Rusia Siap Berikan Akses Pada Penyidik PBB ke Pangkalan Udara Shayrat

Rabu, 12 April 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, MOSKOW – Rusia mengatakan pihaknya siap untuk memberikan akses pemeriksaan ke pangkalan udara Suriah, yang diklaim AS telah digunakan untuk melakukan “serangan kimia.”

Setidaknya 86 orang tewas di kota Khan Shaykhun pekan lalu, yang diklaim sebagai serangan kimia yang dilakukan oleh pemerintah Suriah. Damaskus membantah tuduhan itu, dan mengatakan bahwa pasukannya telah menarget depot senjata kimia yang dimiliki oleh militan yang menentang pemerintah.

Tapi negara-negara Barat bersikeras bahwa Damaskus berada di balik serangan itu, dan Amerika Serikat menyebut pangkalan udara militer Shayrat telah digunakan sebagai landasan untuk serangan gas kimia. Militer AS kemudian meluncurkan 59 rudal Tomahawk ke pangkalan udara Shayrat di provinsi Homs, pada Jumat, dan mengatakan serangan dilakukan sebagai balasan atas “serangan kimia” pada 4 April lalu.

Rusia yang telah melaksanakan kampanye pemboman udara di Suriah atas persetujuan Damaskus, telah membantah tuduhan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah.

Pada hari Selasa, Kolonel Jenderal Sergey Rudskoy, kepala Staf Umum Departemen Operasional Rusia, mengatakan Rusia akan memberikan akses kepada pengawas internasional ke pangkalan udara militer Shayrat, kantor berita TASS melaporkan.

“Para ahli menyadari bahwa tidak mungkin untuk menyembunyikan jejak senjata kimia,” kata Kolonel Jenderal Rudskoy.

Dia mengatakan pemerintah Suriah, juga siap untuk memberikan akses ke para ahli dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) ke pangkalan militer.

Pejabat militer Rusia juga mengatakan pemerintah Suriah tidak dalam kepemilikan senjata kimia. Dia mengatakan militan anti-Damaskus mengalami kekalahan demi kekalahan di wilayah-wilayah yang mereka duduki.

“Dalam keadaan seperti itu, pemerintah [Presiden Suriah] Bashar Assad tidak perlu menggunakan senjata kimia. Selain itu, tentara Suriah tidak memiliki,” katanya.

Kolonel Jenderal Rudskoy mengatakan klaim bahwa pemerintah Assad berada di balik serangan kimia adalah “lelucon belaka.”

Pada 2013, Rusia menengahi kesepakatan dengan AS atas senjata kimia Suriah yang diserahkan di bawah pengawasan PBB, dan sebagai imbalan penghentian rencana AS yang akan menyerang Suriah saat itu. Tugas untuk menghapus senjata kimia Suriah dilakukan oleh OPCW.

Rudskoy mengatakan di bawah kesepakatan itu, pemerintah Suriah sepenuhnya menghancurkan semua senjata kimia yang dimilikinya.

“Setidaknya ada 12 fasilitas yang digunakan untuk menyimpan dan memproduksi senjata kimia. Sepuluh fasilitas telah dihancurkan seperti yang ditegaskan oleh para ahli OPCW. Pemerintah Suriah tidak memiliki akses ke dua fasilitas sisanya karena kedua fasilitas itu terletak di wilayah yang dikuasai oleh pemberontak oposisi,” kata pejabat Rusia seperti yang dikutip Sputnik.

Dia mengatakan masih belum jelas apakah senjata kimia yang disimpan di dua fasilitas telah hancur.

“Tidak ada fakta yang menyatakan produksi atau kepemilikan bahan kimia [oleh pemerintah Suriah] ditemukan,” Rudskoy menekankan, dan menambahkan bahwa “Suriah tidak memiliki senjata kimia” dan fakta ini “didokumentasikan dan dikonfirmasi oleh perwakilan OPCW.”

Sebelumnya pada hari Selasa, Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan serangan di Khan Shaykhun sebagai operasi “bendera palsu” yang bertujuan merongrong pemerintah Suriah dan memperingatkan ancaman insiden serupa di masa depan, yang mungkin akan menargetkan pinggiran kota Damaskus.

Rancangan resolusi kontroversial di DK PBB

Sementara itu, rancangan resolusi telah diusulkan oleh Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat untuk diteruskan ke Dewan Keamanan PBB, yang menyerukan penyelidikan atas “serangan kimia” di Suriah.

Sebuah suara pada rancangan resolusi diharapkan akan diberikan pada Rabu, pukul 1900 GMT.

Menurut AFP, rancangan resolusi mengungkapkan dugaan “horor” atas penggunaan senjata kimia di Khan Shaykhun dan mengutuk dugaan serangan 4 April lalu.

Draf itu juga menyerukan kepada pemerintah Suriah untuk memberikan berbagai informasi militer rahasia, termasuk catatan penerbangan dan informasi militer yang sama mengenai operasi pada 4 April, serta menuntut nama-nama komandan militer yang terlibat dalam operasi pada hari itu.

Teks resolusi juga menyerukan Suriah untuk memberikan akses ke pangkalan udara militer ke penyelidik PBB. [ARN]

About ArrahmahNews (12216 Articles)

Media Pencerahan Rakyat

1 Trackback / Pingback

  1. Rusia: Stop Politisasi Organisasi Pelarangan Senjata Kimia – VOA ISLAM NEWS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: