013, PBB juga telah menyatakan bahwa pemerintah Suriah tidak lagi memiliki senjata kimia.

Namun fakta-fakta ini sebagian besar tidak dimunculkan dalam setiap komentar serius mengenai serangan terbaru di Suriah kemarin. Meskipun laporan-laporan ini dapat diakses dan tersedia, dunia malah memutuskan untuk terang-terangan mengabaikan fakta-fakta jelas itu dan buru-buru menyalahkan Assad, sekali lagi!

Perlu diperhatikan! Bahwa salah satu sumber yang menyalahkan Suriah dan / atau Rusia untuk serangan ini adalah Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sebuah organisasi yang dijalankan oleh pembangkang anti-Assad yang tinggal di Coventry, Inggris. Klaim ini juga didukung oleh White Helmets yang merupakan agen pro-intervensionis pemerintah Barat.

Namun tanpa langsung mengkonfirmasikan hal ini terhadap laporan intelijen manapun, media dan politisi beramai-ramai dengan kekuatan penuh mengutuk pemerintah Assad. Beberapa publikasi artikel ini antara lain seperti yang diterbitkan the Guardian, tiga berita utamanya berisi satu pelaporan serangan dan dua berikutnya mengutuk Assad langsung.

Bahkan surat kabar Selandia Baru, New Zealand Herald, memuat artikel yang ambisius berjudul “Donald Trump adalah satu-satunya pemimpin yang bisa menghentikan kekejaman Suriah.” [Baca; Menhan Rusia; Suriah Serang Gudang Senjata Kimia Teroris di Khan Shaykhun]

Dalam artikel itu, penulis mengabaikan semua laporan mengenai serangan pada 2013 tersebut, mengklaim bahwa pada tahun itu, “rezim Suriah menggunakan sarin.” Dia juga mengklaim “Obama tidak melakukan apa pun” dalam menanggapi hal ini.

Klaim bahwa Obama “tidak melakukan apa pun” sama sekali tidak masuk akal. Pada 2016 saja, Obama menjatuhkan lebih dari 26.000 bom – hampir setengahnya mendarat di Suriah. Bom-bom ini juga menghujani pasukan Suriah dimana ini adalah pelanggaran langsung dari hukum internasional. Sebagai presiden, Obama juga membuat CIA mengeluarkan sekitar 1 miliar dolar per tahun untuk melatih pemberontak Suriah.

Jika kekhawatiran “berita palsu” didengung-dengungkan oleh media mainstream dan presiden (Donald Trump) sedang mengancam lembaga-lembaga demokrasi AS, bagaimana lagi kita bisa menggambarkan laporan-laporan bias di Suriah itu, jika bukan juga “berita palsu?” Berita harus didasarkan pada bukti, bukan dibentuk berdasarkan agenda kebijakan luar negeri perubahan rezim.

Taruhlah ada kemungkinan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia dalam sebuah langkah bodoh yang akan segera menarik kecaman internasional dan panggilan untuk perang hanya beberapa hari setelah AS secara terbuka mengakui mereka akan mempertimbangkan untuk tidak lagi mempermasalahkan Assad. Tapi bagaimana jika pemerintah Suriah tidak bertanggung jawab, dan serangan itu, sekali lagi, dilakukan oleh para pemberontak Suriah? Akankankah dunia bersatu dan bergabung dengan anggota Kongres Tulsi Gabbard dalam seruan untuk menghentikan mempersenjatai kelompok-kelompok teror di Suriah?

Ataukah kita hanya peduli tentang serangan senjata kimia jika ada indikasi bahwa pemerintah Suriah berada di balik itu? [Baca; Serangan Kimia Idlib, Taktik Licik Barat untuk Menekan Damaskus]

Siapapun harus ingat bahwa jika para pemberontak melakukan serangan tersebut, AS benar-benar bisa melakukan sesuatu tentang hal itu karena Amerika dan sekutunya aktif mendukung mereka. Penarikan dukungan untuk kelompok-kelompok yang melakukan taktik licik ini akan memberikan kontribusi untuk keselamatan dan keamanan Suriah.

Sayngnya hal ini tampaknya tidak akan terjadi, karena fokus utama media dalam cerita ini adalah untuk menggalang dukungan bagi perang dan pertumpahan darah lebih lanjut di Timur Tengah – tidak kurang dari itu. (ARN)

Sumber; The Anti Media.

About ArrahmahNews (12171 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: