Erdogan Seharusnya Jadi Tersangka Utama Serangan Kimia di Idlib

Selasa, 11 April 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, ANKARA – Turki pada awalnya seolah meminta penyelidikan internasional dilaksanakan atas serangan kimia di provinsi barat laut Suriah, Idlib, pada 4 April lalu. Idlib berbatasan dengan Turki dan sudah terkenal bahwa kelompok-kelompok ekstremis (afiliasi Al-Qaeda) yang mengendalikan provinsi ini telah menikmati dukungan rahasia dari intelijen Turki, yang telah melatih mereka, melengkapi mereka dan menuntun mereka di masa lalu dalam sebuah perusahaan gabungan dengan CIA dan sekutu Teluk Arab AS lainnya’.

Namun, anehnya, Presiden Recep Erdogan tiba-tiba berbelok dari menuntut penyelidikan independen. Sebaliknya, ia menegaskan, “Kami memiliki informasi radar dan kami memiliki laporan forensik. Ada yang mengatakan Suriah tidak memiliki senjata kimia. Tentu saja mereka punya. Sudah jelas pesawat mana yang menjatuhkannya.” (Baca juga:MEMALUKAN! AS Tak Bisa Buktikan ada Senjata Kimia di Pangkalan Udara yang Diserang)

Erdogan ingin menutup masalah ini dan pergi. Dia tak menyia-nyiakan kesempatan dengan menunjukkan dukungan antusias atas serangan rudal AS di Suriah pada 6 April dan memohon Presiden Donald Trump untuk menghidupkan kembali agenda “perubahan rezim” di Suriah. Mengapa ia berperilaku aneh seperti itu?

Sikap proaktif Erdogan itu hanya memiliki satu penjelasan, bahwa propaganda serangan kimia di Idlib pada kenyataannya direncanakan dengan pengetahuan intelijen Turki. Erdogan akan kehilangan segalanya jika kebenaran ini sampai diketahui. (Baca juga:Fakta-fakta Kejanggalan Serangan Senjata Kimia di Suriah)

Turki menarik keuntungan dengan mengendapkan situasi di Suriah yang akan mau tak mau menyebabkan beberapa bentuk intervensi Amerika. (Memang, masukan dari CIA adalah dasar keputusan Trump untuk memerintahkan serangan rudal di Suriah, yang tentu saja kemudian berdampak pada hubungan AS-Rusia.) Di sisi lain, serangan Idlib juga berimbas pada Trump dengan beredarnya rumor di Washington yang memanaskan dugaan keterkaitannya dengan Rusia.

Kesemua aktor “protagonis” tersebut memperoleh keuntungan dari permainan licik ini, Erdogan, CIA, para Russophobes di Washington, dan presiden Amerika sendiri). (Baca juga:Putin Tak Terima Netanyahu Tuduh Assad Dibalik Serangan Idlib)

Tapi Erdogan yang paling mendapatkan keuntungan dari kesemuanya.

Pertama, dalam semalam ia merusak situasi Suriah untuk memoles citranya sebagai pemimpin Islam tertinggi Muslim Timur Tengah, hanya seminggu menjelang referendum penting Turki pada 16 April yang akan mengadakan pemungutan suara untuk mengganti sistem parlemen menjadi kepresidenan yang kuat.

Kedua, Erdogan telah membawa perselisihan antara AS dan Rusia, yang menciptakan ruang bagi Turki untuk melanjutkan operasi militer di Suriah utara dan mengkonsolidasikan pendudukan di sebagian besar wilayah Suriah.

Ketiga, Rusia dan Iran mungkin akan berada di bawah tekanan untuk menunda serangan militer yang direncanakan pada Idlib untuk membebaskan wilayah tersebut dari al-Qaeda. (Idlib adalah satu-satunya provinsi Suriah yang tersisa yang masih di bawah kendali kelompok ekstrimis.)

Keempat, permintaan terus-menerus Erdogan untuk penciptaan “zona aman” di dalam wilayah serta “zona larangan terbang” – yang keduanya akan meningkatkan kehadiran militer Turki secara permanen di dalam wilayah Suriah – telah memperoleh angin segar. (Baca juga:Israel, Saudi, Turki dan Teroris Sambut Agresi AS ke Suriah)

Dan kelima, ya, tentu saja hal itu juga akan menjadi ciuman kematian untuk ambisi Kurdi dalam menciptakan tanah air otonom ( “Rojava”) di Suriah utara. (Baca juga:Erdogan Kesal Moskow, Washington Perhatikan Kurdi)

Cukuplah untuk mengatakan, ambisi teritorial Turki atas Suriah (untuk merebut kembali wilayah Ottoman yang hilang dalam penyelesaian 1922) berkobar kembali minggu terakhir ini. (Baca juga:Obsesi Turki-FSA Kuasai Suriah Belum Berakhir)

Sebenarnya sebuah penyelidikan internasional akan membantu mengungkap peran Turki dalam serangan kimia di Idlib. Namun, sayangnya, CIA tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi karena apa yang terjadi di Idlib juga akan menjadi sebuah keuntungan timbal-balik dengan intelijen Turki. Erdogan dan tokoh-tokoh di Langley berenang di sungai yang darah sama. Selama permainan licik seperti itu berlanjut, prospek penyelesaian Suriah akan tetap suram. (ARN/Indian Punchline)

About ArrahmahNews (12166 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Comment on Erdogan Seharusnya Jadi Tersangka Utama Serangan Kimia di Idlib

  1. TURKI PENGHIANAT ISLAM.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Draft Resolusi PBB tentang Suriah Kembali Diajukan Oleh Barat – VOA ISLAM NEWS
  2. Setelah Memuji Trump Serang Suriah, Erdogan Kini Minta Penyelidikan – VOA ISLAM NEWS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: