Berita Terbaru

Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Kedua)

Paham Radikal Masuk ke Desa-desa

Senin, 22 Mei 2017

ARRAHMAHNEWS.COM, JAKARTA – Suatu malam, saya dijemput seorang pria berkopiah hitam dan bersarung. Dengan berkendaraan roda empat, pria kelahiran 1986 ini menemui saya di hotel tempat saya tinggal.

Kami sebelumnya memang sudah berjanji untuk bertemu, setelah saya memperoleh informasi pria ini adalah sosok penting di balik demonstrasi seorang ulama yang dilabeli Wahabi.

Maltuful Anam, perawakannya agak gemukan, tembem. Kulitnya agak gelap. Dia mengenakan kemeja batik warna biru.

“Berangkat dari kegelisahan sahabat-sahabat dan teman-teman ketika melihat banyak paham-paham radikal Wahabi masuk desa-desa di Pamekasan, bukan hanya di kotanya,” Maltuful Anam menjelaskan alasan pendirian organisasi Gesper. [Baca; Aliran Sesat Wahabi dan Wajah Islam Moderat di Indonesia (Bagian Pertama)]

Membelah jalan-jalan sempit pinggiran kota itu, dan dihibur alunan musik qosidah, kami kemudian menuju pondok pesantren Panyepen di mana dia menjadi salah-satu seorang pengajarnya.

Seperti yang dirasakan Hakim Jayli dan warga NU lainnya, dan sebagian pejabat pemerintah Indonesia, alumni S2 Bahasa Arab di Universitas Islam negeri Sunan Ampel Surabaya ini pun meyakini adanya kebangkitan kelompok Islam radikal.

“Berangkat dari kegelisahan sahabat-sahabat dan teman-teman ketika melihat banyak paham-paham radikal Wahabi masuk desa-desa di Pamekasan, bukan hanya di kotanya,” Maltuf menjelaskan alasan kenapa dia mendirikan organisasi Gerakan santri pemuda rahmatan lil alamin alias Gesper.

Gesper, seperti diketahui, berada di balik aksi-aksi demonstrasi menolak apa yang mereka sebut sebagai aliran Wahabi atau Salafi di Pamekasan.

Suasana di depan Pondok pesantren Kebun Baru di pinggiran Kota Pamekasan, Madura.

Maltuf – demikian panggilalan akrabnya – mengaku melahirkan Gesper karena dirinya “tidak bisa menggerakkan NU lantaran tidak berada dalam strukturnya”.

Mantan aktivis PMII ini kemudian membayangkan, jika benih-benih radikal itu dibiarkan tumbuh dan membesar, tragedi di Suriah bisa terjadi di Madura. “Kita tidak menginginkan itu,” katanya.

’Surga sudah dikavling oleh mereka’

Dari kekhawatiran seperti itulah, Maltuf kemudian mengaku memperoleh kabar bahwa ada seorang ulama dari luar Madura akan berceramah di masjid Ridwan, Pamekasan.

Ulama tersebut, menurutnya, dalam berbagai ceramahnya sering menganggap tradisi yang selama ini dikerjakan warga NU kebanyakan sebagai bertentangan dengan ajaran Islam.

“Kita ziarah ke Wali Songo, kayaknya salah. Kita ziarah ke para kiayi, minta barokah kepada kiai, sepertinya salah. Dalam pandangan mereka dianggap bidah. Masak kita dijustifikasi sebagai penganut bidah yang nantinya akan masuk ke neraka,” ujarnya.

Dua warga Muslim tengah berdoa di sebuah kuburan seorang ulama di Surabaya, 17 Juni 2015.

Saat wawancara berlangsung, suara jangkrik dan suara-suara santri yang tengah istirahat di halaman depan pesantren menyusup ke dalam ruangan. Juga lamat-lamat terdengar suara orang membaca kitab suci, sementara malam terus merayap.

“Lalu, surga seolah-olah sudah dikavling oleh mereka. Kita ini enggak kebagian surga. Kayaknya tanah-tanah yang ada di surga sudah ada sertifikat mereka semua. Nah, itu yang bikin pusing kita.”

Maltuf kemudian tertawa ringan. Saya kemudian minta pamit.

Tanggapan pimpinan masjid Ridwan

Keesokan harinya, saya menemui pimpinan Masjid Ridwan, Hanif Thalib, di rumahnya yang terletak di jalan Diponegoro, tidak jauh dari toko emas miliknya, di pusat kota Pamekasan.

Terletak agak menjorok ke dalam, halaman rumah Hanif ditumbuhi beberapa pohon rindang. Sebuah mobil ambulans – dengan tulisan Yayasan Masjid Ridwan – diparkir di salah-satu sudutnya. “Ambulan ini gratis bagi warga Pamekasan yang membutuhkan,” ungkapnya.

Hanif, kelahiran 1958, memelihara kumis dan brewok panjang – yang sebagian memutih. Dia terlihat ramah dan mempersilakan saya duduk sekaligus menawari saya kopi jahe panas.

Sebelum saya datang ke kotanya, dia mengaku sudah dihubungi sejumlah wartawan di Pamekasan bahwa saya akan mewawancarainya terkait unjuk rasa di dekat masjid miliknya.

Kepada wartawan itu, sarjana Fakultas Ekonomi sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Jatim ini mengaku enggan diwawancarai. “Saya tidak mau persoalan itu diungkit lagi.”

Tapi pagi itu Hanif tidak menolak untuk saya wawancarai. “Saya bukan ustad.” Saya memang sempat memanggilnya ‘ustad’ yang berarti guru agama diawal percakapan. Saya mengiyakan dan kami kemudian tertawa kecil.

Hanif Thalib, kelahiran 1958, adalah pimpinan masjid Ridwan di Pamekasan. “Saya akan terus berdakwah, tapi akan lebih hati-hati terutama ketika menyinggung khilafiyah,” katanya.

Berulang-ulang dia meminta agar saya menulis laporan ini dengan hati-hati, karena dia tidak ingin masalah ini muncul lagi ke permukaan.

Semuanya sudah diselesaikan dengan baik-baik dan melibatkan pula pemerintah kota Pamekasan, katanya.

Dia juga menggarisbawahi bahwa unjuk rasa itu muncul bukan karena keberadaan masjidnya. “Tapi ustad yang kami undang itu pernah ngomong soal Maulud (Nabi Muhammad SAW), itu sudah lama diunggah di Youtube,” ungkapnya.

Saat wawancara berlangsung, ada tiga atau empat anggota keluarga dekatnya duduk di dekat kami. Diantara mereka ada yang menginterupsi ketika saya bertanya soal gejala radikalisasi di kalangan anak muda. Mereka juga menyela dengan melontarkan persoalan politik di seputar pemilukada Jakarta dan pilpres 2014.

Suasana sholat Jumat di masjid Ridwan, Pamekasan, Jumat (29/04/2016) lalu. Seorang ulama yang diundang sebagai penceramah di masjid ini ditolak kehadirannya oleh para santri NU yang tergabung dalam kelompok Gesper pada Maret 2015 lalu.

Dengan tetap terlihat sopan, Hanif kemudian mempersilakan saya meneruskan wawancara. Dia mengaku tetap akan menggelar acara dakwah di masjidnya, misalnya mengundang pembicara dari luar Pamekasan, tetapi dia akan lebih hati-hati ketika menyangkut khilafiyah.

“Ya urusan orang tidak suka, kita masak tanya satu-satu, ‘kan ndak mungkin,” kata Hanif.

“Jadi kita (tetap) berdakwah apa yang menurut kita baik buat masyarakat, masalah akhlak, masalah kesyirikan…”

Namun demikian, sambungnya cepat-cepat, apabila materi dakwahnya menyinggung soal khilafiyah akan digelar tertutup atau untuk kalangan internal. “Misalnya digelar di dalam masjid Ridwan, itu ‘kan untuk internal,” jelasnya. Bersambung.. Klik Disini [ARN]

Sumber: BBC.

About ArrahmahNews (10030 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: