Kesepakatan Saudi-Israel dalam Serangan AS ke Suriah

 Senin, 10 April 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, WASHINGTON DC – Presiden AS Donald Trump telah meluncurkan keterlibatannya dalam agenda Suriah. Rudal Tomahawk, yang menargetkan bandara al-Shaerat di Homs, telah memutar posisi Trump dari yang semula menyatakan bahwa  Amerika Serikat tidak ada hubungannya dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam solusi politik apapun untuk krisis di Suriah, dan nasib sang Presiden ada ditangan rakyat Suriah.

Di Khan Sheikhun, operasi  bendera palsu AS mengenai  serangan kimia palsu dibuat, sebagai dalih untuk melancarkan agresi AS terhadap Suriah. Dalih palsu ini hanyalah propaganda media yang diadopsi oleh pemerintah AS untuk membenarkan tindakan agresi mereka di Suriah, Irak dan tempat lain.

Posisi Arab Saudi-Israel

Apa yang paling mencolok adalah bukan sama sekali mengenai rincian agresi AS terhadap Suriah, tujuannya, hasilnya di lapangan, kerugian material maupun korban tewas  yang diderita di bandara yang ditargetkan, tetapi posisi yang mendahului dan mengikuti agresi ini. Saya tidak berbicara tentang orang-orang yang mendukung agresi dari negara-negara yang sama yang bersekutu dan berafiliasi, dan dikenal karena posisi mereka dalam agenda Suriah mereka, seperti Inggris, Perancis, Jerman, Turki dan Jepang. Yang ingin diungkapkan disini adalah harmoni dalam posisi Saudi dan Israel dan kebetulan yang mencurigakan dan keselarasan dalam istilah yang mereka gunakan, seakan posisi kedua negara  ditulis oleh orang yang sama.

Dalam sambutannya menyusul agresi, Trump menyerukan negara-negara “beradab” untuk mengakhiri pembantaian dan pertumpahan darah di Suriah dan mengakhiri terorisme dari semua jenis dan bentuk. “Dan Arab Saudi adalah negara Arab dan internasional pertama yang mendeklarasikan dukungan penuh” untuk agresi AS. Sebuah sumber resmi di Kementerian Luar Negeri Saudi mencatat keputusan “berani” presiden AS itu sebagai tanggapan terhadap kejahatan yang dituduhkan Assad mengingat kegagalan masyarakat internasional untuk mengakhiri itu.” Saudi menggunakan kata-kata Trump yang menuduh pemerintah Suriah bertanggung jawab demi membenarkan pemboman AS Suriah. Sekretaris Jenderal NATO, Jans Stoltenberg, juga mengatakan hal yang sama.

Sedang bagi Netanyahu, serangan itu mengirimkan pesan kuat untuk Iran. Di sisi lain, pernyataan dukungan atas serangan AS terhadap Suriah menjadi berita utama di media-media Israel, terutama mengenai posisi Saudi dan Emirat, serta pernyataan para pejabat Israel, termasuk PM nya, Benjamin Netanyahu, dan Menteri perang, Avigdor Lieberman, yang mengatakan mereka sudah mengetahui sebelum serangan rudal AS dilaksanakan. Netanyahu menekankan dukungan penuhnya dan menyebut bahwa ini adalah pesan kuat dalam menghadapi perilaku “tercela” dari Bashar Assad yang harus didengar tidak hanya di Suriah tetapi juga di Teheran, Pyongyang dan di tempat lain.”

Apa yang terjadi selanjutnya setelah rudal Trump?

Akankah bombardir bandara Al-Shayrat menjadi bagian domino pertama yang akan mempersulit situasi? Apakah itu langkah pertama dalam intervensi militer langsung AS di berbagai bidang di Suriah? Masih  terlalu dini untuk berbicara tentang komplikasi dramatis yang mungkin akan kita saksikan di arena Suriah, terutama karena agresi Amerika bertepatan dengan langkah besar di lapangan yang mendukung upaya penyelesaian, transfer militan dan dengan demikian mendorong rekonsiliasi lebih lanjut di daerah-daerah di Suriah  yang telah menjadi ajang pertempuran  baru-baru ini.

Dalam hal ini, para pengamat menganggap serangan rudal Trump sebagai dukungan langsung untuk organisasi teroris. Bandara yang diserang merupakan pangkalan udara bagi jet-jet tempur yang menyerang kamp-kamp teroris dan kehadiran mereka. Di sisi lain serangan itu menyampaikan pesan promosi – sebagaimana ditunjukkan oleh Netanyahu – terutama setelah kebingungan administratif dan politik yang ditandai administrasi Trump setelah pemilihannya. Tujuan serangan tersebut adalah mengembalikan peta politik AS di Suriah, meningkatkan peran Amerika dalam setiap proyek penyelesaian Suriah dan tidak mengizinkan Rusia dan Iran mengambil peran.

Untuk menarik rincian tahap berikutnya, beberapa pihak yang mengadopsi posisi AS seperti Arab Saudi, Turki dan kelompok-kelompok oposisi Suriah ternyata kurang puas. Ankara terus menuntut pengenaan zona aman, sedangkan “koalisi Suriah” berharap adanya kelanjutan dari  serangan militer AS.

Para pengamat juga menunjukkan keengganan dan kontradiksi dari AS untuk menginformasikan Moskow sebelum meluncurkan agresi, meskipun mereka menyampaikannya juga pada malam hari saat kedatangan kapal perang AS ke laut Mediterania.

Trump dan Menteri Luar Negerinya membantah telah menginformasikan Rusia. Sementara juru bicara Pentagon menegaskan tidak menargetkan area di pangkalan di mana ada kehadiran Rusia. Pengamat mengharapkan pergerakan Rusia yang dapat menyebabkan eskalasi politik, tetapi tanpa harus mencapai tingkat gesekan di lapangan, yang tidak diinginkan Trump. (ARN/YemenPress)

 

About ArrahmahNews (12235 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: